Tidak seperti aliran-aliran lain yang disesatkan MUI seperti, misalnya, Ahmadiyah, JIL, Pluralisme. Agaknya MUI harus berhitung seribu kali dulu untuk menyesatkan Syiah. Bahwa Syiah adalah realitas yang harus diterima oleh masyarakat Indonesia. Karena itu tampaknya MUI maupun para perompak di jalan Tuhan yang bersembunyi dibalik Jubahnya tidak akan melakukan langkah yang sama pasca seminar istiqlal 1997, ngeluruk ke gedung bundar (KEJAGUNG) mendesak pemerintah melarang syiah di Indonesia. Mungkinkah mereka keder dengan slogan kullu yaumin ‘asyura wa kullu ardhin karbala-nya Syiah?.
Menjamurnya buku-buku Syiah di toko-toko buku, juga bisa dijadikan indikasi semakin diterimanya Syiah sebagai madzhab alternatif di Indonesia. Tak pelak, hal ini membuat para perompak di jalan Tuhan gelisah. Mereka mengkhawatirkan para ‘penumpangnya’ pindah gerbong. Meski tidak secara frontal seperti yang mereka lakukan pada seminar Istiqlal, cara mereka dalam membendung perkembangan Syiah – juga paham lain yang berbeda dengan paham mereka, semisal ahmadiyah, JIL dsb – di Indonesia semakin canggih dan membahayakan tidak saja bagi keberadaan Syiah di Indonesia, tapi juga bagi kesatuan dan persatuan bangsa kita. Fenomena melonjaknya suara salah satu partai yang mengklaim sebagai partai Islam, dalam pemilu 2004 yang lalu, tapi sangat memusuhi Syiah, harus disikapi dengan langkah antisipatif membendung pelbagai hasutan, profokasi, fitnah yang dilontarkan oleh para tokohnya, seperti, salah satunya, Hidayat Nur Wahid. Virus fitnah yang mereka sebar lebih berbahaya dari virus HIV sekalipun. Jangkauan penyebarannya pun sudah merambah seluruh pelosok Nusantara.
Bagi komunitas Syiah yang hidup di pusat-pusat atau kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, misalnya. Mungkin tidak merasakan gesekan yang begitu keras bila berhadapan dengan komunitas lain yang anti Syiah. Disamping karena kultur masyarakat urban yang berbeda dengan dengan daerah. Di pusat-pusat kota, biasanya, para pakar dan asatidz tinggal. Setiap saat siap tampil membela Syiah. Pertanyaan saya sekarang, bagaimana dengan daerah-daerah? Terlebih para “Muallaf” bila harus berhadapan dengan para oknum Kyai dan perompak di jalan Tuhan yang pinter baca kitab gundul?
Dalam penerawangan saya, virus-virus tersebut disebar ke seluruh Indonesia dengan menunggangi jaringan Gontor yang telah menyebar ke seluruh wilayah nusantara hatta yang paling pelosok sekalipun. Selain memakai gontor connection untuk kepentingan partainnya, mereka juga getol menyebarkan kebohongan dan fitnah terhadap Syiah, misi yang dibebankan oleh tuannya orang-orang Wahabi Saudi.
Dengan tanpa pengamatan yang serius pun semua orang mengetahui dengan baik, bahwa pihak-pihak yang agresif menyerang Syiah memiliki keterkaitan dengan pihak Wahabi, baik melalui jalur resmi pemerintahan Saudi, maupun LSM-LSM afiliasinya. Mereka hendak memonopoli kapling surga hanya untuk golongannya saja. Syiah, dalam pandangan mereka, tak berhak masuk surga karena made in Ibnu Saba’ sang Yahudi. Ini, diantara virus yang mereka tebar ke seluruh nusantara. Cara penyebarannya pun beragam, melalui seminar, khutbah, atau juga dengan kedok pelatihan dan pembekalan seperti yang selama ini dilakukan Hidayat Nur Wahid di pondok modern Gontor.
Siapa saja yang memiliki ghirah dalam memperjuangkan islam yang genuine di bumi nusantara ini, tidak bisa diam terus-menerus melihat serangan membabi-buta mereka. Kita tidak bisa lagi berkata “gitu saja kok repot”, “ngapain gue pikirin.” Komunitas syiah di daerah-daerah (pelosok-pelosok) yang kerepotan menghadapi serangan mereka, harus menjadi pertimbangan utama dalam menyusun strategi dakwah ahlul bait di Indonesia kita ini.
Nah, dengan melihat realitas di atas, tidak ada salahnya bila komunitas ahlul bait juga memanfaatkan jaringan gontor sebagai strategi dakwahnya di Indonesia. Adapun langkah kongkret yang, sementara ini, coba saya tawarkan sebagai berikut:
1. Menerbitkan skripsi mahasiswa ISID (Institut Studi Islam Darussalam) perguruan tinggi miliki gontor, yang isinya mendukung Syiah.
2. Menerbitkan thesis master tentang perkembangan Syiah itsna’asyariah di Indonesia yang ditulis oleh alumni gontor yang menyelesaikan studinya di al-Azhar dan sekarang sedang menyusun disertasinya tentang wilayatul faqih.
Mengapa harus GONTOR?
Mau atau tidak, kita harus mengakui bahwa gontor adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah mampu mencetak kader-kader pejuang masyarakat. Para alumninya telah tersebar di seluruh pelosok nusantara, bahkan di seluruh penjuru dunia. Sehingga ada sebuah adagium di kalangan gontorian yang berbunyi, “jarum jahit jatuh di gontor, suaranya terdengar di mesir.”
Alumni gontor juga tersebar di seluruh ormas, orsospol, maupun lembaga-lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia saat ini. Hal itu tidak lah aneh, motto gontor yang di atas dan untuk semua golongan mumbuat para alumniya mudah diterima oleh semua kelompok. Motto tersebut sejalan dengan slogan revolusi Islam yang lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah, tidak sunni tidak syi’iy. Ini seharusnya menjadi modal awal untuk bisa masuk ke gontor.
Memang, tidak usah bermimpi untuk meng-ahlul bait-kan gontor. Biarkan gontor ya’mal alâ syâkilatih, dengan tradisi dan ciri khasnya sendiri. Tapi, bila ahlul bait dapat masuk ke gontor, paling tidak, untuk sementara, dengan strategi yang saya tawarkan di atas. Taktik bertahan dan menyerang sekaligus dapat diterapkan secara berbarengan. Bertahan dari serangan Wahabi yang gencar melakukan penetrasi ke sana, sekaligus, bila diperlukan, menyerang para penyerangnya. Dengan strategi ini, kita dapat membidik beberapa sasaran dengan sebuah batu. Tujuannya untuk menciptakan al-mutasyayyi’în al-gontoriyyîn dalam menghadapi orang-orangnya Hidayat Nur W ahid yang sangat membenci Syiah.
Menilik sebuah hadits yang berbunyi kullu maulûdin yûladu ‘alal fithrah fa abawaihi yuhawwidânihi au yunashshirânih au yumajjisânihi. Maka alumni gontor dapat dianalogikan seperti madlûl hadits tersebut. Bahwa kullu hirrîjil gontor yûladu ‘alal fithrah fa ORGANISASILAH-LAH yang membuatnya Muhammadiyah, atau NU, atau PERSIS atau yang lainnya. Bahkan yang akan membuatnya Syiiy? Mengapa tidak menggarap gontor untuk mendakwahkan madzhab ahlul bait sebagai madzhab cinta dan persatuan?
Saat ini para kader muda gontor yang dikirim ke luar negeri telah banyak yang kembali ke almamaternya. Mereka sekarang sudah mulai memegang beberapa pos strategis dalam struktur organisasi pondok modern gontor. Dalam waktu beberapa tahun ke depan, mereka akan memegang posisi penting yang akan menentukan kebijakan-kebijakan strategis di gontor. Satu hal yang member harapan bagi kita, bahwa banyak dari para kader muda tersebut yang berpikiran terbuka, menerima semua paham, tidak terkecuali paham Syiah.
Sedikit celah yang terbuka ini harus dapat dimanfaatkan dengan baik. Jangan sampai orang-orang seperti Hidayat Nur Wahid leluasa meracuni otak anak-anak gontor dengan hasutan dan profokasinya yang membahayakan kelangsungan kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia.
Memang betul, bahwa Syiah tidak butuh pengikut. Ada ataupun tidak adanya pecinta ahlul bait, sama sekali tidak mempengaruhi keagungan dan keluhuran ajaran ahlul bait. Akan tetapi, sebagai orang yang telah mengetahui ajaran ahlul bait, kita terikat oleh titah baginda Rasul yang berbunyi fal yuballighis syâhidul ghâib. Adakah jaminan bahwa anak cucu kita dapat mengenal ahlul bait seperti kita sekarang ini?
Mengapa harus kedua buku tersebut?
Bukankah telah banyak buku-buku ahlul bait yang beredar di Indonesia? Bagi yang sudah lama mengenal ahlul bait, kedua buku tersebut, mungkin, hanya sekedar nostalgia dengan pengetahuan lama. Walaupun saya yakin banyak informasi baru ke duanya yang belum mampir ke syaraf otak hatta mereka yang sudah lama mengenal ahlul bait sekalipun, apalagi yang belum atau baru mengenalnya.
Bila kita ingin berdakwah ke komunitas tertentu, maka, cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan pribumi. Dan, kedua buku tersebut ditulis oleh orang pribumi. Maka, secara psikologis, keduanya sudah memiliki kekuatan tersendiri untuk dapat masuk ke jantung pertahanan lawan, ini bila kita asumsikan sasaran yang hendak kita tuju adalah lawan. Kemampuan untuk melakukan penetrasi ke pusat kekuatan lawan lebih dapat diandalkan. Karena sudah memahami peta kekuatannya. (che’illaaaah kayak pelatih bola saja).
Buku pertama merupakan skripsi berbahasa Arab dengan judul mashdarut tasyrî’ ‘inda madzhabil ja’fariyah. Isinya, menurut dosen yang mengujinya yang lulusan Madinah dan Pakistan, penuh dengan pembelaan terhadap syiah. Bahkan, sampai-sampai para penguji yang yang wahabi totok itu, menganggap penulisnya telah menjadi orang syiah. Sembari wanti-wanti agar tidak memilih syiah sebagai jalan hidup,” tidak mengapa kalau sekedar wacana ilmiah,” kata-kata yang sempat dilontarkan oleh penguji sebelum penulisnya meninggalkan ruang munaqasyah yang membuat hatinya ketawa geli. Padahal penulisnya sendiri bingung apakah dirinya Syiah atau bukan? Syiah dalam criteria yang disebutkan oleh Imam Ja’far, tentunya.
Sekali lagi, menurut terawangan saya, sampai saat ini, belum ada skripsi mahasiswa ISID ataupun thesis atau desertasi para kader gontor yang diterbitkan menjadi buku dan menjadi konsumsi public. Maka, bila rencana ini bisa terlaksana, akan menjadi catatan tersendiri bagi gontorian. Dan bisa menjadi kekuatan penyeimbangan bagi gerakannya Hidayat Nur Wahid di gontor.
Selain itu, skripsi tersebut sangat fenomenal di ISID. Ketika mahasiswa yang lain belum selesai menulis, bahkan masih ada yang bingung menyusun lay out. Penulisnya telah menyelesaikan skripsinya dan menantang dosen ISID untuk segera di adakan munaqasyah. Dosen ISID pun belum siap menerima tantangan penulis. “Kalau Cuma satu orang yang diuji tanggung,” kilahnya. Penulisanya pun yang ditunjuk untuk mewakili rekan-rekannya menyampaikan kata sambutan pada acara wisuda. Selain bahwa, penulisnya adalah, mungkin, satu-satunya mahasiswa yang memiliki record tersendiri dalam sejarah ISID bahkan Gontor sekalipun, setidaknya sampai saat ini.
Ataupun buku ke dua, ditulis oleh teman seangkatan penulis buku pertama di KMI (Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah) pendidikan tingkat menengah di gontor, yang menyelesaikan masternya di al-Azhar, Mesir. Beliau adalah kader yang kelak akan memegang jabatan strategis di gontor. Kita jadikan dia sebagai patner untuk mengimbangi pengaruh wahabi di sana.
Memang sudah banyak buku tentang ahlul bait yang lebih baik dari buku ini. Tapi, sebagai salah satu media dakwah, buku ini memiliki kekuatan tersendiri untuk masuk ke jantung pertahanan ‘musuh’ yang, barangkali, inilah yang membuat buku ini berbeda dari buku-buku ahlul bait yang sudah ada. Karena: -
1. Ditulis oleh alumni gontor yang bukan syiah. Sangat efektif digunakan sebagai senjata menghadapi orang-orang non syiah.
2. Selain untuk konsumsi komunitas syiah, buku ini bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas (non syiah). Dengan demikian, diharapkan dapat menembus benteng-benteng yang tidak dapat ditembus oleh lisan.
3. Menjawab beragam fitnah yang dialamatkan kepada syiah dengan logika yang berasal dari sumber rujukan penyebar fitnah. Bisa dijadikan sebagai senjata makan tuan.
4. Tepat sebagai pedoman aktifis dakwah ahlul bait, untuk dijadikan sebagai strategi bertahan dan menyerang sekaligus.
Ini sekedar catatan urun rembuk bagi kelangsungan dakwah ahlul bait di negri ini. Kalaupun toh, saat ini, belum bisa berbuat banyak untuk perkembangan ahlul bait. Paling tidak, bila Rasulullah saw menagih pemenuhan titahnya di Ghadir Khum kepada kita. Saya bisa menjawabnya dengan catatan ini.
Bila bukan kita yang memulai, lalu siapa? Kalau bukan sekarang, lalu kapan? Wa mâ ana illal balâghul mubîn.
Kampus III no 28 kircon, selasa malam 19/02/2008 jam 23:30…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar