Persoalan tasyayu' menjadi perdebatan sengit diantara umat Islam sedari dulu hingga sekarang. Berbagai pendapat saling tumpang tindih. Sebagian melihat syi'ah sebagai salah satu kelompok yang muncul pada masa booming ideology yang melanda umat Islam karena sebab perbedaan keyakinan yang muncul akibat pertikaian politik, yang terjadi kurang dari setengah abad pasca hijrah Rasulullah ke Madinah. Karena itulah sebagian kalangan menganggap Syi'ah muncul karena sebab politik. Diantara pendukung thesis ini adalah bapak Syafi'I Ma'arif, mantan ketua PP Muhammadiyah.
Tragedy demi tragedy datang silih berganti menimpa umat ini, mengakibatkan perpecahan umat Islam ke dalam pelbagai kelompok yang saling berperang, saling menghalalkan darah saudarannya. Masing-masing kelompok berkeyakinan bahwa hanya kelompoknya sajalah yang benar dan lawannya salah. Kemudian masing-masing berlomba menguatkan bangunan teorinya dengan takwil sebagian teks suci.
Dalam perkembangan selanjutnya, ibarat benang, ideologi umat semakin kusut. Para ideolog masing-masing kelompok, dan didukung pendukung fanatiknya, semakin berani bermain-main dengan hadits Nabi. Memproduksi hadits yang mendukung pandangan ideologinya dan mengecam kelompok lain. Akibatnya, muncul ribuan hadits palsu. Diantaranya: "Di dalam umatku akan muncul sekelompok yang disebut dengan rawafidh, bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang musyrik."
Padahal, seperti yang jamak dikenal di kalangan peneliti al-firaq al-islamiyah bahwa kata Rafidhah disematkan oleh Zaid bin Ali bin Husein kepada orang-orang yang memisahkan diri darinya dalam gerakan perlawanannya menentang dinasti Umayah. Kosa kata ini, ataupun nama-nama lain yang disematkan kepada kelompok-kelompok yang berbeda dengan keyakinan mainstream tidak dikenal di zaman Nabi saw. Diantara hadits lain yang tampak seperti mutawatir karena diriwayatkan oleh hampir semua kelompok adalah hadits perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya binasa kecuali satu. Dan, semua kelompok berusaha membuktikan bahwa kelompoknya sajalah yang dimaksud dengan kelompok yang selamat, selainnya celaka, di neraka.
Seiring dengan perjalanan waktu keyakinan seperti ini mulai terpatri kuat dalam bangunan ideology umat. Riwayat-riwayat buatan tersebut dimasukan ke dalam buku-buku hadits yang dibacakan seolah-olah berasal dari ucapan Nabi saaw. Padahal, berbagai nama dan istilah tersebut belum dikenal di masa risalah dan beberapa masa sesudahnya. Tidak pula tersiar melainkan setelah perang kata-kata antara mutakallimin memuncak pasca infiltrasi kebudayaan-kebudayaan asing ke dalam peradaban islam melalui gerakan penterjemahan. Setiap madrasah mulai membentuk filsafatnya masing-masing dalam bangunan theologinya. Memanfaatkan istilah-istilah yang diperkaya oleh filsafat dan pemikiran Yunani, Persia, India dll.
Ketika gerakan tadwin mulai menapaki masa keemasannya, para pemikir islam masuk ke setiap ranah ilmu pengetahuan. Tidak terkecuali kaum mutakallim. Saat itu, para pengikuti madrasah kalam mulai memasuki perdebatan sengit dalam bidang khilafah dan tata cara pemerintahan. Ketika memasuki penulisan kelompok-kelompok dan madzhab-madzhab islam, mayoritas penulis dalam bidang ini, seperti asy-syahristan dan al-bagdadi dan lainnya dari kalangan mainstream mewakili keinginan mayoritas menamakan dirinya dengan istilah ahlussunah wal jama'ah. Semua karangan pada masa itu terfokus pada satu point tertentu. Yaitu membatasi golongan islam pada tujuh puluh tiga golongan. Menerangkan kesesatan tujuh puluh dua golongan dan membuktikan bahwa golongan yang mewakili mayoritas adalah golongan yang selamat. Dan selainnya, termasuk diantaranya Syi'ah, hanyalah kelompok sempalan yang jauh dari kebenaran.
Untuk membuktikan thesis tersebut ragam pendapat tentang munculnya Syi'ah dan ideology anutannya diangkat ke permukaan. Terkadang dinisbatkan kepada Ibnu Saba' yang mengambil aqidahnya dari Yahudi. Atau, kepada kebudayaan Persia yang ide-idenya terinspirasi oleh theology Majusi. Di saat yang lain disebutkan bahwa Syi'ah adalah kelompok yang terbentuk sebagai reaksi atas penindasan yang menimpa keluarga suci Nabi saaw seperti tragedy Karbala dan, sebelumnya, syahidnya Imam Ali dan Imam Hasan. Sebagian yang lain menyandarkannya kepada peristiwa yang terjadi pasca Saqifah. Sebagian lagi menganggapnya pada zaman Usman dan pelbagai fitnah yang terjadi masa itu. Ada pula yang menyandarkannya pada perang Jamal, atau Shiffin, atau setelah syahidnya imam Husein. Demikianlah carut marutnya pendapat tentang sejarah kemunculan Syi'ah.
Munculnya beragam pendapat tentang awal merekahnya benih tasyayu' ini disebabkan ketidaktahuan mereka akan hakekat tasyayu' sebagai aliran yang mencerminkan Islam dengan segala penampilan dan ideologinya. Bahwa tasyayu' bukan peristiwa baru yang mampir kedalam pemikiran umat Islam. Atau sebagai ideology import dari salah satu bangsa. Tetapi, tasyayu' adalah murni aqidah Islam dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Benihnya ditanam oleh Rasulullah saaw, berkembang dari hari ke hari dan disirami oleh Ahlulbaitnya saaw. Rasulullah saaw lah yang menyematkan kata Syi'ah kepada para pengikut Ali. Demikian seperti di laporkan oleh Jalaluddin Suyuthi dalam kitab tafsirnya ad-Dur al-Mantsûr ketika menafsirkan ayat ulâika hum khairul bayyinah dari surat al-Bayyinat.
Para tokoh Ahlulbait as telah sering menjelaskan ajaran-ajaran tasyayu', menghilangkan semua keraguan, serta memerangi para penyusup yang akan merusak kemurnian tasyayu', membuka kedok orang-orang yang bersembunyi dibalik nama Ahlulbait as untuk mencapai tujuan lain yaitu menghancurkan Islam. Demikian seperti dilaporkan oleh Musthafa Syak'ah dalam bukunya Islâm bilâ madzâhib (Islam tanpa madzhab).
Dari sinilah terjadi kesalahpahaman dalam sebagian kalangan. Mereka nisbatkan ideology para penyusup tersebut kepada Syi'ah yang mereka anggap mewakili pemikiran, kecenderungan dan ideology Syi'ah. Pada umumnya mereka menyematkan tuduhan persekongkolan dan pembusukan Islam kepada Syi'ah. Sedemikian rupa sehingga mereka berkata bahwa Syi'ah menjadi pelabuhan bagi setiap pemikiran-pemikiran yang merusak, yang bertujuan memberangus Arabisme dan Islam. Keyakinan seperti inilah yang merasuki Ahmad Amin yang kemudian diamini oleh generasi yang datang sesudahnya.
Satu hal yang patut disesalkan adalah bahwa para penulis kiwari menyandarkan tuduhan-tuduhannya kepada pendapat para penyusup dan musuh Syi'ah. Mereka tidak mau bersusah payah melakukan penelitian tentang hakekat keyakinan golongan yang ditulis melalui khazanah yang diwarisankan para tokohnya. Padahal, di era modern ini seluruh perangkat penelitian ilmiah modern telah tersedia bagi siapa saja yang ingin memperoleh kebenaran secara obyektif.
Sesungguhnya kebersihan niat adalah yang menentukan kejujuran seorang penulis. Bila syarat ini hilang, maka tiada harapan untuk munculnya obyektifitas tulisan-tulisannya. Dan, inilah yang menghinggapi para penulis kita ketika menulis tentang Syi'ah. Nah, untuk mengenal lebih jauh tentang Syi'ah dan Tasyayu' sekaligus membuktikan kebenaran atau kesalahan yang selama ini dialamatkan kepada Syi'ah. saya mengajak Anda untuk membaca buku saya yang baru terbit bertajuk Merajut ukhuwah; memahami Syi’ah. Selamat membaca.
Tragedy demi tragedy datang silih berganti menimpa umat ini, mengakibatkan perpecahan umat Islam ke dalam pelbagai kelompok yang saling berperang, saling menghalalkan darah saudarannya. Masing-masing kelompok berkeyakinan bahwa hanya kelompoknya sajalah yang benar dan lawannya salah. Kemudian masing-masing berlomba menguatkan bangunan teorinya dengan takwil sebagian teks suci.
Dalam perkembangan selanjutnya, ibarat benang, ideologi umat semakin kusut. Para ideolog masing-masing kelompok, dan didukung pendukung fanatiknya, semakin berani bermain-main dengan hadits Nabi. Memproduksi hadits yang mendukung pandangan ideologinya dan mengecam kelompok lain. Akibatnya, muncul ribuan hadits palsu. Diantaranya: "Di dalam umatku akan muncul sekelompok yang disebut dengan rawafidh, bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang musyrik."
Padahal, seperti yang jamak dikenal di kalangan peneliti al-firaq al-islamiyah bahwa kata Rafidhah disematkan oleh Zaid bin Ali bin Husein kepada orang-orang yang memisahkan diri darinya dalam gerakan perlawanannya menentang dinasti Umayah. Kosa kata ini, ataupun nama-nama lain yang disematkan kepada kelompok-kelompok yang berbeda dengan keyakinan mainstream tidak dikenal di zaman Nabi saw. Diantara hadits lain yang tampak seperti mutawatir karena diriwayatkan oleh hampir semua kelompok adalah hadits perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya binasa kecuali satu. Dan, semua kelompok berusaha membuktikan bahwa kelompoknya sajalah yang dimaksud dengan kelompok yang selamat, selainnya celaka, di neraka.
Seiring dengan perjalanan waktu keyakinan seperti ini mulai terpatri kuat dalam bangunan ideology umat. Riwayat-riwayat buatan tersebut dimasukan ke dalam buku-buku hadits yang dibacakan seolah-olah berasal dari ucapan Nabi saaw. Padahal, berbagai nama dan istilah tersebut belum dikenal di masa risalah dan beberapa masa sesudahnya. Tidak pula tersiar melainkan setelah perang kata-kata antara mutakallimin memuncak pasca infiltrasi kebudayaan-kebudayaan asing ke dalam peradaban islam melalui gerakan penterjemahan. Setiap madrasah mulai membentuk filsafatnya masing-masing dalam bangunan theologinya. Memanfaatkan istilah-istilah yang diperkaya oleh filsafat dan pemikiran Yunani, Persia, India dll.
Ketika gerakan tadwin mulai menapaki masa keemasannya, para pemikir islam masuk ke setiap ranah ilmu pengetahuan. Tidak terkecuali kaum mutakallim. Saat itu, para pengikuti madrasah kalam mulai memasuki perdebatan sengit dalam bidang khilafah dan tata cara pemerintahan. Ketika memasuki penulisan kelompok-kelompok dan madzhab-madzhab islam, mayoritas penulis dalam bidang ini, seperti asy-syahristan dan al-bagdadi dan lainnya dari kalangan mainstream mewakili keinginan mayoritas menamakan dirinya dengan istilah ahlussunah wal jama'ah. Semua karangan pada masa itu terfokus pada satu point tertentu. Yaitu membatasi golongan islam pada tujuh puluh tiga golongan. Menerangkan kesesatan tujuh puluh dua golongan dan membuktikan bahwa golongan yang mewakili mayoritas adalah golongan yang selamat. Dan selainnya, termasuk diantaranya Syi'ah, hanyalah kelompok sempalan yang jauh dari kebenaran.
Untuk membuktikan thesis tersebut ragam pendapat tentang munculnya Syi'ah dan ideology anutannya diangkat ke permukaan. Terkadang dinisbatkan kepada Ibnu Saba' yang mengambil aqidahnya dari Yahudi. Atau, kepada kebudayaan Persia yang ide-idenya terinspirasi oleh theology Majusi. Di saat yang lain disebutkan bahwa Syi'ah adalah kelompok yang terbentuk sebagai reaksi atas penindasan yang menimpa keluarga suci Nabi saaw seperti tragedy Karbala dan, sebelumnya, syahidnya Imam Ali dan Imam Hasan. Sebagian yang lain menyandarkannya kepada peristiwa yang terjadi pasca Saqifah. Sebagian lagi menganggapnya pada zaman Usman dan pelbagai fitnah yang terjadi masa itu. Ada pula yang menyandarkannya pada perang Jamal, atau Shiffin, atau setelah syahidnya imam Husein. Demikianlah carut marutnya pendapat tentang sejarah kemunculan Syi'ah.
Munculnya beragam pendapat tentang awal merekahnya benih tasyayu' ini disebabkan ketidaktahuan mereka akan hakekat tasyayu' sebagai aliran yang mencerminkan Islam dengan segala penampilan dan ideologinya. Bahwa tasyayu' bukan peristiwa baru yang mampir kedalam pemikiran umat Islam. Atau sebagai ideology import dari salah satu bangsa. Tetapi, tasyayu' adalah murni aqidah Islam dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Benihnya ditanam oleh Rasulullah saaw, berkembang dari hari ke hari dan disirami oleh Ahlulbaitnya saaw. Rasulullah saaw lah yang menyematkan kata Syi'ah kepada para pengikut Ali. Demikian seperti di laporkan oleh Jalaluddin Suyuthi dalam kitab tafsirnya ad-Dur al-Mantsûr ketika menafsirkan ayat ulâika hum khairul bayyinah dari surat al-Bayyinat.
Para tokoh Ahlulbait as telah sering menjelaskan ajaran-ajaran tasyayu', menghilangkan semua keraguan, serta memerangi para penyusup yang akan merusak kemurnian tasyayu', membuka kedok orang-orang yang bersembunyi dibalik nama Ahlulbait as untuk mencapai tujuan lain yaitu menghancurkan Islam. Demikian seperti dilaporkan oleh Musthafa Syak'ah dalam bukunya Islâm bilâ madzâhib (Islam tanpa madzhab).
Dari sinilah terjadi kesalahpahaman dalam sebagian kalangan. Mereka nisbatkan ideology para penyusup tersebut kepada Syi'ah yang mereka anggap mewakili pemikiran, kecenderungan dan ideology Syi'ah. Pada umumnya mereka menyematkan tuduhan persekongkolan dan pembusukan Islam kepada Syi'ah. Sedemikian rupa sehingga mereka berkata bahwa Syi'ah menjadi pelabuhan bagi setiap pemikiran-pemikiran yang merusak, yang bertujuan memberangus Arabisme dan Islam. Keyakinan seperti inilah yang merasuki Ahmad Amin yang kemudian diamini oleh generasi yang datang sesudahnya.
Satu hal yang patut disesalkan adalah bahwa para penulis kiwari menyandarkan tuduhan-tuduhannya kepada pendapat para penyusup dan musuh Syi'ah. Mereka tidak mau bersusah payah melakukan penelitian tentang hakekat keyakinan golongan yang ditulis melalui khazanah yang diwarisankan para tokohnya. Padahal, di era modern ini seluruh perangkat penelitian ilmiah modern telah tersedia bagi siapa saja yang ingin memperoleh kebenaran secara obyektif.
Sesungguhnya kebersihan niat adalah yang menentukan kejujuran seorang penulis. Bila syarat ini hilang, maka tiada harapan untuk munculnya obyektifitas tulisan-tulisannya. Dan, inilah yang menghinggapi para penulis kita ketika menulis tentang Syi'ah. Nah, untuk mengenal lebih jauh tentang Syi'ah dan Tasyayu' sekaligus membuktikan kebenaran atau kesalahan yang selama ini dialamatkan kepada Syi'ah. saya mengajak Anda untuk membaca buku saya yang baru terbit bertajuk Merajut ukhuwah; memahami Syi’ah. Selamat membaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar