Pasca invasi Amerika ke Irak, berita tentang konflik saktarian Sunni-Syiah seolah menjadi menu wajib media massa kita. Harian Kompas dalam tajuk rencananya Sabtu 17 Maret 2007, memuat laporan triwulan Departemen Pertahanan AS khusus mengenai perang Irak yang diserahkan kepada Konggres AS. Dalam laporannya tersebut Pentagon mengakui tengah terjadinya konflik saktarian antara Sunni dan Syiah yang sudah berlangsung hampir 1.400 tahun.
Persoalanya di sini adalah benarkah konflik Sunni-Syiah di Irak terjadi semata-mata karena perbedaan madzhab? Tulisan ini ingin menyoroti pilihan kata konflik saktarian Sunni-Syiah yang selalu menghiasi media massa kita. Agar kita dapat memahami duduk persoalan yang sebenarnya terjadi di Irak.
Fenomena alami
Persoalanya di sini adalah benarkah konflik Sunni-Syiah di Irak terjadi semata-mata karena perbedaan madzhab? Tulisan ini ingin menyoroti pilihan kata konflik saktarian Sunni-Syiah yang selalu menghiasi media massa kita. Agar kita dapat memahami duduk persoalan yang sebenarnya terjadi di Irak.
Fenomena alami
Umat Islam, dalam memahami dan menjalankan aturan agamannya (fikih) terbagi dalam berbagai madzhab. Di dalam kelompok Sunni ada madzhab Maliki, Hanafi, Syafi'I dan Hambali yang terkenal dengan sebutan madzhab yang empat (al-madzâhib al-arba'ah). Adapun yang terkenal dan masih bertahan dalam kelompok Syiah adalah madzhab Ja'fari, Zaidi, Ismaili.
Dalam kacamata Islam, perbedaan madzhab merupakan fenomena klasik dan alami. Rasulullah sendiri bersabda, "ikhtilafu ummati rahmatun." Dalam makna lahir hadits itu berarti; Perbedaan yang terjadi diantara umatku adalah rahmat. Dalam makna bathin, kata ikhtilâf di situ bukan berarti perbedaan. Tapi, (1) Saling berkunjung dan bertukar ilmu pengetahuan antara satu dengan yang lain (2) Pulang pergi dari satu ulama ke ulama yang lain untuk beroleh ilmu pengetahuan. Bagi pendukung makna yang kedua berdalih; bagaimana mungkin ikhtilaf menjadi rahmat, bukankah yang terjadi dalam sejarah, seperti yang diperagakan oleh para sahabat Nabi, ikhtilah justru menjadi bencana?
Saya tidak akan masuk ke dalam ikhtilâf pemaknaan hadits di atas. Biarlah itu saya serahkan kepada para ahli bahasa dalam mencari makna yang pas bagi kata ikhtilaf. Namun yang jelas, dan tidak seorangpun mengingkarinya, bahwa perbedaan terjadi bahkan di saat Nabi Muhammad saaw. masih hidup sekalipun. (Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih, 2003). Menurut Jawad Mughniyyah, seorang ulama Syi'ah Lebanon, perbedaan terjadi dikarenakan kita adalah manusia bukan karena yang satu Sunni dan yang lainnya Syiah, yang satu Syafi’I dan yang lainnya Hambali (Jawad Mugniyyah, as-syi'ah fil mizan, 1979). Perbedaan terjadi tidak hanya antara Sunni dan Syiah. Diantara madzhab yang empat sekalipun terjadi perbedaan, bahkan perbedaan yang terjadi diantara sesama madzhab Sunni terkadang lebih tajam dari perbedaannya dengan Syiah, tulis Mughniyah dalam bukunya yang lain al-fiqh 'alal madzahibil khamsah (Fikih Lima Madzhab).
Karena itu, Musthafa Syak'ah, seorang ulama cendikia Mesir, dalam bukunya Islam bila madzahib (Islam tanpa madzhab) menggolongkan Syi'ah bersama madzhab-madzhab Ahlussunah ke dalam kelompok moderat. Artinya, bagi Syak'ah, madzhab Syiah sama saja dengan madzhab yang menamakan dirinya dengan Ahlussunah wal jama'ah. Logikanya, bila Ahlussunah benar berarti Syiah juga benar. Dan bila Syiah sesat berarti Ahlussunah juga sesat. Ya to..? Makanya sesama kelompok sesat dilarang saling menyesatkan. He..he...he...
Belajar pada sejarah
Menurut Hasan al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, Mesir. "Perbedaan Sunni-Syiah terletak pada perkara-perkara yang masih bisa diusahakan pendekatan keduanya." Berangkat dari keyakinan tersebut, al-Banna bekerja keras untuk mendekatkan perbedaan kedua komunitas ini. Hasilnya, tercapailah kesepakatan penting antara dirinya sebagai representasi kelompok Sunni dengan Ayatullah Kasyani yang mewakili Syiah untuk saling memahami dan menghilangkan pertentangan Sunah-Syiah. Dan, kesepakatan inilah yang menyebabkan al-Banna dibunuh oleh antek Imperialis. Tulis al-Jubairi, murid al-Banna, dalam limadza ughtila hasan al-banna (mengapa Hasan al-Banna dibunuh).
Laporan al-Jubairi menunjukkan betapa strategisnya langkah yang ditempuh al-Banna. Terciptanya persatuan Sunni-Syiah menjadi ancaman besar bagi kaum Imperialis. Karena itu, konspirasi jahat membunuh sang Imam segera mereka rancang. Dan, dalam usianya yang bisa disebut masih muda, sang Imam syahid mewariskan tugas mulia kepada kita: menciptakan al-wihdah al-islamiyah al-kubra (Persatuan besar umat Islam).
Tugas ini kemudian dilanjutkan oleh Mahmud Syalthut, mantan Rektor al-Azhar, dengan memprakasai berdirinya Darut taqrib bainal madzahibil islamiyah (Rumah Pendekataan Antar Madzhab-Madzhab Islam). Nama ini terinspirasi oleh pernyataan al-Banna di atas, sebagai upaya pendekataan untuk menciptakan rasa saling memahami antar kedua komunitas, Sunni-Syiah.
Saya sekedar menarasikan upaya yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat, dengan beragam madzhab dan golongannya. Hal ini untuk memberikan gambaran kepada kita, umat Islam Indonesia, betapa perang yang saat ini terjadi di Irak bukanlah konflik saktarian Sunni-Syiah yang telah berlangsung selama 1.400 tahun seperti dilaporkan Pentagon di atas. Ini perlu saya tegaskan di sini. Betapa kita selama ini terjebak dalam skenario Imperialis barat (AS dan sekutunya) dalam melihat proses politik yang sedang berlangsung di Irak.
Kaum Syiah dan Sunni di Irak telah hidup berdampingan selama berabad-abad. Saling berinteraksi antara satu sama lain dengan damai. Pertentangan yang terjadi antara mereka lebih disebabkan oleh konspirasi politik kaum Imperialis yang ingin menguras minyak Irak. Akibat politik devide et impera sebagai upaya melemahkan potensi umat Islam bersatu. Tanpa bermaksud mengorbankan permusuhan HAMAS dan FATAH, yang keduanya sama-sama Sunni, mengapa media Imperialis tidak mengangkat isu konfilik saktarian antara kaum Sunni? Atau, dalam kasus Afganistan antara Taliban dengan Aliansi Utara, antara Rabbani dengan Hekmatyar, misalnya, yang juga sama-sama Sunni?
Bercermin pada Irak
Kasus Irak harus menjadi pelajaran penting bagi kita, umat Islam Indonesia. Ancaman disintregasi bangsa ada di hadapan kita. Isyu Sunni-Syi'ah tidak boleh menambah carutmarutnya wajah negri kita. Bahwa Ahlussunah sebagai madzhab mayoritas di Indonesia adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Tetapi, fakta juga membuktikan bahwa tradisi masyarakat Indonesia adalah tradisi Syi'ah. Karena itu Gus Dur menyebut masyarakat Indonesia sebagai Syi'ah kultural. Ajaran Syi'ah menjadi pilihan hidup bagi sebagian umat Islam Indonesia. Kekuatan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagian diantara mereka menggabungkan diri dalam organisasi kemasyarakatan resmi yang dilindungi oleh undang-undang negri kita. Artinya, Syi'ah telah menjadi asset bangsa yang harus dipelihara dan dilindungi, bukan dimusuhi. Tirani mayoritas harus dihindari.
Mereka yang aktif dalam gerakan Syi'ah Indonesia bukanlah Syi'ah keturunan. Mereka memilih Syi'ah sebagai jalan hidup setelah melewati laku spiritual dan intelektual yang panjang. Maka, konsekwensi dari pilihan hidup akan dihadapi dengan semangat karbala. Spirit syahadah Imam Husein menjadi inspirasi perjuangan mereka. Mengalir seperti aliran darah dalam tubuh mereka.
Karena itu, segala bentuk profokasi, fitnah yang seringkali dialamatkan kepada Syi'ah harus dihentikan. Orang yang selalu 'menyanyikan lagu' lama tentang Syi'ah, secara sadar atau tidak, sejatinya menjalankan agenda kaum Imperialis yang ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Toleransi harus ditegakkan pada bangunan umat Islam. Toleransi akan muncul dengan adanya saling memahami antara satu dengan yang lain. Dalam konteks inilah kita mesti meneruskan usaha yang telah dirintis oleh Hasan al-Banna dan Mahmud Syaltut.
Kita memberikan apresiasi kepada KH.Hasyim Muzadi, ketua PBNU, yang menggagas kerjasama Sunni-Syi'ah (Republika 24 Maret 2006). Kita berharap ide ini didukung oleh seluruh komponen bangsa. Jangan sampai berhenti pada tataran wacana saja, tetapi dapat diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat kita yang majemuk. Tokoh Sunnah-Syi'ah harus duduk bersama membicarakan beragam masalah umat, termasuk diantaranya isu-isu perbedaan Sunnah-Syi'ah dengan memakai kekuatan logika. Profokasi-profokasi yang memperkeruh suasana harus segera dihentikan. Seminar Istiqlal tahun 1997 jangan sampai terulang lagi. Para tokoh yang terlibat dalam seminar itu harus segera bertaubat menyadari kesalahannya karena telah menyebarkan fitnah keji tentang Syi'ah.
Kita harus memahami bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan dikarenakan kita adalah manusia, bukan karena yang satu Sunny dan yang lainnya Syi’iy. Apa yang dapat kita lakukan dalam menyingkapi perbedaan alamiah seperti ini adalah dengan memperbaiki kesalahan masa lalu serta melepaskan diri dari fanatisme buta, untuk kemudian menatap masa depan dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan antar sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar