Jumat, 11 Juli 2008

Hidayat Nur Wahid Menebar virus fitnah di Gontor

DR.Hidayat Nur Wahid adalah alumni PM Gontor yang menyelesaikan pendidikan S1 sampai S3 di Universitas Madinah. Sejak kepulangannya ke Indonesia sampai tahun 2002, saya sebut saja Mr.DR, selalu mengisi pembekalan bagi calon alumni Gontor. Materi yang disampaikan, biasanya, tentang al-Madzâhib al-Haddâmah, atau madzhab-madzhab yang merusak dan menyimpang, atau kelompok-kelompok sempalan, atau kelompok-kelompok yang, dalam subyektifitasnya, bukan dari Islam, alias Kafir, dan harus dilarang di bumi nusantara.
Nah, diantara madzhab yang masuk dalam katagori terlarang tersebut –sekali lagi menurut pandanganya yang subyektif fanatis – adalah, Syiah. Saya lebih sreg untuk menyebut apa yang dilakukan Mr.DR di Gontor sebagai tindakan profokasi, menebar fitnah, menumbuhkan kebencian diantara sesama umat Islam, daripada menyebutnya sebagai, pembekalan.
Syiah, menurut Mr.DR, sesat dan menyesatkan. Silahkan Anda baca pengantar Mr.DR pada buku Ensiklopedia Sunnah-Syiah terbitan al-Kautsar. Di sini, saya hanya menyuguhkan kepada Anda apa yang saya dengar sendiri sebagia fitnah yang keluar dari mulut sang DR saat menyampaikan materinya di Gontor.

Mr.DR menuduh Imam Khomeini berdusta, menipu umat Islam dengan slogan revolusinya islâmiyah, islâmiyah. Karena ternyata Imam Khomeini menyebut Syiah Imamiyah Istna ‘asyariah dalam UUD.
Mr.DR juga menuduh Imam Khomeini melakukan mut’ah dengan anak kecil.
Mr.DR menuduh para Ulama Syiah telah menyelewengkan al-Quran.
Mr.DR menuduh para Ulama Syiah tak ubahnya orang-orang munafik dengan kedok taqiyah.

Itulah sedikit dari banyaknya virus fitnah yang ia sebarkan di tengah-tengah kaum santri. Untuk menilai kualitas Mr.Dr. silahkan Anda nilai sendiri 4 issu di atas.

Senin, 24 Maret 2008

AKU DI SINI




Ketika perompak di jalan Tuhan menjual ayat-ayat suci
ketika agamawan mempermainkan hadits-hadits Nabi
ketika fatwa sesat diikuti
ketika perbedaan dikafiri
ketika minoritas didzalimi
aku harus ada di sini...

MELACAK SEJARAH TASYAYU'

Persoalan tasyayu' menjadi perdebatan sengit diantara umat Islam sedari dulu hingga sekarang. Berbagai pendapat saling tumpang tindih. Sebagian melihat syi'ah sebagai salah satu kelompok yang muncul pada masa booming ideology yang melanda umat Islam karena sebab perbedaan keyakinan yang muncul akibat pertikaian politik, yang terjadi kurang dari setengah abad pasca hijrah Rasulullah ke Madinah. Karena itulah sebagian kalangan menganggap Syi'ah muncul karena sebab politik. Diantara pendukung thesis ini adalah bapak Syafi'I Ma'arif, mantan ketua PP Muhammadiyah.
Tragedy demi tragedy datang silih berganti menimpa umat ini, mengakibatkan perpecahan umat Islam ke dalam pelbagai kelompok yang saling berperang, saling menghalalkan darah saudarannya. Masing-masing kelompok berkeyakinan bahwa hanya kelompoknya sajalah yang benar dan lawannya salah. Kemudian masing-masing berlomba menguatkan bangunan teorinya dengan takwil sebagian teks suci.
Dalam perkembangan selanjutnya, ibarat benang, ideologi umat semakin kusut. Para ideolog masing-masing kelompok, dan didukung pendukung fanatiknya, semakin berani bermain-main dengan hadits Nabi. Memproduksi hadits yang mendukung pandangan ideologinya dan mengecam kelompok lain. Akibatnya, muncul ribuan hadits palsu. Diantaranya: "Di dalam umatku akan muncul sekelompok yang disebut dengan rawafidh, bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang musyrik."
Padahal, seperti yang jamak dikenal di kalangan peneliti al-firaq al-islamiyah bahwa kata Rafidhah disematkan oleh Zaid bin Ali bin Husein kepada orang-orang yang memisahkan diri darinya dalam gerakan perlawanannya menentang dinasti Umayah. Kosa kata ini, ataupun nama-nama lain yang disematkan kepada kelompok-kelompok yang berbeda dengan keyakinan mainstream tidak dikenal di zaman Nabi saw. Diantara hadits lain yang tampak seperti mutawatir karena diriwayatkan oleh hampir semua kelompok adalah hadits perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya binasa kecuali satu. Dan, semua kelompok berusaha membuktikan bahwa kelompoknya sajalah yang dimaksud dengan kelompok yang selamat, selainnya celaka, di neraka.
Seiring dengan perjalanan waktu keyakinan seperti ini mulai terpatri kuat dalam bangunan ideology umat. Riwayat-riwayat buatan tersebut dimasukan ke dalam buku-buku hadits yang dibacakan seolah-olah berasal dari ucapan Nabi saaw. Padahal, berbagai nama dan istilah tersebut belum dikenal di masa risalah dan beberapa masa sesudahnya. Tidak pula tersiar melainkan setelah perang kata-kata antara mutakallimin memuncak pasca infiltrasi kebudayaan-kebudayaan asing ke dalam peradaban islam melalui gerakan penterjemahan. Setiap madrasah mulai membentuk filsafatnya masing-masing dalam bangunan theologinya. Memanfaatkan istilah-istilah yang diperkaya oleh filsafat dan pemikiran Yunani, Persia, India dll.
Ketika gerakan tadwin mulai menapaki masa keemasannya, para pemikir islam masuk ke setiap ranah ilmu pengetahuan. Tidak terkecuali kaum mutakallim. Saat itu, para pengikuti madrasah kalam mulai memasuki perdebatan sengit dalam bidang khilafah dan tata cara pemerintahan. Ketika memasuki penulisan kelompok-kelompok dan madzhab-madzhab islam, mayoritas penulis dalam bidang ini, seperti asy-syahristan dan al-bagdadi dan lainnya dari kalangan mainstream mewakili keinginan mayoritas menamakan dirinya dengan istilah ahlussunah wal jama'ah. Semua karangan pada masa itu terfokus pada satu point tertentu. Yaitu membatasi golongan islam pada tujuh puluh tiga golongan. Menerangkan kesesatan tujuh puluh dua golongan dan membuktikan bahwa golongan yang mewakili mayoritas adalah golongan yang selamat. Dan selainnya, termasuk diantaranya Syi'ah, hanyalah kelompok sempalan yang jauh dari kebenaran.
Untuk membuktikan thesis tersebut ragam pendapat tentang munculnya Syi'ah dan ideology anutannya diangkat ke permukaan. Terkadang dinisbatkan kepada Ibnu Saba' yang mengambil aqidahnya dari Yahudi. Atau, kepada kebudayaan Persia yang ide-idenya terinspirasi oleh theology Majusi. Di saat yang lain disebutkan bahwa Syi'ah adalah kelompok yang terbentuk sebagai reaksi atas penindasan yang menimpa keluarga suci Nabi saaw seperti tragedy Karbala dan, sebelumnya, syahidnya Imam Ali dan Imam Hasan. Sebagian yang lain menyandarkannya kepada peristiwa yang terjadi pasca Saqifah. Sebagian lagi menganggapnya pada zaman Usman dan pelbagai fitnah yang terjadi masa itu. Ada pula yang menyandarkannya pada perang Jamal, atau Shiffin, atau setelah syahidnya imam Husein. Demikianlah carut marutnya pendapat tentang sejarah kemunculan Syi'ah.
Munculnya beragam pendapat tentang awal merekahnya benih tasyayu' ini disebabkan ketidaktahuan mereka akan hakekat tasyayu' sebagai aliran yang mencerminkan Islam dengan segala penampilan dan ideologinya. Bahwa tasyayu' bukan peristiwa baru yang mampir kedalam pemikiran umat Islam. Atau sebagai ideology import dari salah satu bangsa. Tetapi, tasyayu' adalah murni aqidah Islam dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Benihnya ditanam oleh Rasulullah saaw, berkembang dari hari ke hari dan disirami oleh Ahlulbaitnya saaw. Rasulullah saaw lah yang menyematkan kata Syi'ah kepada para pengikut Ali. Demikian seperti di laporkan oleh Jalaluddin Suyuthi dalam kitab tafsirnya ad-Dur al-Mantsûr ketika menafsirkan ayat ulâika hum khairul bayyinah dari surat al-Bayyinat.
Para tokoh Ahlulbait as telah sering menjelaskan ajaran-ajaran tasyayu', menghilangkan semua keraguan, serta memerangi para penyusup yang akan merusak kemurnian tasyayu', membuka kedok orang-orang yang bersembunyi dibalik nama Ahlulbait as untuk mencapai tujuan lain yaitu menghancurkan Islam. Demikian seperti dilaporkan oleh Musthafa Syak'ah dalam bukunya Islâm bilâ madzâhib (Islam tanpa madzhab).
Dari sinilah terjadi kesalahpahaman dalam sebagian kalangan. Mereka nisbatkan ideology para penyusup tersebut kepada Syi'ah yang mereka anggap mewakili pemikiran, kecenderungan dan ideology Syi'ah. Pada umumnya mereka menyematkan tuduhan persekongkolan dan pembusukan Islam kepada Syi'ah. Sedemikian rupa sehingga mereka berkata bahwa Syi'ah menjadi pelabuhan bagi setiap pemikiran-pemikiran yang merusak, yang bertujuan memberangus Arabisme dan Islam. Keyakinan seperti inilah yang merasuki Ahmad Amin yang kemudian diamini oleh generasi yang datang sesudahnya.
Satu hal yang patut disesalkan adalah bahwa para penulis kiwari menyandarkan tuduhan-tuduhannya kepada pendapat para penyusup dan musuh Syi'ah. Mereka tidak mau bersusah payah melakukan penelitian tentang hakekat keyakinan golongan yang ditulis melalui khazanah yang diwarisankan para tokohnya. Padahal, di era modern ini seluruh perangkat penelitian ilmiah modern telah tersedia bagi siapa saja yang ingin memperoleh kebenaran secara obyektif.
Sesungguhnya kebersihan niat adalah yang menentukan kejujuran seorang penulis. Bila syarat ini hilang, maka tiada harapan untuk munculnya obyektifitas tulisan-tulisannya. Dan, inilah yang menghinggapi para penulis kita ketika menulis tentang Syi'ah. Nah, untuk mengenal lebih jauh tentang Syi'ah dan Tasyayu' sekaligus membuktikan kebenaran atau kesalahan yang selama ini dialamatkan kepada Syi'ah. saya mengajak Anda untuk membaca buku saya yang baru terbit bertajuk Merajut ukhuwah; memahami Syi’ah. Selamat membaca.

SYIAH-SUNNAH, BERTIKAI ?

Pasca invasi Amerika ke Irak, berita tentang konflik saktarian Sunni-Syiah seolah menjadi menu wajib media massa kita. Harian Kompas dalam tajuk rencananya Sabtu 17 Maret 2007, memuat laporan triwulan Departemen Pertahanan AS khusus mengenai perang Irak yang diserahkan kepada Konggres AS. Dalam laporannya tersebut Pentagon mengakui tengah terjadinya konflik saktarian antara Sunni dan Syiah yang sudah berlangsung hampir 1.400 tahun.
Persoalanya di sini adalah benarkah konflik Sunni-Syiah di Irak terjadi semata-mata karena perbedaan madzhab? Tulisan ini ingin menyoroti pilihan kata konflik saktarian Sunni-Syiah yang selalu menghiasi media massa kita. Agar kita dapat memahami duduk persoalan yang sebenarnya terjadi di Irak.

Fenomena alami

Umat Islam, dalam memahami dan menjalankan aturan agamannya (fikih) terbagi dalam berbagai madzhab. Di dalam kelompok Sunni ada madzhab Maliki, Hanafi, Syafi'I dan Hambali yang terkenal dengan sebutan madzhab yang empat (al-madzâhib al-arba'ah). Adapun yang terkenal dan masih bertahan dalam kelompok Syiah adalah madzhab Ja'fari, Zaidi, Ismaili.
Dalam kacamata Islam, perbedaan madzhab merupakan fenomena klasik dan alami. Rasulullah sendiri bersabda, "ikhtilafu ummati rahmatun." Dalam makna lahir hadits itu berarti; Perbedaan yang terjadi diantara umatku adalah rahmat. Dalam makna bathin, kata ikhtilâf di situ bukan berarti perbedaan. Tapi, (1) Saling berkunjung dan bertukar ilmu pengetahuan antara satu dengan yang lain (2) Pulang pergi dari satu ulama ke ulama yang lain untuk beroleh ilmu pengetahuan. Bagi pendukung makna yang kedua berdalih; bagaimana mungkin ikhtilaf menjadi rahmat, bukankah yang terjadi dalam sejarah, seperti yang diperagakan oleh para sahabat Nabi, ikhtilah justru menjadi bencana?
Saya tidak akan masuk ke dalam ikhtilâf pemaknaan hadits di atas. Biarlah itu saya serahkan kepada para ahli bahasa dalam mencari makna yang pas bagi kata ikhtilaf. Namun yang jelas, dan tidak seorangpun mengingkarinya, bahwa perbedaan terjadi bahkan di saat Nabi Muhammad saaw. masih hidup sekalipun. (Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih, 2003). Menurut Jawad Mughniyyah, seorang ulama Syi'ah Lebanon, perbedaan terjadi dikarenakan kita adalah manusia bukan karena yang satu Sunni dan yang lainnya Syiah, yang satu Syafi’I dan yang lainnya Hambali (Jawad Mugniyyah, as-syi'ah fil mizan, 1979). Perbedaan terjadi tidak hanya antara Sunni dan Syiah. Diantara madzhab yang empat sekalipun terjadi perbedaan, bahkan perbedaan yang terjadi diantara sesama madzhab Sunni terkadang lebih tajam dari perbedaannya dengan Syiah, tulis Mughniyah dalam bukunya yang lain al-fiqh 'alal madzahibil khamsah (Fikih Lima Madzhab).
Karena itu, Musthafa Syak'ah, seorang ulama cendikia Mesir, dalam bukunya Islam bila madzahib (Islam tanpa madzhab) menggolongkan Syi'ah bersama madzhab-madzhab Ahlussunah ke dalam kelompok moderat. Artinya, bagi Syak'ah, madzhab Syiah sama saja dengan madzhab yang menamakan dirinya dengan Ahlussunah wal jama'ah. Logikanya, bila Ahlussunah benar berarti Syiah juga benar. Dan bila Syiah sesat berarti Ahlussunah juga sesat. Ya to..? Makanya sesama kelompok sesat dilarang saling menyesatkan. He..he...he...

Belajar pada sejarah

Menurut Hasan al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, Mesir. "Perbedaan Sunni-Syiah terletak pada perkara-perkara yang masih bisa diusahakan pendekatan keduanya." Berangkat dari keyakinan tersebut, al-Banna bekerja keras untuk mendekatkan perbedaan kedua komunitas ini. Hasilnya, tercapailah kesepakatan penting antara dirinya sebagai representasi kelompok Sunni dengan Ayatullah Kasyani yang mewakili Syiah untuk saling memahami dan menghilangkan pertentangan Sunah-Syiah. Dan, kesepakatan inilah yang menyebabkan al-Banna dibunuh oleh antek Imperialis. Tulis al-Jubairi, murid al-Banna, dalam limadza ughtila hasan al-banna (mengapa Hasan al-Banna dibunuh).
Laporan al-Jubairi menunjukkan betapa strategisnya langkah yang ditempuh al-Banna. Terciptanya persatuan Sunni-Syiah menjadi ancaman besar bagi kaum Imperialis. Karena itu, konspirasi jahat membunuh sang Imam segera mereka rancang. Dan, dalam usianya yang bisa disebut masih muda, sang Imam syahid mewariskan tugas mulia kepada kita: menciptakan al-wihdah al-islamiyah al-kubra (Persatuan besar umat Islam).
Tugas ini kemudian dilanjutkan oleh Mahmud Syalthut, mantan Rektor al-Azhar, dengan memprakasai berdirinya Darut taqrib bainal madzahibil islamiyah (Rumah Pendekataan Antar Madzhab-Madzhab Islam). Nama ini terinspirasi oleh pernyataan al-Banna di atas, sebagai upaya pendekataan untuk menciptakan rasa saling memahami antar kedua komunitas, Sunni-Syiah.
Saya sekedar menarasikan upaya yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat, dengan beragam madzhab dan golongannya. Hal ini untuk memberikan gambaran kepada kita, umat Islam Indonesia, betapa perang yang saat ini terjadi di Irak bukanlah konflik saktarian Sunni-Syiah yang telah berlangsung selama 1.400 tahun seperti dilaporkan Pentagon di atas. Ini perlu saya tegaskan di sini. Betapa kita selama ini terjebak dalam skenario Imperialis barat (AS dan sekutunya) dalam melihat proses politik yang sedang berlangsung di Irak.
Kaum Syiah dan Sunni di Irak telah hidup berdampingan selama berabad-abad. Saling berinteraksi antara satu sama lain dengan damai. Pertentangan yang terjadi antara mereka lebih disebabkan oleh konspirasi politik kaum Imperialis yang ingin menguras minyak Irak. Akibat politik devide et impera sebagai upaya melemahkan potensi umat Islam bersatu. Tanpa bermaksud mengorbankan permusuhan HAMAS dan FATAH, yang keduanya sama-sama Sunni, mengapa media Imperialis tidak mengangkat isu konfilik saktarian antara kaum Sunni? Atau, dalam kasus Afganistan antara Taliban dengan Aliansi Utara, antara Rabbani dengan Hekmatyar, misalnya, yang juga sama-sama Sunni?

Bercermin pada Irak

Kasus Irak harus menjadi pelajaran penting bagi kita, umat Islam Indonesia. Ancaman disintregasi bangsa ada di hadapan kita. Isyu Sunni-Syi'ah tidak boleh menambah carutmarutnya wajah negri kita. Bahwa Ahlussunah sebagai madzhab mayoritas di Indonesia adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Tetapi, fakta juga membuktikan bahwa tradisi masyarakat Indonesia adalah tradisi Syi'ah. Karena itu Gus Dur menyebut masyarakat Indonesia sebagai Syi'ah kultural. Ajaran Syi'ah menjadi pilihan hidup bagi sebagian umat Islam Indonesia. Kekuatan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagian diantara mereka menggabungkan diri dalam organisasi kemasyarakatan resmi yang dilindungi oleh undang-undang negri kita. Artinya, Syi'ah telah menjadi asset bangsa yang harus dipelihara dan dilindungi, bukan dimusuhi. Tirani mayoritas harus dihindari.
Mereka yang aktif dalam gerakan Syi'ah Indonesia bukanlah Syi'ah keturunan. Mereka memilih Syi'ah sebagai jalan hidup setelah melewati laku spiritual dan intelektual yang panjang. Maka, konsekwensi dari pilihan hidup akan dihadapi dengan semangat karbala. Spirit syahadah Imam Husein menjadi inspirasi perjuangan mereka. Mengalir seperti aliran darah dalam tubuh mereka.
Karena itu, segala bentuk profokasi, fitnah yang seringkali dialamatkan kepada Syi'ah harus dihentikan. Orang yang selalu 'menyanyikan lagu' lama tentang Syi'ah, secara sadar atau tidak, sejatinya menjalankan agenda kaum Imperialis yang ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Toleransi harus ditegakkan pada bangunan umat Islam. Toleransi akan muncul dengan adanya saling memahami antara satu dengan yang lain. Dalam konteks inilah kita mesti meneruskan usaha yang telah dirintis oleh Hasan al-Banna dan Mahmud Syaltut.
Kita memberikan apresiasi kepada KH.Hasyim Muzadi, ketua PBNU, yang menggagas kerjasama Sunni-Syi'ah (Republika 24 Maret 2006). Kita berharap ide ini didukung oleh seluruh komponen bangsa. Jangan sampai berhenti pada tataran wacana saja, tetapi dapat diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat kita yang majemuk. Tokoh Sunnah-Syi'ah harus duduk bersama membicarakan beragam masalah umat, termasuk diantaranya isu-isu perbedaan Sunnah-Syi'ah dengan memakai kekuatan logika. Profokasi-profokasi yang memperkeruh suasana harus segera dihentikan. Seminar Istiqlal tahun 1997 jangan sampai terulang lagi. Para tokoh yang terlibat dalam seminar itu harus segera bertaubat menyadari kesalahannya karena telah menyebarkan fitnah keji tentang Syi'ah.
Kita harus memahami bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan dikarenakan kita adalah manusia, bukan karena yang satu Sunny dan yang lainnya Syi’iy. Apa yang dapat kita lakukan dalam menyingkapi perbedaan alamiah seperti ini adalah dengan memperbaiki kesalahan masa lalu serta melepaskan diri dari fanatisme buta, untuk kemudian menatap masa depan dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan antar sesama.





Jumat, 22 Februari 2008

Min huna nabda'; stretegi karbala di Indonesia

Perkembangan dakwah Ahlul Bait, atau yang dalam kalangan umum lebih dikenal dengan sebutan; Syiah, menunjukkan gejala positif yang patut disyukuri bersama. Peringatan Asyura dengan merek genuine Syiah, dilaksanakan secara terbuka dan mendapat liputan luas media massa, baik lokal maupun nasional. Saya sebut merek genuine Syiah untuk membedakan dengan tradisi Asyura yang telah mengakar dalam budaya, misalnya, bubur suro di Jawa, tabuik di Sumatra, serta tradisi-tradisi lain yang mengambil setting tragedi Asyura di seluruh belahan nusantara kita tercinta. Berbeda dengan pelbagai tradisi tersebut yang tidak menonjolkan label Syiah, peringatan Asyura genuine Syiah sekarang ini lebih berani mengusung beragam simbol, slogan, ritual yang menjadi ciri khas penganut Syiah di belahan bumi manapun mereka berada. Seperti, diantaranya, pembacaan maqtal, ma’tam, ziarah asyura sebagai trade mark Syiah. Hal ini menunjukkan bahwa Syiah sudah diterima sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Kalau dulu Syiah diterima masyarakat Indonesia secara, meminjam istilah Gus Dur, kultur. Sekarang sudah secara struktur. Artinya, sebagai warga negara Indonesia, penganut Syiah berhak menikmati kebebasan dalam mengekspresikan keyakinannya. Forum terbuka menghakimi Syiah seperti seminar istiqlal yang pernah di adakan oleh sebagian oknum Ulama, para perompak di jalan Tuhan, pada September 1997 yang disponsori oleh MUI sebagai corong resmi penguasa, tidak pernah terdengar lagi. Walaupun oknum-oknum Ulama yang sama saat ini masih bercokol di kepengurusan MUI pusat. Sebut saja , misalnya, Khalil Ridhwan, Musthafa Ya’kub.

Tidak seperti aliran-aliran lain yang disesatkan MUI seperti, misalnya, Ahmadiyah, JIL, Pluralisme. Agaknya MUI harus berhitung seribu kali dulu untuk menyesatkan Syiah. Bahwa Syiah adalah realitas yang harus diterima oleh masyarakat Indonesia. Karena itu tampaknya MUI maupun para perompak di jalan Tuhan yang bersembunyi dibalik Jubahnya tidak akan melakukan langkah yang sama pasca seminar istiqlal 1997, ngeluruk ke gedung bundar (KEJAGUNG) mendesak pemerintah melarang syiah di Indonesia. Mungkinkah mereka keder dengan slogan kullu yaumin ‘asyura wa kullu ardhin karbala-nya Syiah?.

Menjamurnya buku-buku Syiah di toko-toko buku, juga bisa dijadikan indikasi semakin diterimanya Syiah sebagai madzhab alternatif di Indonesia. Tak pelak, hal ini membuat para perompak di jalan Tuhan gelisah. Mereka mengkhawatirkan para ‘penumpangnya’ pindah gerbong. Meski tidak secara frontal seperti yang mereka lakukan pada seminar Istiqlal, cara mereka dalam membendung perkembangan Syiah – juga paham lain yang berbeda dengan paham mereka, semisal ahmadiyah, JIL dsb – di Indonesia semakin canggih dan membahayakan tidak saja bagi keberadaan Syiah di Indonesia, tapi juga bagi kesatuan dan persatuan bangsa kita. Fenomena melonjaknya suara salah satu partai yang mengklaim sebagai partai Islam, dalam pemilu 2004 yang lalu, tapi sangat memusuhi Syiah, harus disikapi dengan langkah antisipatif membendung pelbagai hasutan, profokasi, fitnah yang dilontarkan oleh para tokohnya, seperti, salah satunya, Hidayat Nur Wahid. Virus fitnah yang mereka sebar lebih berbahaya dari virus HIV sekalipun. Jangkauan penyebarannya pun sudah merambah seluruh pelosok Nusantara.

Bagi komunitas Syiah yang hidup di pusat-pusat atau kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, misalnya. Mungkin tidak merasakan gesekan yang begitu keras bila berhadapan dengan komunitas lain yang anti Syiah. Disamping karena kultur masyarakat urban yang berbeda dengan dengan daerah. Di pusat-pusat kota, biasanya, para pakar dan asatidz tinggal. Setiap saat siap tampil membela Syiah. Pertanyaan saya sekarang, bagaimana dengan daerah-daerah? Terlebih para “Muallaf” bila harus berhadapan dengan para oknum Kyai dan perompak di jalan Tuhan yang pinter baca kitab gundul?

Dalam penerawangan saya, virus-virus tersebut disebar ke seluruh Indonesia dengan menunggangi jaringan Gontor yang telah menyebar ke seluruh wilayah nusantara hatta yang paling pelosok sekalipun. Selain memakai gontor connection untuk kepentingan partainnya, mereka juga getol menyebarkan kebohongan dan fitnah terhadap Syiah, misi yang dibebankan oleh tuannya orang-orang Wahabi Saudi.

Dengan tanpa pengamatan yang serius pun semua orang mengetahui dengan baik, bahwa pihak-pihak yang agresif menyerang Syiah memiliki keterkaitan dengan pihak Wahabi, baik melalui jalur resmi pemerintahan Saudi, maupun LSM-LSM afiliasinya. Mereka hendak memonopoli kapling surga hanya untuk golongannya saja. Syiah, dalam pandangan mereka, tak berhak masuk surga karena made in Ibnu Saba’ sang Yahudi. Ini, diantara virus yang mereka tebar ke seluruh nusantara. Cara penyebarannya pun beragam, melalui seminar, khutbah, atau juga dengan kedok pelatihan dan pembekalan seperti yang selama ini dilakukan Hidayat Nur Wahid di pondok modern Gontor.

Siapa saja yang memiliki ghirah dalam memperjuangkan islam yang genuine di bumi nusantara ini, tidak bisa diam terus-menerus melihat serangan membabi-buta mereka. Kita tidak bisa lagi berkata “gitu saja kok repot”, “ngapain gue pikirin.” Komunitas syiah di daerah-daerah (pelosok-pelosok) yang kerepotan menghadapi serangan mereka, harus menjadi pertimbangan utama dalam menyusun strategi dakwah ahlul bait di Indonesia kita ini.

Nah, dengan melihat realitas di atas, tidak ada salahnya bila komunitas ahlul bait juga memanfaatkan jaringan gontor sebagai strategi dakwahnya di Indonesia. Adapun langkah kongkret yang, sementara ini, coba saya tawarkan sebagai berikut:

1. Menerbitkan skripsi mahasiswa ISID (Institut Studi Islam Darussalam) perguruan tinggi miliki gontor, yang isinya mendukung Syiah.

2. Menerbitkan thesis master tentang perkembangan Syiah itsna’asyariah di Indonesia yang ditulis oleh alumni gontor yang menyelesaikan studinya di al-Azhar dan sekarang sedang menyusun disertasinya tentang wilayatul faqih.

Mengapa harus GONTOR?

Mau atau tidak, kita harus mengakui bahwa gontor adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah mampu mencetak kader-kader pejuang masyarakat. Para alumninya telah tersebar di seluruh pelosok nusantara, bahkan di seluruh penjuru dunia. Sehingga ada sebuah adagium di kalangan gontorian yang berbunyi, “jarum jahit jatuh di gontor, suaranya terdengar di mesir.”

Alumni gontor juga tersebar di seluruh ormas, orsospol, maupun lembaga-lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia saat ini. Hal itu tidak lah aneh, motto gontor yang di atas dan untuk semua golongan mumbuat para alumniya mudah diterima oleh semua kelompok. Motto tersebut sejalan dengan slogan revolusi Islam yang lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah, tidak sunni tidak syi’iy. Ini seharusnya menjadi modal awal untuk bisa masuk ke gontor.

Memang, tidak usah bermimpi untuk meng-ahlul bait-kan gontor. Biarkan gontor ya’mal alâ syâkilatih, dengan tradisi dan ciri khasnya sendiri. Tapi, bila ahlul bait dapat masuk ke gontor, paling tidak, untuk sementara, dengan strategi yang saya tawarkan di atas. Taktik bertahan dan menyerang sekaligus dapat diterapkan secara berbarengan. Bertahan dari serangan Wahabi yang gencar melakukan penetrasi ke sana, sekaligus, bila diperlukan, menyerang para penyerangnya. Dengan strategi ini, kita dapat membidik beberapa sasaran dengan sebuah batu. Tujuannya untuk menciptakan al-mutasyayyi’în al-gontoriyyîn dalam menghadapi orang-orangnya Hidayat Nur W ahid yang sangat membenci Syiah.

Menilik sebuah hadits yang berbunyi kullu maulûdin yûladu ‘alal fithrah fa abawaihi yuhawwidânihi au yunashshirânih au yumajjisânihi. Maka alumni gontor dapat dianalogikan seperti madlûl hadits tersebut. Bahwa kullu ­hirrîjil gontor yûladu ‘alal fithrah fa ORGANISASILAH-LAH yang membuatnya Muhammadiyah, atau NU, atau PERSIS atau yang lainnya. Bahkan yang akan membuatnya Syiiy? Mengapa tidak menggarap gontor untuk mendakwahkan madzhab ahlul bait sebagai madzhab cinta dan persatuan?

Saat ini para kader muda gontor yang dikirim ke luar negeri telah banyak yang kembali ke almamaternya. Mereka sekarang sudah mulai memegang beberapa pos strategis dalam struktur organisasi pondok modern gontor. Dalam waktu beberapa tahun ke depan, mereka akan memegang posisi penting yang akan menentukan kebijakan-kebijakan strategis di gontor. Satu hal yang member harapan bagi kita, bahwa banyak dari para kader muda tersebut yang berpikiran terbuka, menerima semua paham, tidak terkecuali paham Syiah.

Sedikit celah yang terbuka ini harus dapat dimanfaatkan dengan baik. Jangan sampai orang-orang seperti Hidayat Nur Wahid leluasa meracuni otak anak-anak gontor dengan hasutan dan profokasinya yang membahayakan kelangsungan kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia.

Memang betul, bahwa Syiah tidak butuh pengikut. Ada ataupun tidak adanya pecinta ahlul bait, sama sekali tidak mempengaruhi keagungan dan keluhuran ajaran ahlul bait. Akan tetapi, sebagai orang yang telah mengetahui ajaran ahlul bait, kita terikat oleh titah baginda Rasul yang berbunyi fal yuballighis syâhidul ghâib. Adakah jaminan bahwa anak cucu kita dapat mengenal ahlul bait seperti kita sekarang ini?

Mengapa harus kedua buku tersebut?

Bukankah telah banyak buku-buku ahlul bait yang beredar di Indonesia? Bagi yang sudah lama mengenal ahlul bait, kedua buku tersebut, mungkin, hanya sekedar nostalgia dengan pengetahuan lama. Walaupun saya yakin banyak informasi baru ke duanya yang belum mampir ke syaraf otak hatta mereka yang sudah lama mengenal ahlul bait sekalipun, apalagi yang belum atau baru mengenalnya.

Bila kita ingin berdakwah ke komunitas tertentu, maka, cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan pribumi. Dan, kedua buku tersebut ditulis oleh orang pribumi. Maka, secara psikologis, keduanya sudah memiliki kekuatan tersendiri untuk dapat masuk ke jantung pertahanan lawan, ini bila kita asumsikan sasaran yang hendak kita tuju adalah lawan. Kemampuan untuk melakukan penetrasi ke pusat kekuatan lawan lebih dapat diandalkan. Karena sudah memahami peta kekuatannya. (che’illaaaah kayak pelatih bola saja).

Buku pertama merupakan skripsi berbahasa Arab dengan judul mashdarut tasyrî’ ‘inda madzhabil ja’fariyah. Isinya, menurut dosen yang mengujinya yang lulusan Madinah dan Pakistan, penuh dengan pembelaan terhadap syiah. Bahkan, sampai-sampai para penguji yang yang wahabi totok itu, menganggap penulisnya telah menjadi orang syiah. Sembari wanti-wanti agar tidak memilih syiah sebagai jalan hidup,” tidak mengapa kalau sekedar wacana ilmiah,” kata-kata yang sempat dilontarkan oleh penguji sebelum penulisnya meninggalkan ruang munaqasyah yang membuat hatinya ketawa geli. Padahal penulisnya sendiri bingung apakah dirinya Syiah atau bukan? Syiah dalam criteria yang disebutkan oleh Imam Ja’far, tentunya.

Sekali lagi, menurut terawangan saya, sampai saat ini, belum ada skripsi mahasiswa ISID ataupun thesis atau desertasi para kader gontor yang diterbitkan menjadi buku dan menjadi konsumsi public. Maka, bila rencana ini bisa terlaksana, akan menjadi catatan tersendiri bagi gontorian. Dan bisa menjadi kekuatan penyeimbangan bagi gerakannya Hidayat Nur Wahid di gontor.

Selain itu, skripsi tersebut sangat fenomenal di ISID. Ketika mahasiswa yang lain belum selesai menulis, bahkan masih ada yang bingung menyusun lay out. Penulisnya telah menyelesaikan skripsinya dan menantang dosen ISID untuk segera di adakan munaqasyah. Dosen ISID pun belum siap menerima tantangan penulis. “Kalau Cuma satu orang yang diuji tanggung,” kilahnya. Penulisanya pun yang ditunjuk untuk mewakili rekan-rekannya menyampaikan kata sambutan pada acara wisuda. Selain bahwa, penulisnya adalah, mungkin, satu-satunya mahasiswa yang memiliki record tersendiri dalam sejarah ISID bahkan Gontor sekalipun, setidaknya sampai saat ini.

Ataupun buku ke dua, ditulis oleh teman seangkatan penulis buku pertama di KMI (Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah) pendidikan tingkat menengah di gontor, yang menyelesaikan masternya di al-Azhar, Mesir. Beliau adalah kader yang kelak akan memegang jabatan strategis di gontor. Kita jadikan dia sebagai patner untuk mengimbangi pengaruh wahabi di sana.

Memang sudah banyak buku tentang ahlul bait yang lebih baik dari buku ini. Tapi, sebagai salah satu media dakwah, buku ini memiliki kekuatan tersendiri untuk masuk ke jantung pertahanan ‘musuh’ yang, barangkali, inilah yang membuat buku ini berbeda dari buku-buku ahlul bait yang sudah ada. Karena: -

1. Ditulis oleh alumni gontor yang bukan syiah. Sangat efektif digunakan sebagai senjata menghadapi orang-orang non syiah.

2. Selain untuk konsumsi komunitas syiah, buku ini bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas (non syiah). Dengan demikian, diharapkan dapat menembus benteng-benteng yang tidak dapat ditembus oleh lisan.

3. Menjawab beragam fitnah yang dialamatkan kepada syiah dengan logika yang berasal dari sumber rujukan penyebar fitnah. Bisa dijadikan sebagai senjata makan tuan.

4. Tepat sebagai pedoman aktifis dakwah ahlul bait, untuk dijadikan sebagai strategi bertahan dan menyerang sekaligus.

Ini sekedar catatan urun rembuk bagi kelangsungan dakwah ahlul bait di negri ini. Kalaupun toh, saat ini, belum bisa berbuat banyak untuk perkembangan ahlul bait. Paling tidak, bila Rasulullah saw menagih pemenuhan titahnya di Ghadir Khum kepada kita. Saya bisa menjawabnya dengan catatan ini.

Bila bukan kita yang memulai, lalu siapa? Kalau bukan sekarang, lalu kapan? Wa mâ ana illal balâghul mubîn.

Kampus III no 28 kircon, selasa malam 19/02/2008 jam 23:30