Senin, 24 Maret 2008

AKU DI SINI




Ketika perompak di jalan Tuhan menjual ayat-ayat suci
ketika agamawan mempermainkan hadits-hadits Nabi
ketika fatwa sesat diikuti
ketika perbedaan dikafiri
ketika minoritas didzalimi
aku harus ada di sini...

MELACAK SEJARAH TASYAYU'

Persoalan tasyayu' menjadi perdebatan sengit diantara umat Islam sedari dulu hingga sekarang. Berbagai pendapat saling tumpang tindih. Sebagian melihat syi'ah sebagai salah satu kelompok yang muncul pada masa booming ideology yang melanda umat Islam karena sebab perbedaan keyakinan yang muncul akibat pertikaian politik, yang terjadi kurang dari setengah abad pasca hijrah Rasulullah ke Madinah. Karena itulah sebagian kalangan menganggap Syi'ah muncul karena sebab politik. Diantara pendukung thesis ini adalah bapak Syafi'I Ma'arif, mantan ketua PP Muhammadiyah.
Tragedy demi tragedy datang silih berganti menimpa umat ini, mengakibatkan perpecahan umat Islam ke dalam pelbagai kelompok yang saling berperang, saling menghalalkan darah saudarannya. Masing-masing kelompok berkeyakinan bahwa hanya kelompoknya sajalah yang benar dan lawannya salah. Kemudian masing-masing berlomba menguatkan bangunan teorinya dengan takwil sebagian teks suci.
Dalam perkembangan selanjutnya, ibarat benang, ideologi umat semakin kusut. Para ideolog masing-masing kelompok, dan didukung pendukung fanatiknya, semakin berani bermain-main dengan hadits Nabi. Memproduksi hadits yang mendukung pandangan ideologinya dan mengecam kelompok lain. Akibatnya, muncul ribuan hadits palsu. Diantaranya: "Di dalam umatku akan muncul sekelompok yang disebut dengan rawafidh, bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang musyrik."
Padahal, seperti yang jamak dikenal di kalangan peneliti al-firaq al-islamiyah bahwa kata Rafidhah disematkan oleh Zaid bin Ali bin Husein kepada orang-orang yang memisahkan diri darinya dalam gerakan perlawanannya menentang dinasti Umayah. Kosa kata ini, ataupun nama-nama lain yang disematkan kepada kelompok-kelompok yang berbeda dengan keyakinan mainstream tidak dikenal di zaman Nabi saw. Diantara hadits lain yang tampak seperti mutawatir karena diriwayatkan oleh hampir semua kelompok adalah hadits perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya binasa kecuali satu. Dan, semua kelompok berusaha membuktikan bahwa kelompoknya sajalah yang dimaksud dengan kelompok yang selamat, selainnya celaka, di neraka.
Seiring dengan perjalanan waktu keyakinan seperti ini mulai terpatri kuat dalam bangunan ideology umat. Riwayat-riwayat buatan tersebut dimasukan ke dalam buku-buku hadits yang dibacakan seolah-olah berasal dari ucapan Nabi saaw. Padahal, berbagai nama dan istilah tersebut belum dikenal di masa risalah dan beberapa masa sesudahnya. Tidak pula tersiar melainkan setelah perang kata-kata antara mutakallimin memuncak pasca infiltrasi kebudayaan-kebudayaan asing ke dalam peradaban islam melalui gerakan penterjemahan. Setiap madrasah mulai membentuk filsafatnya masing-masing dalam bangunan theologinya. Memanfaatkan istilah-istilah yang diperkaya oleh filsafat dan pemikiran Yunani, Persia, India dll.
Ketika gerakan tadwin mulai menapaki masa keemasannya, para pemikir islam masuk ke setiap ranah ilmu pengetahuan. Tidak terkecuali kaum mutakallim. Saat itu, para pengikuti madrasah kalam mulai memasuki perdebatan sengit dalam bidang khilafah dan tata cara pemerintahan. Ketika memasuki penulisan kelompok-kelompok dan madzhab-madzhab islam, mayoritas penulis dalam bidang ini, seperti asy-syahristan dan al-bagdadi dan lainnya dari kalangan mainstream mewakili keinginan mayoritas menamakan dirinya dengan istilah ahlussunah wal jama'ah. Semua karangan pada masa itu terfokus pada satu point tertentu. Yaitu membatasi golongan islam pada tujuh puluh tiga golongan. Menerangkan kesesatan tujuh puluh dua golongan dan membuktikan bahwa golongan yang mewakili mayoritas adalah golongan yang selamat. Dan selainnya, termasuk diantaranya Syi'ah, hanyalah kelompok sempalan yang jauh dari kebenaran.
Untuk membuktikan thesis tersebut ragam pendapat tentang munculnya Syi'ah dan ideology anutannya diangkat ke permukaan. Terkadang dinisbatkan kepada Ibnu Saba' yang mengambil aqidahnya dari Yahudi. Atau, kepada kebudayaan Persia yang ide-idenya terinspirasi oleh theology Majusi. Di saat yang lain disebutkan bahwa Syi'ah adalah kelompok yang terbentuk sebagai reaksi atas penindasan yang menimpa keluarga suci Nabi saaw seperti tragedy Karbala dan, sebelumnya, syahidnya Imam Ali dan Imam Hasan. Sebagian yang lain menyandarkannya kepada peristiwa yang terjadi pasca Saqifah. Sebagian lagi menganggapnya pada zaman Usman dan pelbagai fitnah yang terjadi masa itu. Ada pula yang menyandarkannya pada perang Jamal, atau Shiffin, atau setelah syahidnya imam Husein. Demikianlah carut marutnya pendapat tentang sejarah kemunculan Syi'ah.
Munculnya beragam pendapat tentang awal merekahnya benih tasyayu' ini disebabkan ketidaktahuan mereka akan hakekat tasyayu' sebagai aliran yang mencerminkan Islam dengan segala penampilan dan ideologinya. Bahwa tasyayu' bukan peristiwa baru yang mampir kedalam pemikiran umat Islam. Atau sebagai ideology import dari salah satu bangsa. Tetapi, tasyayu' adalah murni aqidah Islam dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Benihnya ditanam oleh Rasulullah saaw, berkembang dari hari ke hari dan disirami oleh Ahlulbaitnya saaw. Rasulullah saaw lah yang menyematkan kata Syi'ah kepada para pengikut Ali. Demikian seperti di laporkan oleh Jalaluddin Suyuthi dalam kitab tafsirnya ad-Dur al-Mantsûr ketika menafsirkan ayat ulâika hum khairul bayyinah dari surat al-Bayyinat.
Para tokoh Ahlulbait as telah sering menjelaskan ajaran-ajaran tasyayu', menghilangkan semua keraguan, serta memerangi para penyusup yang akan merusak kemurnian tasyayu', membuka kedok orang-orang yang bersembunyi dibalik nama Ahlulbait as untuk mencapai tujuan lain yaitu menghancurkan Islam. Demikian seperti dilaporkan oleh Musthafa Syak'ah dalam bukunya Islâm bilâ madzâhib (Islam tanpa madzhab).
Dari sinilah terjadi kesalahpahaman dalam sebagian kalangan. Mereka nisbatkan ideology para penyusup tersebut kepada Syi'ah yang mereka anggap mewakili pemikiran, kecenderungan dan ideology Syi'ah. Pada umumnya mereka menyematkan tuduhan persekongkolan dan pembusukan Islam kepada Syi'ah. Sedemikian rupa sehingga mereka berkata bahwa Syi'ah menjadi pelabuhan bagi setiap pemikiran-pemikiran yang merusak, yang bertujuan memberangus Arabisme dan Islam. Keyakinan seperti inilah yang merasuki Ahmad Amin yang kemudian diamini oleh generasi yang datang sesudahnya.
Satu hal yang patut disesalkan adalah bahwa para penulis kiwari menyandarkan tuduhan-tuduhannya kepada pendapat para penyusup dan musuh Syi'ah. Mereka tidak mau bersusah payah melakukan penelitian tentang hakekat keyakinan golongan yang ditulis melalui khazanah yang diwarisankan para tokohnya. Padahal, di era modern ini seluruh perangkat penelitian ilmiah modern telah tersedia bagi siapa saja yang ingin memperoleh kebenaran secara obyektif.
Sesungguhnya kebersihan niat adalah yang menentukan kejujuran seorang penulis. Bila syarat ini hilang, maka tiada harapan untuk munculnya obyektifitas tulisan-tulisannya. Dan, inilah yang menghinggapi para penulis kita ketika menulis tentang Syi'ah. Nah, untuk mengenal lebih jauh tentang Syi'ah dan Tasyayu' sekaligus membuktikan kebenaran atau kesalahan yang selama ini dialamatkan kepada Syi'ah. saya mengajak Anda untuk membaca buku saya yang baru terbit bertajuk Merajut ukhuwah; memahami Syi’ah. Selamat membaca.

SYIAH-SUNNAH, BERTIKAI ?

Pasca invasi Amerika ke Irak, berita tentang konflik saktarian Sunni-Syiah seolah menjadi menu wajib media massa kita. Harian Kompas dalam tajuk rencananya Sabtu 17 Maret 2007, memuat laporan triwulan Departemen Pertahanan AS khusus mengenai perang Irak yang diserahkan kepada Konggres AS. Dalam laporannya tersebut Pentagon mengakui tengah terjadinya konflik saktarian antara Sunni dan Syiah yang sudah berlangsung hampir 1.400 tahun.
Persoalanya di sini adalah benarkah konflik Sunni-Syiah di Irak terjadi semata-mata karena perbedaan madzhab? Tulisan ini ingin menyoroti pilihan kata konflik saktarian Sunni-Syiah yang selalu menghiasi media massa kita. Agar kita dapat memahami duduk persoalan yang sebenarnya terjadi di Irak.

Fenomena alami

Umat Islam, dalam memahami dan menjalankan aturan agamannya (fikih) terbagi dalam berbagai madzhab. Di dalam kelompok Sunni ada madzhab Maliki, Hanafi, Syafi'I dan Hambali yang terkenal dengan sebutan madzhab yang empat (al-madzâhib al-arba'ah). Adapun yang terkenal dan masih bertahan dalam kelompok Syiah adalah madzhab Ja'fari, Zaidi, Ismaili.
Dalam kacamata Islam, perbedaan madzhab merupakan fenomena klasik dan alami. Rasulullah sendiri bersabda, "ikhtilafu ummati rahmatun." Dalam makna lahir hadits itu berarti; Perbedaan yang terjadi diantara umatku adalah rahmat. Dalam makna bathin, kata ikhtilâf di situ bukan berarti perbedaan. Tapi, (1) Saling berkunjung dan bertukar ilmu pengetahuan antara satu dengan yang lain (2) Pulang pergi dari satu ulama ke ulama yang lain untuk beroleh ilmu pengetahuan. Bagi pendukung makna yang kedua berdalih; bagaimana mungkin ikhtilaf menjadi rahmat, bukankah yang terjadi dalam sejarah, seperti yang diperagakan oleh para sahabat Nabi, ikhtilah justru menjadi bencana?
Saya tidak akan masuk ke dalam ikhtilâf pemaknaan hadits di atas. Biarlah itu saya serahkan kepada para ahli bahasa dalam mencari makna yang pas bagi kata ikhtilaf. Namun yang jelas, dan tidak seorangpun mengingkarinya, bahwa perbedaan terjadi bahkan di saat Nabi Muhammad saaw. masih hidup sekalipun. (Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih, 2003). Menurut Jawad Mughniyyah, seorang ulama Syi'ah Lebanon, perbedaan terjadi dikarenakan kita adalah manusia bukan karena yang satu Sunni dan yang lainnya Syiah, yang satu Syafi’I dan yang lainnya Hambali (Jawad Mugniyyah, as-syi'ah fil mizan, 1979). Perbedaan terjadi tidak hanya antara Sunni dan Syiah. Diantara madzhab yang empat sekalipun terjadi perbedaan, bahkan perbedaan yang terjadi diantara sesama madzhab Sunni terkadang lebih tajam dari perbedaannya dengan Syiah, tulis Mughniyah dalam bukunya yang lain al-fiqh 'alal madzahibil khamsah (Fikih Lima Madzhab).
Karena itu, Musthafa Syak'ah, seorang ulama cendikia Mesir, dalam bukunya Islam bila madzahib (Islam tanpa madzhab) menggolongkan Syi'ah bersama madzhab-madzhab Ahlussunah ke dalam kelompok moderat. Artinya, bagi Syak'ah, madzhab Syiah sama saja dengan madzhab yang menamakan dirinya dengan Ahlussunah wal jama'ah. Logikanya, bila Ahlussunah benar berarti Syiah juga benar. Dan bila Syiah sesat berarti Ahlussunah juga sesat. Ya to..? Makanya sesama kelompok sesat dilarang saling menyesatkan. He..he...he...

Belajar pada sejarah

Menurut Hasan al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, Mesir. "Perbedaan Sunni-Syiah terletak pada perkara-perkara yang masih bisa diusahakan pendekatan keduanya." Berangkat dari keyakinan tersebut, al-Banna bekerja keras untuk mendekatkan perbedaan kedua komunitas ini. Hasilnya, tercapailah kesepakatan penting antara dirinya sebagai representasi kelompok Sunni dengan Ayatullah Kasyani yang mewakili Syiah untuk saling memahami dan menghilangkan pertentangan Sunah-Syiah. Dan, kesepakatan inilah yang menyebabkan al-Banna dibunuh oleh antek Imperialis. Tulis al-Jubairi, murid al-Banna, dalam limadza ughtila hasan al-banna (mengapa Hasan al-Banna dibunuh).
Laporan al-Jubairi menunjukkan betapa strategisnya langkah yang ditempuh al-Banna. Terciptanya persatuan Sunni-Syiah menjadi ancaman besar bagi kaum Imperialis. Karena itu, konspirasi jahat membunuh sang Imam segera mereka rancang. Dan, dalam usianya yang bisa disebut masih muda, sang Imam syahid mewariskan tugas mulia kepada kita: menciptakan al-wihdah al-islamiyah al-kubra (Persatuan besar umat Islam).
Tugas ini kemudian dilanjutkan oleh Mahmud Syalthut, mantan Rektor al-Azhar, dengan memprakasai berdirinya Darut taqrib bainal madzahibil islamiyah (Rumah Pendekataan Antar Madzhab-Madzhab Islam). Nama ini terinspirasi oleh pernyataan al-Banna di atas, sebagai upaya pendekataan untuk menciptakan rasa saling memahami antar kedua komunitas, Sunni-Syiah.
Saya sekedar menarasikan upaya yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat, dengan beragam madzhab dan golongannya. Hal ini untuk memberikan gambaran kepada kita, umat Islam Indonesia, betapa perang yang saat ini terjadi di Irak bukanlah konflik saktarian Sunni-Syiah yang telah berlangsung selama 1.400 tahun seperti dilaporkan Pentagon di atas. Ini perlu saya tegaskan di sini. Betapa kita selama ini terjebak dalam skenario Imperialis barat (AS dan sekutunya) dalam melihat proses politik yang sedang berlangsung di Irak.
Kaum Syiah dan Sunni di Irak telah hidup berdampingan selama berabad-abad. Saling berinteraksi antara satu sama lain dengan damai. Pertentangan yang terjadi antara mereka lebih disebabkan oleh konspirasi politik kaum Imperialis yang ingin menguras minyak Irak. Akibat politik devide et impera sebagai upaya melemahkan potensi umat Islam bersatu. Tanpa bermaksud mengorbankan permusuhan HAMAS dan FATAH, yang keduanya sama-sama Sunni, mengapa media Imperialis tidak mengangkat isu konfilik saktarian antara kaum Sunni? Atau, dalam kasus Afganistan antara Taliban dengan Aliansi Utara, antara Rabbani dengan Hekmatyar, misalnya, yang juga sama-sama Sunni?

Bercermin pada Irak

Kasus Irak harus menjadi pelajaran penting bagi kita, umat Islam Indonesia. Ancaman disintregasi bangsa ada di hadapan kita. Isyu Sunni-Syi'ah tidak boleh menambah carutmarutnya wajah negri kita. Bahwa Ahlussunah sebagai madzhab mayoritas di Indonesia adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Tetapi, fakta juga membuktikan bahwa tradisi masyarakat Indonesia adalah tradisi Syi'ah. Karena itu Gus Dur menyebut masyarakat Indonesia sebagai Syi'ah kultural. Ajaran Syi'ah menjadi pilihan hidup bagi sebagian umat Islam Indonesia. Kekuatan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagian diantara mereka menggabungkan diri dalam organisasi kemasyarakatan resmi yang dilindungi oleh undang-undang negri kita. Artinya, Syi'ah telah menjadi asset bangsa yang harus dipelihara dan dilindungi, bukan dimusuhi. Tirani mayoritas harus dihindari.
Mereka yang aktif dalam gerakan Syi'ah Indonesia bukanlah Syi'ah keturunan. Mereka memilih Syi'ah sebagai jalan hidup setelah melewati laku spiritual dan intelektual yang panjang. Maka, konsekwensi dari pilihan hidup akan dihadapi dengan semangat karbala. Spirit syahadah Imam Husein menjadi inspirasi perjuangan mereka. Mengalir seperti aliran darah dalam tubuh mereka.
Karena itu, segala bentuk profokasi, fitnah yang seringkali dialamatkan kepada Syi'ah harus dihentikan. Orang yang selalu 'menyanyikan lagu' lama tentang Syi'ah, secara sadar atau tidak, sejatinya menjalankan agenda kaum Imperialis yang ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Toleransi harus ditegakkan pada bangunan umat Islam. Toleransi akan muncul dengan adanya saling memahami antara satu dengan yang lain. Dalam konteks inilah kita mesti meneruskan usaha yang telah dirintis oleh Hasan al-Banna dan Mahmud Syaltut.
Kita memberikan apresiasi kepada KH.Hasyim Muzadi, ketua PBNU, yang menggagas kerjasama Sunni-Syi'ah (Republika 24 Maret 2006). Kita berharap ide ini didukung oleh seluruh komponen bangsa. Jangan sampai berhenti pada tataran wacana saja, tetapi dapat diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat kita yang majemuk. Tokoh Sunnah-Syi'ah harus duduk bersama membicarakan beragam masalah umat, termasuk diantaranya isu-isu perbedaan Sunnah-Syi'ah dengan memakai kekuatan logika. Profokasi-profokasi yang memperkeruh suasana harus segera dihentikan. Seminar Istiqlal tahun 1997 jangan sampai terulang lagi. Para tokoh yang terlibat dalam seminar itu harus segera bertaubat menyadari kesalahannya karena telah menyebarkan fitnah keji tentang Syi'ah.
Kita harus memahami bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan dikarenakan kita adalah manusia, bukan karena yang satu Sunny dan yang lainnya Syi’iy. Apa yang dapat kita lakukan dalam menyingkapi perbedaan alamiah seperti ini adalah dengan memperbaiki kesalahan masa lalu serta melepaskan diri dari fanatisme buta, untuk kemudian menatap masa depan dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan antar sesama.