Minggu, 10 Agustus 2008

KEUTAMAAN DAN AMALAN BULAN SYA'BAN

Bulan Sya’ban adalah bulan mulia. Biasanya, bila Sya’ban tiba Rasulullah saw berpuasa satu bulan penuh dan meneruskannya dengan puasa Ramadlan. Tentang keutamaan bulan Sya’ban ini, Rasulullah saw bersabda, : “Sya’ban adalah bulanku, barang siapa berpuasa satu hari dari bulanku, wajib baginya beroleh surga.” Diriwayatkan dari Imam ash-Shâdiq bahwa Imam as-Sajjâd bila memasuki bulan Sya’ban segera mengumpulkan para sahabatnya dan berkata, “Wahai para sahabatku, tahukah kalian bulan apa (sekarang) ini? (sekarang) Ini adalah bulan Sya’ban, dan Nabi saw bersabda, “Berpuasalah pada bulan ini sebagai bukti cinta kalian kepada Nabi kalian dan untuk mendekatkan diri kalian kepada Tuhan kalian. Aku bersumpah dengan Yang menggenggam jiwaku, aku mendengar ayahku, al-Husein as, berkata: Aku mendengar Amirulmukminin as berkata: Barang siapa yang berpuasa pada bulan Sya’ban karena cinta kepada Rasulullah saw dan untuk mendekatkan diri kepada Allah, Allah pasti mencintainya dan mendekatkannya kepada kemuliaan-Nya pada hari kiamat dan surga diwajibkan untuknya.
Diriwayatkan dari Sofwan al-Jammal bahwa Imam as-Shâdiq berkata padanya, “Perintahkan siapa saja yang berada dalam lingkunganmu untuk menjalankan puasa Sya’ban. Aku bertanya: Aku jadikan diriku sebagai tebusanmu, adakah keutamaannya? Imam menjawab: Ya, Sesungguhnya Rasulullah saw bila melihat hilal sya’ban segera perintahkan seseorang untuk menyeru penduduk Madinah “Wahai penduduk Yastrib, sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah saw kepada kalian, “Bahwa Sya’ban adalah bulanku, semoga Allah merahmati siapa yang menolongku di bulan ini.” Kemudian ash-Shadiq menambahkan, “Sesungguhnya Amirulmukminin as berkata, “’Tidak terlewat olehku puasa Sya’ban sejak aku mendengar seruan utusan Rasulullah saw dan, insyaAllah, sekali-kali tidak akan pernah terlewatkan olehku selama hidupku. Puasa dua bulan berturut-turut (pahalanya) adalah taubat dari Allah.
Amalan bulan Sya’ban
1.Amalan umum, yang diamalkan selama satu bulan penuh.
2.Amalan khusus, yang khusus diamalkan pada hari-hari dan malam-malam tertentu saja.

Amalan-amalan umum
1.Setiap hari membaca kalimat berikut:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ .
Aku memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada-Nya.

2.Beristighfar setiap hari sebanyak 70 kali dengan membaca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ الْحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Aku memohon ampunan Allah yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Kasih lagi Maha sayang, Yang Maha Hidup dan Menghidupkan dan aku bertaubat kepada-Nya.
3.Bersedekah pada bulan ini walau dengan setengah biji kurma agar Allah haramkan jasadnya dari panasnya Neraka. Diriwayatkan dari Imam ash-Shâdiq, “Apa pahala puasa bulan Sya’ban?, “Surga, demi Allah,”
“Amalan apa yang paling utama dikerjakan ketika itu,”
“Sedekah dan istighfar,”
“Barang siapa bersedekah di bulan Sya’ban Allah akan memelihara sedekahnya seperti seseorang dari kalian memelihara tanamannya hingga dibayarkan pada hari kiamat dan telah menjadi seperti gunung Uhud.
4.Membaca 1000 kali kalimat berikut:
لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ .
Siapa mengamalkannya dicatat baginya ibadah seribu tahun.
5.Shalat dua rakaat pada setiap hari kamis dari bulan Sya’ban. Pada setiap rakaat membaca al-Fatihah satu kali dan qulhu seratus kali. Setelah salam membaca shalawat kepada Nabi dan keluarganya seratus kali, Allah kabulkan segala hajat dunianya dan akhiratnya. Mengerjakannya dianjurkan dalam keadaan berpuasa.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Langit-langit berhias pada setiap hari kamis dari bulan Sya’ban, dan para Malaikat berkata, “Tuhan kami, ampunilah ia yang berpuasa dan kabulkanlah ia yang berdo’a ”.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa berpuasa pada hari senin dan kamis dari bulan sya’ban, baginya Allah kabulkan 20 hajat dunia dan 20 hajat akhirat.
6.Memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi dan keluarganya.
7.Pada setiap tiba waktu zawal selama bulan Sya’ban dan pada malam nisfu Sya’ban membaca shalawat yang berasal dari Imam as-Sajjâd berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ شَجَرَةِ النُّبُوَّةِ ، وَمَوْضِعِ الرِّسَالَةِ ، وَمُخْتَلَفِ الْمَلاَئِكَةِ ، وَمَعْدِنِ العِلْمِ ، وَأَهْلِ بَيْتِ الوَحْيِ . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ الفُلْكِ الْجَارِيَةِ فِي اللُّجَجِ الغَامِرَةِ ، يَأْمَنُ مَنْ رَكِبَهَا ، وَيَغْرَقُ مَنْ تَرَكَهَا ، الْمُتَقَدِّمُ لَهُمْ مَارِقٌ ، وَالْمُتَأَخِّرُ عَنْهُمْ زَاهِقٌ ، وَاللَّازِمُ لَهُمْ لاَحِقٌ . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ الكَهْفِ الْحَصِيْنِ ، وَغِيَاثِ الْمُضْطَرِّ الْمُسْتَكِيْنِ ، وَمَلْجَأِ الْهَارِبِيْنَ ، وَعِصْمَةِ الْمُعْتَصِمِيْنَ . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ صَلاَةً كَثِيْرَةً تَكُوْنُ لَهُمْ رِضًا ، وَلِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ أَدَاءً وَقَضَاءً بِحَوْلٍ مِنْكَ وَقُوَّةٍ يَارَبَّ العَالَمِيْنَ . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ الطَّيِّبِيْنَ الأَبْرَارِ الأَخْيَارِ ، الَّذِيْنَ أَوْجَبْتَ حُقُوْقَهُمْ ، وَفَرَضْتَ طَاعَتَهُمْ وَوِلاَيَتَهُمْ . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَاعْمُرْ قَلْبِي بِطَاعَتِكَ ، وَلاَتُخْزِنِي بِمَعْصِيَتِكَ ، وَارْزُقْنِي مُوَاسَاةَ مَنْ قَتَّرْتَ عَلَيْهِ مِنْ رِزْقِكَ بِمَا وَسَّعْتَ عَلَيَّ مِنْ فَضْلِكَ ، وَنَشَرْتَ عَلَيَّ مِنْ عَدْلِكَ ، وَأَحْيَيْتَنِي تَحْتَ ظِلِّكَ ، وَهَذاَ شَهْرُ نَبِيِّكَ سَيِّدِ رُسُلِكَ شَعْبَانُ الَّذِي حَفَفْتَهُ مِنْكَ بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ الَّذِي كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَدْأَبُ فِي صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ فِي لَيَالِيْهِ وَأَيَّامِهِ بُخُوْعًا لَكَ فِي إِكْرَامِهِ وَإِعْظَامِهِ إِلَى مَحَلَّ حِمَامِهِ . اللَّهُمَّ فَأَعِنَّا عَلَى الاِسْتِنَانِ بِسُنَّتِهِ فِيْهِ ، وَنَيْلِ الشَّفَاعَةِ لَدَيْهِ . اللَّهُمَّ وَاجْعَلْهُ لِي شَفِيْعًا مُشَفَّعًا ، وَطَرِيْقًا إِلَيْكَ مَهْيَعًا ، وَاجْعَلْنِي لَهُ مُتَّبِعًا حَتىَّ أَلْقَاكَ يَوْمَ القِيَامَةِ عَنِّي رَاضِياً ، وَعَنْ ذُنُوْبِي غَاضِيًا ، قَدْ أَوْجَبْتَ لِي مِنْكَ الرَّحْمَةَ وَالرِّضْوَانَ ، وَأَنْزَلْتَنِي دَارَ القَرَارِ وَمَحَلَّ الأَخْيَارِ .
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Pohon kenabian, poros risalah, hilir-mudik Malaikat, pusat pengetahuan, penghuni rumah wahyu.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Bahtera itu mengarungi samudera yang dalam dan berombak. Niscaya selamat dengan menumpanginya dan tenggelam karena meninggalkannya. Binasalah ia yang mendahului mereka. Tenggelamlah ia yang meninggalkan mereka. Dan selamatlah ia yang bersama mereka.
Ya Allah, anugerahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Benteng pelindung yang kokoh, naungan orang yang kesulitan dan terjepit, pelindung orang-orang yang ketakutan dan para pencari perlindungan.
Ya Allah, anugerahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Shalawat yang banyak sehingga mereka ridha pada kami, karena kami tela tunaikan tugas dan kewajiban kami terhadap mereka. Dengan daya dan kekuatan-Mu, wahai Tuhan seluruh alam.
Ya Allah, anugerahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad yang suci, bersih dan baik. Yang Engkau wajibkan kepada kami untuk menghormati hak-hak mereka, mentaati mereka, dan berwilayah kepada mereka.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Gemuruhkan hati kami dengan ketaatan kepada-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami dengan maksiat kepada-Mu. Karuniakan kepada kami perasaan ia yang kesulitan karena kekurangan rizki, karena telah Engkau luaslkan karunia-Mu kepada kami. Telah Engkau bentangkan kepada kami keadilan-Mu, serta Engkau hidupkan kami dibawah lindungan-Mu.
Bulan ini adalah bulan penghulu para Rasul-Mu, bulan Sya’ban yang Engkau naungi kasih dan ridha-Mu. Inilah bulan ketika Rasulullah saw melewati siang harinya dengan puasa dan malam harinya dengan ibadah (qiyamullail). Khusyuk merendahkan hatinya di hadapan-Mu dengan memuliakan dan mengagungkannya hingga ajal menghampirinya. Ya Allah, bantulah kami untuk dapat mengikuti sunnahnya (Muhammad) di bulan ini, dan beroleh syafaatnya. Ya Allah, jadikan ia yang dapat memberikan syafaat pada kami, dan pembimbing kami menuju-Mu. Jadikan kami selalu mengikutinya hingga kami berjumpa dengan-Mu di hari akhir kelak, saat itu Engkau telah ridha kepada kami dan mengabaikan dosa-dosa kami.
8. Membaca munajat Sya’baniyah.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَاسْمَعْ دُعَائِي إِذَا دَعَوْتُكَ ، وَاسْمَعْ نِدَائِي إِذَا نَادَيْتُكَ ، وَأَقْبِلْ عَلَيَّ إِذَا نَاجَيْتُكَ فَقَدْ هَرَبْتُ إِلَيْكَ ، وَوَقَفْتُ بَيْنَ يَدَيْكَ مُسْتَكِيْنًا لَكَ ، مُتَضَرِّعًا إِلَيْكَ ، رَاجِيًا لِمَا لَدَيْكَ ثَوَابِي ، وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي ، وَتَخْبُرُ حَاجَتِي ، وَتَعْرِفُ ضَمِيْرِي ، وَلاَ يَخْفَى عَلَيْكَ أَمْرُ مُنْقَلَبِي وَمَثْوَايَ ، وَمَا أُرِيْدُ أَنْ أُبْدِئَ بِهِ مِنْ مَنْطِقِي ، وَأَتَفَوَّهُ بِهِ مِنْ طَلَبَتِي ، وَأَرْجُوْهُ لِعَاقِبَتِي ، وَقَدْ جَرَتْ مَقَادِيْرُكَ عَلَيَّ يَا سَيِّدِي فِيْمَا يَكُوْنُ مِنِّي إِلَى آخِرِ عُمْرِي مِنْ سَرِيْرَتِي وَعَلاَنِيَتِي وَبِيَدِكَ لاَ بِيَدِ غَيْرِكَ زِيَادَتِي وَنَقْصِي وَنَفْعِي وَضَرِّي . إِلَهِي إِنْ حَرَمْتَنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْزُقُنِي ؟ وَإِنْ خَذَلْتَنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُنِي ؟ إِلَهِي أَعُوْذُبِكَ مِنْ غَضَبِكَ وَحُلُوْلِ سَخَطِكَ . إِلَهِي إِنْ كُنْتُ غَيْرَ مُسْتَأْهِلٍ لِرَحْمَتِكَ فَأَنْتَ أَهْلٌ أَنْ تَجُوْدَ عَلَيَّ بِفَضْلِ سَعَتِكَ . إِلَهِي كَأَنِّي بِنَفْسِي وَاقِفَةٌ بَيْنَ يَدَيْكَ وَقَدْ أَظَلَّهَا حُسْنُ تَوَكُّلِي عَلَيْكَ فَفَعَلْتُ مَا أَنْتَ أَهْلُهُ وَتَغَمَّدْتَنِي بِعَفْوِكَ . اِلَهِي إِنْ عَفَوْتَ فَمَنْ أَوْلَى مِنْكَ بِذَلِكَ ؟ وَإِنْ كَانَ قَدْ دَنَا أَجَلِي وَلَمْ يُدْنِيْنِي مِنْكَ عَمَلِيْ فَقَدْ جَعَلْتُ الإِقْرَارَ بِالذَّنْبِ إِلَيْكَ وَسِيْلَتِي . إِلَهِي قَدْ جُرْتُ عَلَى نَفْسِي فِي النَّظَرِ لَهَا فَلَهَا الوَيْلُ إِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَهَا . إِلَهِي لَمْ يَزَلْ بِرُّكَ عَلَيَّ أَيَّامَ حَيَاتِي فَلاَ تَقْطَعْ بِرَّكَ عَنِّي فِي مَمَاتِي . إِلَهِي كَيْفَ آيَسُ مِنْ حُسْنِ نَظَرِكَ لِي بَعْدَ مَمَاتِي وَأَنْتَ لَمْ تُوَلِّنِي إِلاَّ الْجَمِيْلَ فِي حَيَاتِي . إِلَهِي تَوَلَّ مِنْ أَمْرِي مَا أَنْتَ أَهْلُهُ ، وَعُدْ عَلَيَّ بِفَضْلِكَ عَلَى مُذْنِبٍ قَدْ غَمَرَهُ جَهْلُهُ . إِلَهِي سَتَرْتَ عَلَيَّ ذُنُوْبًا فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَحْوَجُ إِلَى سِتْرِهَا عَلَيَّ مِنْكَ فِي الأُخْرَى . إِلَهِي قَدْ أَحْسَنْتَ إِلَيَّ إِذْ لَمْ تُظْهِرْهَا لِأَحَدٍ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ فَلاَ تَفْضَحْنِي يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رُؤُوْسِ الأَشْهَادِ . إِلَهِي جُوْدُكَ بَسَطَ أَمَلِي ، وَعَفْوُكَ أَفْضَلُ مِنْ عَمَلِي . إِلَهِي فَسُرَّنِي بِلِقَائِكَ يَوْمَ تَقْضِي فِيْهِ بَيْنَ عِبَادِكَ . إِلَهِي اعْتِذَارِي إِلَيْكَ اعْتِذَارُ مَنْ لَمْ يَسْتَغْنِ عَنْ قَبُوْلِ عُذْرِهِ فَاقْبَلْ عُذْرِي يَا أَكْرَمَ مَنِ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ الْمُسِيْئُوْنَ . إِلَهِي لاَ تَرُدَّ حَاجَتِي ، وَلاَ تُخَيِّبْ طَمْعِي ، وَلاَ تَقْطَعْ مِنْكَ رَجَائِي وَأَمَلِي . إِلَهِي لَوْ أَرَدْتَ هَوَانِي لَمْ تَهْدِنِي ، وَلَوْ أَرَدْتَ فَضِيْحَتِي لَمْ تُعَافِنِي . إِلَهِي مَا أَظُنُّكَ تَرُدُّنِي فِي حَاجَةٍ قَدْ أَفْنَيْتُ عُمْرِي فِي طَلَبِهَا مِنْكَ . إِلَهِي فَلَكَ الْحَمْدُ أَبَدًا أَبَدًا دَائِمًا سَرْمَدًا يَزِيْدُ وَلاَ يَبِيْدُ كَمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى . إِلَهِي إِنْ أَخَذْتَنِي بِجُرْمِي أَخَذْتُكَ بِعَفْوِكَ ، وَإِنْ أَخَذْتَنِي بِذُنُوْبِي أَخَذْتُكَ بِمَغْفِرَتِكَ ، وَإِنْ أَدْخَلْتَنِي النَّارَ أَعْلَمْتُ أَهْلَهَا أَنِّي أُحِبُّكَ . إِلَهِي إِنْ كَانَ صَغُرَ فِي جَنْبِ طَاعَتِكَ عَمَلِي فَقَدْ كَبُرَ فِي جَنْبِ رَجَائِكَ أَمَلِي . إِلَهِي كَيْفَ أَنْقَلِبُ مِنْ عِنْدِكَ بِالْخَيْبَةِ مَحْرُوْمًا وَقَدْ كَانَ حُسْنُ ظَنِّي بَجُوْدِكَ أَنْ تَقْلِبَنِي بِالنَّجَاةِ مَرْحُوْمًا ؟ إِلَهِي وَقَدْ أَفْنَيْتُ عُمْرِي فِي شِرَّةِ السَّهْوِ عَنْكَ ، وَأبْلَيْتُ شَبَابِي فِي سَكْرَةِ التَّبَاعُدِ مِنْكَ . إِلَهِي فَلَمْ أَسْتَيْقِظْ أَياَّمَ اغْتِرَارِي بِكَ ، وَرُكُوْنِي إِلَى سَبِيْلِ سَخَطِكَ . إِلَهِي وَأَناَ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ قَائِمٌ بَيْنَ يَدَيْكَ ، مُتَوَسِّلٌ بِكَرَمِكَ إِلَيْكَ . إِلَهِي أَنَا عَبْدٌ أَتَنَصَّلُ إِلَيْكَ مِمَّا كُنْتُ أُوَاجِهُكَ بِهِ مِنْ قِلَّةِ اسْتِحْيَائِي مِنْ نَظَرِكَ ، وَأَطْلُبُ العَفْوَ مِنْكَ إِذِ العَفْوُ نَعْتٌ لِكَرَمِكَ . إِلَهِي لَمْ يَكُنْ لِي حَوْلٌ فَأَنْتَقِلُ بِهِ عَنْ مَعْصِيَتِكَ إِلاَّ فِي وَقْتٍ أَيْقَظْتَنِي لِمَحَبَّتِكَ ، وَكَمَا أَرَدْتَ أَنْ أَكُوْنَ كُنْتُ فَشَكَرْتُكَ بِإِدْخَالِي فِي كَرَمِكَ ، وَلِتَطْهِيْرِ قَلْبِي مِنْ أَوْسَاخِ الغَفْلَةِ عَنْكَ . إِلَهِي انْظُرْ إِلَيَّ نَظَرَ مَنْ نَادَيْتَهُ فَأَجَابَكَ ، وَاسْتَعْمَلْتَهُ بِمَعُوْنَتِكَ فَأَطَاعَكَ ، يَا قَرِيْباً لاَيبَعْدُ ُعَنْ الْمُغْتَرِّ بِهِ ، وَيَا جَوَادًا لاَ يَبْخَلُ عَمَّنْ رَجَا ثَوَابَهُ . إِلَهِي هَبْ لِي قَلْباً يُدْنِيْهِ مِنْكَ شَوْقُهُ ، وَلِسَانًا يَرْفَعُ إِلَيْكَ صِدْقُهُ ، وَنَظَرًا يُقَرِّبُهُ مِنْكَ حَقُّهُ . إِلَهِي إِنَّ مَنْ تَعَرَّفَ بِكَ غَيْرَ مَجْهُوْلٍ ، وَمَنْ لاَذَ بِكَ غَيْرُ مَخْذُوْلٍ ، وَمَنْ أَقْبَلْتَ عَلَيْهِ غَيْرُ مَمْلُوْلٍ . إِلَهِي إِنَّ مَنْ انْتَهَجَ بِكَ لَمُسْتَنِيْرٌ ، وَإِنَّ مَنِ اعْتَصَمَ بِكَ لَمُسْتَجِيْرٌ ، وَقَدْ لُذْتُ بِكَ يَا إِلَهِي فَلاَ تُخَيِّبْ ظَنِّي مِنْ رَحْمَتِكَ ، وَلاَ تَحْجُبْنِي عَنْ رَأْفَتِكَ . إِلَهِي أَقِمْنِي فِي أَهْلِ وِلاَيَتِكَ مُقَامَ مَنْ رَجَا الزِّيَادَةَ مِنْ مَحَبَّتِكَ . إِلَهِي وَأَلْهِمْنِي وَلَهًا بِذِكْرِكَ إِلَى ذِكْرِكَ ، وَهِمَّتِي فِي رَوْحِ نَجَاحِ أَسْمَائِكَ وَمَحَلِّ قُدْسِكَ . إِلَهِي بِكَ عَلَيْكَ إِلاَّ أَلْحَقْتَنِي بِمَحَلِّ أَهْلِ طَاعَتِكَ ، وْالْمَثْوَى الصَّالِحِ مِنْ مَرْضَاتِكَ ، فَإِنِّي لاَ أَقْدِرُ لِنَفْسِى دَفْعاً ، وَلاَ أَمْلِكُ لَهَا نَفْعاً . إِلَهِي أَناَ عَبْدُكَ الضَّعِيْفُ الْمُذْنِبُ ، وَمَمْلُوْكُكَ الْمُنِيْبُ فَلاَ تَجْعَلْنِي مِمَّنْ صَرَفْتَ عَنْهُ وَجْهَكَ ، وَحَجَبَهُ سَهْوُهُ عَنْ عَفْوِكَ . إِلَهِي هَبْ لِي كَمَالَ الاِنْقِطَاعِ إِلَيْكَ ، وَأَنِرْ أَبْصَارَ قُلُوْبِنَا بِضِيَاءِ نَظَرِهَا إِلَيْكَ ، حَتىَّ تَخْرِقَ أَبْصَارُ القُلُوْبِ حُجُبَ النُّوْرِ فَتَصِلَ إِلَى مَعْدِنِ العَظَمَةِ ، وَتَصِيْرَ أَرْوَاحُنَا مُعَلَّقَةً بِعِزِّ قُدْسِكَ . إِلَهِي وَاجْعَلْنِي مِمَّنْ ناَدَيْتَهُ فَأَجَابَكَ ، وَلاَحَظْتَهُ فَصَعِقَ لِجَلاَلِكَ ، فَنَاجَيْتَهُ سِرًّا وَعَمِلَ لَكَ جَهْرًا . إِلَهِي لَمْ أُسَلِّطْ عَلَى حُسْنِ ظَنِّي قُنُوْطَ الأَيَاسِ ، وَلاَ انْقَطَعَ رَجَائِي مِنْ جَمِيْلِ كَرَمِكَ . إِلَهِي إِنْ كَانَتِ الْخَطَاياَ قَدْ أَسْقَطَتْنِي لَدَيْكَ فَاصْفَحْ عَنِّي بِحُسْنِ تَوَكُّلِيْ عَلَيْكَ . إِلَهِي إِنْ حَطَّتْنِي الذُّنُوْبُ مِنْ مَكَارِمِ لُطْفِكَ فَقَدْ نَبَّهَنِي اليَقِيْنُ إِلَى كَرَمِ عَطْفِكَ . إِلَهِي إِنْ أَنَامَتْنِي الغَفْلَةُ عَنِ الاِسْتِعْدَادِ لِلِقَائِكَ فَقَدْ نَبَّهَتْنِي الْمَعْرِفَةُ بِكَرَمِ آلاَئِكَ . إِلَهِي إِنْ دَعَانِي إِلَى النَّاِر عَظِيْمُ عِقَابِكَ فَقَدْ دَعَانِي إِلَى الْجَنَّةِ جَزِيْلُ ثَوَابِكَ . إِلَهِي فَلَكَ أَسْأَلُ وَإِلَيْكَ أَبْتَهِلُ وَأَرْغَبُ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَأَنْ تَجْعَلَنِي مِمَّنْ يُدِيْمُ ذِكْرَكَ ، وَلاَ يَنْقُضُ عَهْدَك ، وَلاَ يَغْفُلُ عَنْ شُكْرِكَ ، وَلاَ يَسْتَخِفُّ بِأَمْرِكَ . إِلَهِي وَأَلْحْقْنِي بِنُوْرِ عِزِّكَ الأَبْهَجِ فَأَكُوْنَ لَكَ عَارِفاً ، وَعَنْ سِوَاكَ مُنْحَرِفاً ، وَمِنْكَ خَائِفًا مُرَاقِباً ، ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ رَسُوْلِهِ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Dengarkanlah seruanku kala aku menyeru-Mu, sahutilah panggilanku kala aku memanggil-Mu, tengoklah aku kala aku bermunajat kepada-Mu. Aku telah berlari ke arah-Mu, lalu berdiri di hariban-Mu, dengan segenap kerendahanku aku berharap akan pahala-Mu.
Engkau tahu apa yang ada di dalam diriku dan Engkau tahu hajatku. Engkau juga tahu sanubariku, masa depan dan seluruh gerak-gerikku tak luput dari pengawasan-Mu, juga apa yang hendak aku nyatakan dengan lidahku dan harapan yang hendak aku ungkapkan tentang akhir nasibku.
Tuhan, sungguh telah berlaku segala keputusan-Mu atas diriku dan segala sesuatu yang aku alami hingga akhir usiaku, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, semuanya dalam genggaman-Mu dan bukan selain-Mu, semua Kelebihan dan kekuranganku, keuntungan dan kerugianku. Bila Engkau abaikan aku, maka siapa yang akan menolongku.
Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari murka dan amarah-Mu.
Tuhan, andaikan aku tidak patut menerima kasih-Mu, maka Engkau sungguh layak untuk memberiku karunia-Mu karena luasnya rahmat-Mu.
Tuhan, aku bayangkan diriku berdiri di hadapan-Mu dengan naungan prasangka baikku pada-Mu, lalu Engkau putuskan apa yang layak bagi-Mu. Dan Engkau selimuti aku dengan ampunan-Mu
Tuhan, bila Engkau ampuni, siapa yang lebih layak dari-Mu untuk itu. Andaikan ajalku telah dekat, tapi amalku tidak mendekatku pada-Mu. Maka sungguh aku jadikan pangakuan atas segala dosaku sebagai perantaraku.
Tuhan, sungguh telah aku aniaya diriku karena kelalaianku. Sungguh celaka diriku bila Enkau tidak mengampuniku.
Tuhan, kebaikanmu selalu tercurah padaku sepanjang hidupku. Maka janganlah Engkau hentikan kebaikan-Mu padaku saat kematianku.
Tuhan, bagaimana aku kehilangan asa dari kebaikan-Mu setelah kematianku. Padahal seluruh kebaikan-Mu telah Engkau curahkan selama hidupku.
Tuhan, perlakukanlah aku sebagaimana yang layak bagi-Mu. Curahkan anugerah-Mu padaku, seorang hamba yang berlumuran dosa dan yang tenggelam karena kebodohannya.
Tuhan, telah Kau sembunyikan dosa-dosaku selama di dunia, dan aku lebih membutuhkannya di akhirat kelak.
Tuhan, sungguh Engkau telah berbuat baik padaku. Bila Engkau tidak membuka (dosa-dosa)di hadapan hamba-hamba-Mu yang shaleh, maka janganlah Engkau permalukan aku di hari kiamat di depan mata-mata yang melihat.
Tuhan, derma-Mu melapangkan harapanku. Ampunan-Mu lebih utama dari amalku.
Tuhan, bahagiakan aku dengan perjumpaan dengan-Mu pada hari Engkau jatuhkan keputusan-Mu kepada hamba-hamba-Mu.
Tuhan, ma’afku pada-Mu adalah ma’afnya orang yang membutuhkan ampunan-Mu. Maka terimalah maafku wahai Yang memaafkan para pendosa.
Tuhan, jangan Engkau tolak permohonanku, jangan hampakan keinginanku, jangan Engkau putuskan harapan dan asaku.
Tuhan, bila Engkau hendak menghinakanku niscaya Engkau takkan memanduku. Seandainya Engkau hendak mempermalukanku, niscaya Engkau takkan memaafkanku.
Tuhan, sungguh aku tak terpikir olehku bahwa Engkau akan menolak permohonan yang telah kuhabiskan usiaku untuk dalam menuntut pemenuhannya dari-Mu.
Tuhan, bagi-Mu segala pujian yang kekal nan abadi, yang selalu bertambah dan takkan pernah lenyap, seperti yang Engkau inginkan dan ridhai.
Tuhan, bila Engkau menuntutku karena kejahatanku, aku megandalkan ma’af-Mu. Dan jika Engkau menuntutku karena dosa-dosaku, aku akan berlindung dibalik ampunan-Mu. Jika Engkau masukkan aku ke neraka, akan aku umumkan kepada para penghuninya bahwa aku mencintai-Mu.
Tuhan, jika amalku lebih kecil dari taatku pada-Mu, harapanku untuk berada di sisi-Mu tetaplah besar.
Tuhan, bagaimana mungkin aku meninggalkan-Mu dalam keadaan kecewa dan tertolak, padahal prasangka baikku akan derma-Mu pasti mendatangkan keselamatan.
Tuhan, sungguh telah ku sia-siakan hidupku dalam kelalaian akan diri-Mu. Telah aku habiskan masa mudaku dalam mabuk jauh dari-Mu.
Tuhan, aku tidak sadar dikala lalai dari-Mu dan cenderung pada jalan kemurkaan-Mu.
Tuhan, aku adalah hamba-Mu putra hamba-Mu, berdiri dihadapan-Mu seraya bertawashul kepada-Mu dengan kemurahan-Mu.
Tuhan, hamba-Mu, kubersihkan diri dari dosa-dosa yang kulakukan karena kurangnya rasa maluku di hadapan-Mu. Aku mohon ampunan-Mu karena pengampunan adalah sifat dari kemurahan-Mu.
B. Amalan khusus
1. Pada malam pertama. Melakukan shalat 12 rakaat pada setiap rakaat membaca al-fâtihah 1 kali dan qulhu 11 kali.
2. Puasa pada hari pertama.
Malam nisfu Sya’ban
Malam nisfu Sya’ban. Tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban, Imam al-Bâqir bersabda, “ialah Malam yang paling utama setelah malam qadar, dengan kemuliaannya Allah ampuni para hamba. Maka bersungguh-sungguhlah pada malam itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena Allah telah bersumpah kepada diri-Nya untuk tidak menolak orang yang memohon pada malam itu, selain maksiat. Sesungguhnya adalah malam yang Allah ciptakan untuk kami, Ahlulbait, seperti malam qadar yang diciptakan untuk Nabi kita saaw, maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa dan memuji-Nya.
Amalan Nisfu Sya’ban
1.Mandi. Bermanfaat untuk meringankan dosa.
2.Menghidupkannya dengan shalat, doa, istighfar, seperti diamalkan oleh Imam Ali Zaenal Abidin. Barang siapa menghidupkan malam ini, tidak mati hatinya di hari hati-hati menjadi mati.
3.Ziarah Imam Husein.
4.Membaca shalawat yang dibaca saat zawal setiap hari.
5.Membaca doa Kumail.
6.Membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir. Masing-masing 100 kali. Agar Allah mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan memenuhi segala kebutuhan dunia dan akhiratnya.
7.Memperbanyak sujud dan membaca do’a.
8.Shalat Ja’far ath-Thayyâr (salat tasbih).

Amalan akhir bulan Sya’ban
1.Puasa. Bagi yang tidak sempat berpuasa satu bulan penuh, dianjurkan untuk berpuasa tiga hari terakhri bulan sya’ban, kemudian diteruskan dengan puasa bulan ramadhan. Baginya pahala puasa dua bulan berturut-turut.
2.Memperbanyak doa, istighfar, dan membaca al-Qur’an. Diantaranya do’a berikut:
االلَّهُمَّ إِنْ لَمْ تَكُنْ غَفَرْتَ لَنَا فِيْمَا مَضَى مِنْ شَعْبَانَ فَاغْفِرْ لَنَا فِيْمَا بَقِيَ مِنْهُ
Ya Allah, bila tidak Engkau ampuni kami pada hari-hari Sya’ban yang telah lewat, Maka ampunilah kami pada hari-harinya yang tersisa.

Minggu, 20 Juli 2008

AMALAN BULAN RAJAB

A. AMALAN UMUM
I.ISTIGHFAR
1. Banyak membaca istigfar . Boleh memilih salah satu dari antara berikut:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ .
Aku beristighfar kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia, tiada sekutu baginya, dan aku bertaubat kepadanya.
Bila membacanya seratus kali kemudian menutupnya dengan shadaqah, Allah akan menutup harinya dengan Rahmat dan ampunan.
2. Atau membaca istighfar berikut sebanyak 70 kali setiap pagi dan petang:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Aku memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada-Nya
Setelah genap tujuh puluh kali sambil mengangkat tangan membaca berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ
Ya Allah, ampunilah Aku dan terimahlah taubatku

Barang siapa yang meninggal di bulan rajab setelah mengamalkannya, meninggal dalam keadaan diridhai dan tidak disentuh oleh neraka karena berkah bulan rajab.

3. Membaca:
لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Barang siapa membacanya seribu kali, Allah akan memberinya seratus ribu kebaikan , dan membangunkan seribu kota di surga.
II. SHALAT
Memperbanyak shalat sunnah. Boleh memilih salah satu dari berbagai tata cara berikut :
1. Shalat empat rakaat pada hari jum’at bulan Rajab antara waktu dzuhur dengan asar. Selesai membaca al-fatihah pada setiap rakaat membaca ayat kursi tujuh kali dan al-Ikhlas lima kali. Kemudian membaca sepuluh kali istighfar berikut:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَأَسْأَلُهُ التَّوْبَةَ .
Allah akan memberinya seribu kebaikan dari hari ia mengamalkannya hingga tiba ajalnya, dan pada setiap ayat yang ia baca diberinya pahala satu kota di surga yang terbuat dari yaqut merah, dan pada setiap huruf istana dari mutiara putih, dan dinikahkan dengan bidadari, Allah ridha kepadanya. Digolongkan termasuk ahli ibadah. Dan hidupnya ditutup dengan kebahagiaan dan ampunan.
2. Setelah shalat Isya’ melakukan shalat dua rakaat. Pada rakaat pertama setelah al-fatihan membaca alam nasyrah satu kali, dan qulhu tiga kali. Dan pada rakaat kedua membaca alam nasyrah, qulhu, ditambah mu’awidzatain. Setelah salam membaca lâ ilâha illallah 30 kali, dan bershalawat kepada Nabi dan keluarganya 30 kali. Allah akan mengampuni dosanya dan menjadi seperti baru dilahirkan oleh ibunya.
3. Shalat sepuluh rakaat dengan satu kali salam setiap dua rakaat. dilaksanakan pada salah satu malam rajab, pada setiap rakaat setelah al-fatihan membaca surat al-Kâfirûn 1 kali, dan lâ ilâha illâllah 3 kali. Allah akan mengampuni segala dosa yang pernah ia kerjakan.
III. PUASA
Bila tidak dapat berpuasa selama satu bulan penuh, Anda dapat berpuasa selama satu, dua, tiga hari. Usahakan ada hari dimana Anda berpuasa selama bulan rajab. Jangan biarkan rajab berlalu tanpa satu haripun anda berpuasa di dalamnya.

Keutamaan bulan Rajab

Rasulullah saw bersabda : “Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulannya umatku. Ketahuilah, barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan rajab ia pasti beroleh keridhaan Allah, dijauhkan dari murka Allah, dan ditutup darinya salah satu pintu neraka. Dari Imam Musa bin Ja’far berkata, “Barang siapa yang berpuasa satu hari dari bulan Rajab Neraka menjauh darinya sejauh satu tahun perjalanan. Dan barang siapa yang berpuasa tiga hari wajib baginya beroleh surga. Rajab adalah salah satu sungai di surga yang airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari manisnya madu, dan barang siapa yang berpuasa satu hari dari bulan rajab kepadanya Allah berikan minuman dari sungai tersebut. Dari Imam Shadiq berkata, “Rajab adalah bulan istighfar bagi umatku, maka perbanyaklah beristighfar di dalamnya dengan membaca, “Astaghfirullah” bertaubatlah kepada-Nya.

Imam Shadiq pernah bertanya kepada muridnya, Salim: “Wahai Salim, apakah engkau berpuasa, walau satu hari saja, dalam bulan ini? Salim menjawab, “Tidak, wahai putra Rasulullah saaw.” Imam menjawab, “Sungguh telah engkau lewatkan pahala yang besarnya hanya Allah saja yang mengetahuinya. Sesungguhnya Allah telah memuliakan bulan ini dan mengagungkan kemuliaannya, dan mewajibkan kemuliaan-Nya bagi orang-orang yang berpuasa "Salim bertanya, “Wahai putra Rasulullah, apabila aku berpuasa pada yang tersisa dari bulan ini , apakah juga akan beroleh pahala orang-orang yang berpuasa?

Imam Ja’far menjawab, “Wahai Salim, siapa yang berpuasa satu hari di akhir bulan ini baginya rasa aman dari dahsyatnya sakaratul maut dan dari pedihnya siksa kubur. Dan barang siapa yang berpuasa dua hari terakhir dari bulan ini, baginya kemudahan menyeberangi jembatan shirath. Dan barang siapa yang berpusa dalam tiga hari terakhir dari bulan ini, baginya kebebasan dari Neraka.

Bagi yang tidak mampu berpuasa pada bulan ini dapat menggantinya dengan membaca tasbih dibawah ini setiap hari sebanyak seratus kali:

سُبْحَانَ الإِلٰهِ الْجَلِيْلِ ! سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنْبَغِي التَسْبِيْحُ إِلاَّ لَهُ ! سُبْحَانَ الأَعَزِّ الأَكْرَمِ ! سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ العِزَّ وَهُوَ لَهُ أَهْلٌ .

Maha Suci Tuhan yang Agung! Maha Suci Yang hanya milik-Nya segala pujian! Maha Suci Dia Yang Paling Mulia! Maha Suci Dia yang memakai baju kemuliaan yang pantas untuk-Nya.

Jumat, 11 Juli 2008

Hidayat Nur Wahid Menebar virus fitnah di Gontor

DR.Hidayat Nur Wahid adalah alumni PM Gontor yang menyelesaikan pendidikan S1 sampai S3 di Universitas Madinah. Sejak kepulangannya ke Indonesia sampai tahun 2002, saya sebut saja Mr.DR, selalu mengisi pembekalan bagi calon alumni Gontor. Materi yang disampaikan, biasanya, tentang al-Madzâhib al-Haddâmah, atau madzhab-madzhab yang merusak dan menyimpang, atau kelompok-kelompok sempalan, atau kelompok-kelompok yang, dalam subyektifitasnya, bukan dari Islam, alias Kafir, dan harus dilarang di bumi nusantara.
Nah, diantara madzhab yang masuk dalam katagori terlarang tersebut –sekali lagi menurut pandanganya yang subyektif fanatis – adalah, Syiah. Saya lebih sreg untuk menyebut apa yang dilakukan Mr.DR di Gontor sebagai tindakan profokasi, menebar fitnah, menumbuhkan kebencian diantara sesama umat Islam, daripada menyebutnya sebagai, pembekalan.
Syiah, menurut Mr.DR, sesat dan menyesatkan. Silahkan Anda baca pengantar Mr.DR pada buku Ensiklopedia Sunnah-Syiah terbitan al-Kautsar. Di sini, saya hanya menyuguhkan kepada Anda apa yang saya dengar sendiri sebagia fitnah yang keluar dari mulut sang DR saat menyampaikan materinya di Gontor.

Mr.DR menuduh Imam Khomeini berdusta, menipu umat Islam dengan slogan revolusinya islâmiyah, islâmiyah. Karena ternyata Imam Khomeini menyebut Syiah Imamiyah Istna ‘asyariah dalam UUD.
Mr.DR juga menuduh Imam Khomeini melakukan mut’ah dengan anak kecil.
Mr.DR menuduh para Ulama Syiah telah menyelewengkan al-Quran.
Mr.DR menuduh para Ulama Syiah tak ubahnya orang-orang munafik dengan kedok taqiyah.

Itulah sedikit dari banyaknya virus fitnah yang ia sebarkan di tengah-tengah kaum santri. Untuk menilai kualitas Mr.Dr. silahkan Anda nilai sendiri 4 issu di atas.

Senin, 24 Maret 2008

AKU DI SINI




Ketika perompak di jalan Tuhan menjual ayat-ayat suci
ketika agamawan mempermainkan hadits-hadits Nabi
ketika fatwa sesat diikuti
ketika perbedaan dikafiri
ketika minoritas didzalimi
aku harus ada di sini...

MELACAK SEJARAH TASYAYU'

Persoalan tasyayu' menjadi perdebatan sengit diantara umat Islam sedari dulu hingga sekarang. Berbagai pendapat saling tumpang tindih. Sebagian melihat syi'ah sebagai salah satu kelompok yang muncul pada masa booming ideology yang melanda umat Islam karena sebab perbedaan keyakinan yang muncul akibat pertikaian politik, yang terjadi kurang dari setengah abad pasca hijrah Rasulullah ke Madinah. Karena itulah sebagian kalangan menganggap Syi'ah muncul karena sebab politik. Diantara pendukung thesis ini adalah bapak Syafi'I Ma'arif, mantan ketua PP Muhammadiyah.
Tragedy demi tragedy datang silih berganti menimpa umat ini, mengakibatkan perpecahan umat Islam ke dalam pelbagai kelompok yang saling berperang, saling menghalalkan darah saudarannya. Masing-masing kelompok berkeyakinan bahwa hanya kelompoknya sajalah yang benar dan lawannya salah. Kemudian masing-masing berlomba menguatkan bangunan teorinya dengan takwil sebagian teks suci.
Dalam perkembangan selanjutnya, ibarat benang, ideologi umat semakin kusut. Para ideolog masing-masing kelompok, dan didukung pendukung fanatiknya, semakin berani bermain-main dengan hadits Nabi. Memproduksi hadits yang mendukung pandangan ideologinya dan mengecam kelompok lain. Akibatnya, muncul ribuan hadits palsu. Diantaranya: "Di dalam umatku akan muncul sekelompok yang disebut dengan rawafidh, bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang musyrik."
Padahal, seperti yang jamak dikenal di kalangan peneliti al-firaq al-islamiyah bahwa kata Rafidhah disematkan oleh Zaid bin Ali bin Husein kepada orang-orang yang memisahkan diri darinya dalam gerakan perlawanannya menentang dinasti Umayah. Kosa kata ini, ataupun nama-nama lain yang disematkan kepada kelompok-kelompok yang berbeda dengan keyakinan mainstream tidak dikenal di zaman Nabi saw. Diantara hadits lain yang tampak seperti mutawatir karena diriwayatkan oleh hampir semua kelompok adalah hadits perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya binasa kecuali satu. Dan, semua kelompok berusaha membuktikan bahwa kelompoknya sajalah yang dimaksud dengan kelompok yang selamat, selainnya celaka, di neraka.
Seiring dengan perjalanan waktu keyakinan seperti ini mulai terpatri kuat dalam bangunan ideology umat. Riwayat-riwayat buatan tersebut dimasukan ke dalam buku-buku hadits yang dibacakan seolah-olah berasal dari ucapan Nabi saaw. Padahal, berbagai nama dan istilah tersebut belum dikenal di masa risalah dan beberapa masa sesudahnya. Tidak pula tersiar melainkan setelah perang kata-kata antara mutakallimin memuncak pasca infiltrasi kebudayaan-kebudayaan asing ke dalam peradaban islam melalui gerakan penterjemahan. Setiap madrasah mulai membentuk filsafatnya masing-masing dalam bangunan theologinya. Memanfaatkan istilah-istilah yang diperkaya oleh filsafat dan pemikiran Yunani, Persia, India dll.
Ketika gerakan tadwin mulai menapaki masa keemasannya, para pemikir islam masuk ke setiap ranah ilmu pengetahuan. Tidak terkecuali kaum mutakallim. Saat itu, para pengikuti madrasah kalam mulai memasuki perdebatan sengit dalam bidang khilafah dan tata cara pemerintahan. Ketika memasuki penulisan kelompok-kelompok dan madzhab-madzhab islam, mayoritas penulis dalam bidang ini, seperti asy-syahristan dan al-bagdadi dan lainnya dari kalangan mainstream mewakili keinginan mayoritas menamakan dirinya dengan istilah ahlussunah wal jama'ah. Semua karangan pada masa itu terfokus pada satu point tertentu. Yaitu membatasi golongan islam pada tujuh puluh tiga golongan. Menerangkan kesesatan tujuh puluh dua golongan dan membuktikan bahwa golongan yang mewakili mayoritas adalah golongan yang selamat. Dan selainnya, termasuk diantaranya Syi'ah, hanyalah kelompok sempalan yang jauh dari kebenaran.
Untuk membuktikan thesis tersebut ragam pendapat tentang munculnya Syi'ah dan ideology anutannya diangkat ke permukaan. Terkadang dinisbatkan kepada Ibnu Saba' yang mengambil aqidahnya dari Yahudi. Atau, kepada kebudayaan Persia yang ide-idenya terinspirasi oleh theology Majusi. Di saat yang lain disebutkan bahwa Syi'ah adalah kelompok yang terbentuk sebagai reaksi atas penindasan yang menimpa keluarga suci Nabi saaw seperti tragedy Karbala dan, sebelumnya, syahidnya Imam Ali dan Imam Hasan. Sebagian yang lain menyandarkannya kepada peristiwa yang terjadi pasca Saqifah. Sebagian lagi menganggapnya pada zaman Usman dan pelbagai fitnah yang terjadi masa itu. Ada pula yang menyandarkannya pada perang Jamal, atau Shiffin, atau setelah syahidnya imam Husein. Demikianlah carut marutnya pendapat tentang sejarah kemunculan Syi'ah.
Munculnya beragam pendapat tentang awal merekahnya benih tasyayu' ini disebabkan ketidaktahuan mereka akan hakekat tasyayu' sebagai aliran yang mencerminkan Islam dengan segala penampilan dan ideologinya. Bahwa tasyayu' bukan peristiwa baru yang mampir kedalam pemikiran umat Islam. Atau sebagai ideology import dari salah satu bangsa. Tetapi, tasyayu' adalah murni aqidah Islam dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Benihnya ditanam oleh Rasulullah saaw, berkembang dari hari ke hari dan disirami oleh Ahlulbaitnya saaw. Rasulullah saaw lah yang menyematkan kata Syi'ah kepada para pengikut Ali. Demikian seperti di laporkan oleh Jalaluddin Suyuthi dalam kitab tafsirnya ad-Dur al-Mantsûr ketika menafsirkan ayat ulâika hum khairul bayyinah dari surat al-Bayyinat.
Para tokoh Ahlulbait as telah sering menjelaskan ajaran-ajaran tasyayu', menghilangkan semua keraguan, serta memerangi para penyusup yang akan merusak kemurnian tasyayu', membuka kedok orang-orang yang bersembunyi dibalik nama Ahlulbait as untuk mencapai tujuan lain yaitu menghancurkan Islam. Demikian seperti dilaporkan oleh Musthafa Syak'ah dalam bukunya Islâm bilâ madzâhib (Islam tanpa madzhab).
Dari sinilah terjadi kesalahpahaman dalam sebagian kalangan. Mereka nisbatkan ideology para penyusup tersebut kepada Syi'ah yang mereka anggap mewakili pemikiran, kecenderungan dan ideology Syi'ah. Pada umumnya mereka menyematkan tuduhan persekongkolan dan pembusukan Islam kepada Syi'ah. Sedemikian rupa sehingga mereka berkata bahwa Syi'ah menjadi pelabuhan bagi setiap pemikiran-pemikiran yang merusak, yang bertujuan memberangus Arabisme dan Islam. Keyakinan seperti inilah yang merasuki Ahmad Amin yang kemudian diamini oleh generasi yang datang sesudahnya.
Satu hal yang patut disesalkan adalah bahwa para penulis kiwari menyandarkan tuduhan-tuduhannya kepada pendapat para penyusup dan musuh Syi'ah. Mereka tidak mau bersusah payah melakukan penelitian tentang hakekat keyakinan golongan yang ditulis melalui khazanah yang diwarisankan para tokohnya. Padahal, di era modern ini seluruh perangkat penelitian ilmiah modern telah tersedia bagi siapa saja yang ingin memperoleh kebenaran secara obyektif.
Sesungguhnya kebersihan niat adalah yang menentukan kejujuran seorang penulis. Bila syarat ini hilang, maka tiada harapan untuk munculnya obyektifitas tulisan-tulisannya. Dan, inilah yang menghinggapi para penulis kita ketika menulis tentang Syi'ah. Nah, untuk mengenal lebih jauh tentang Syi'ah dan Tasyayu' sekaligus membuktikan kebenaran atau kesalahan yang selama ini dialamatkan kepada Syi'ah. saya mengajak Anda untuk membaca buku saya yang baru terbit bertajuk Merajut ukhuwah; memahami Syi’ah. Selamat membaca.

SYIAH-SUNNAH, BERTIKAI ?

Pasca invasi Amerika ke Irak, berita tentang konflik saktarian Sunni-Syiah seolah menjadi menu wajib media massa kita. Harian Kompas dalam tajuk rencananya Sabtu 17 Maret 2007, memuat laporan triwulan Departemen Pertahanan AS khusus mengenai perang Irak yang diserahkan kepada Konggres AS. Dalam laporannya tersebut Pentagon mengakui tengah terjadinya konflik saktarian antara Sunni dan Syiah yang sudah berlangsung hampir 1.400 tahun.
Persoalanya di sini adalah benarkah konflik Sunni-Syiah di Irak terjadi semata-mata karena perbedaan madzhab? Tulisan ini ingin menyoroti pilihan kata konflik saktarian Sunni-Syiah yang selalu menghiasi media massa kita. Agar kita dapat memahami duduk persoalan yang sebenarnya terjadi di Irak.

Fenomena alami

Umat Islam, dalam memahami dan menjalankan aturan agamannya (fikih) terbagi dalam berbagai madzhab. Di dalam kelompok Sunni ada madzhab Maliki, Hanafi, Syafi'I dan Hambali yang terkenal dengan sebutan madzhab yang empat (al-madzâhib al-arba'ah). Adapun yang terkenal dan masih bertahan dalam kelompok Syiah adalah madzhab Ja'fari, Zaidi, Ismaili.
Dalam kacamata Islam, perbedaan madzhab merupakan fenomena klasik dan alami. Rasulullah sendiri bersabda, "ikhtilafu ummati rahmatun." Dalam makna lahir hadits itu berarti; Perbedaan yang terjadi diantara umatku adalah rahmat. Dalam makna bathin, kata ikhtilâf di situ bukan berarti perbedaan. Tapi, (1) Saling berkunjung dan bertukar ilmu pengetahuan antara satu dengan yang lain (2) Pulang pergi dari satu ulama ke ulama yang lain untuk beroleh ilmu pengetahuan. Bagi pendukung makna yang kedua berdalih; bagaimana mungkin ikhtilaf menjadi rahmat, bukankah yang terjadi dalam sejarah, seperti yang diperagakan oleh para sahabat Nabi, ikhtilah justru menjadi bencana?
Saya tidak akan masuk ke dalam ikhtilâf pemaknaan hadits di atas. Biarlah itu saya serahkan kepada para ahli bahasa dalam mencari makna yang pas bagi kata ikhtilaf. Namun yang jelas, dan tidak seorangpun mengingkarinya, bahwa perbedaan terjadi bahkan di saat Nabi Muhammad saaw. masih hidup sekalipun. (Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqih, 2003). Menurut Jawad Mughniyyah, seorang ulama Syi'ah Lebanon, perbedaan terjadi dikarenakan kita adalah manusia bukan karena yang satu Sunni dan yang lainnya Syiah, yang satu Syafi’I dan yang lainnya Hambali (Jawad Mugniyyah, as-syi'ah fil mizan, 1979). Perbedaan terjadi tidak hanya antara Sunni dan Syiah. Diantara madzhab yang empat sekalipun terjadi perbedaan, bahkan perbedaan yang terjadi diantara sesama madzhab Sunni terkadang lebih tajam dari perbedaannya dengan Syiah, tulis Mughniyah dalam bukunya yang lain al-fiqh 'alal madzahibil khamsah (Fikih Lima Madzhab).
Karena itu, Musthafa Syak'ah, seorang ulama cendikia Mesir, dalam bukunya Islam bila madzahib (Islam tanpa madzhab) menggolongkan Syi'ah bersama madzhab-madzhab Ahlussunah ke dalam kelompok moderat. Artinya, bagi Syak'ah, madzhab Syiah sama saja dengan madzhab yang menamakan dirinya dengan Ahlussunah wal jama'ah. Logikanya, bila Ahlussunah benar berarti Syiah juga benar. Dan bila Syiah sesat berarti Ahlussunah juga sesat. Ya to..? Makanya sesama kelompok sesat dilarang saling menyesatkan. He..he...he...

Belajar pada sejarah

Menurut Hasan al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, Mesir. "Perbedaan Sunni-Syiah terletak pada perkara-perkara yang masih bisa diusahakan pendekatan keduanya." Berangkat dari keyakinan tersebut, al-Banna bekerja keras untuk mendekatkan perbedaan kedua komunitas ini. Hasilnya, tercapailah kesepakatan penting antara dirinya sebagai representasi kelompok Sunni dengan Ayatullah Kasyani yang mewakili Syiah untuk saling memahami dan menghilangkan pertentangan Sunah-Syiah. Dan, kesepakatan inilah yang menyebabkan al-Banna dibunuh oleh antek Imperialis. Tulis al-Jubairi, murid al-Banna, dalam limadza ughtila hasan al-banna (mengapa Hasan al-Banna dibunuh).
Laporan al-Jubairi menunjukkan betapa strategisnya langkah yang ditempuh al-Banna. Terciptanya persatuan Sunni-Syiah menjadi ancaman besar bagi kaum Imperialis. Karena itu, konspirasi jahat membunuh sang Imam segera mereka rancang. Dan, dalam usianya yang bisa disebut masih muda, sang Imam syahid mewariskan tugas mulia kepada kita: menciptakan al-wihdah al-islamiyah al-kubra (Persatuan besar umat Islam).
Tugas ini kemudian dilanjutkan oleh Mahmud Syalthut, mantan Rektor al-Azhar, dengan memprakasai berdirinya Darut taqrib bainal madzahibil islamiyah (Rumah Pendekataan Antar Madzhab-Madzhab Islam). Nama ini terinspirasi oleh pernyataan al-Banna di atas, sebagai upaya pendekataan untuk menciptakan rasa saling memahami antar kedua komunitas, Sunni-Syiah.
Saya sekedar menarasikan upaya yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat, dengan beragam madzhab dan golongannya. Hal ini untuk memberikan gambaran kepada kita, umat Islam Indonesia, betapa perang yang saat ini terjadi di Irak bukanlah konflik saktarian Sunni-Syiah yang telah berlangsung selama 1.400 tahun seperti dilaporkan Pentagon di atas. Ini perlu saya tegaskan di sini. Betapa kita selama ini terjebak dalam skenario Imperialis barat (AS dan sekutunya) dalam melihat proses politik yang sedang berlangsung di Irak.
Kaum Syiah dan Sunni di Irak telah hidup berdampingan selama berabad-abad. Saling berinteraksi antara satu sama lain dengan damai. Pertentangan yang terjadi antara mereka lebih disebabkan oleh konspirasi politik kaum Imperialis yang ingin menguras minyak Irak. Akibat politik devide et impera sebagai upaya melemahkan potensi umat Islam bersatu. Tanpa bermaksud mengorbankan permusuhan HAMAS dan FATAH, yang keduanya sama-sama Sunni, mengapa media Imperialis tidak mengangkat isu konfilik saktarian antara kaum Sunni? Atau, dalam kasus Afganistan antara Taliban dengan Aliansi Utara, antara Rabbani dengan Hekmatyar, misalnya, yang juga sama-sama Sunni?

Bercermin pada Irak

Kasus Irak harus menjadi pelajaran penting bagi kita, umat Islam Indonesia. Ancaman disintregasi bangsa ada di hadapan kita. Isyu Sunni-Syi'ah tidak boleh menambah carutmarutnya wajah negri kita. Bahwa Ahlussunah sebagai madzhab mayoritas di Indonesia adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Tetapi, fakta juga membuktikan bahwa tradisi masyarakat Indonesia adalah tradisi Syi'ah. Karena itu Gus Dur menyebut masyarakat Indonesia sebagai Syi'ah kultural. Ajaran Syi'ah menjadi pilihan hidup bagi sebagian umat Islam Indonesia. Kekuatan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagian diantara mereka menggabungkan diri dalam organisasi kemasyarakatan resmi yang dilindungi oleh undang-undang negri kita. Artinya, Syi'ah telah menjadi asset bangsa yang harus dipelihara dan dilindungi, bukan dimusuhi. Tirani mayoritas harus dihindari.
Mereka yang aktif dalam gerakan Syi'ah Indonesia bukanlah Syi'ah keturunan. Mereka memilih Syi'ah sebagai jalan hidup setelah melewati laku spiritual dan intelektual yang panjang. Maka, konsekwensi dari pilihan hidup akan dihadapi dengan semangat karbala. Spirit syahadah Imam Husein menjadi inspirasi perjuangan mereka. Mengalir seperti aliran darah dalam tubuh mereka.
Karena itu, segala bentuk profokasi, fitnah yang seringkali dialamatkan kepada Syi'ah harus dihentikan. Orang yang selalu 'menyanyikan lagu' lama tentang Syi'ah, secara sadar atau tidak, sejatinya menjalankan agenda kaum Imperialis yang ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Toleransi harus ditegakkan pada bangunan umat Islam. Toleransi akan muncul dengan adanya saling memahami antara satu dengan yang lain. Dalam konteks inilah kita mesti meneruskan usaha yang telah dirintis oleh Hasan al-Banna dan Mahmud Syaltut.
Kita memberikan apresiasi kepada KH.Hasyim Muzadi, ketua PBNU, yang menggagas kerjasama Sunni-Syi'ah (Republika 24 Maret 2006). Kita berharap ide ini didukung oleh seluruh komponen bangsa. Jangan sampai berhenti pada tataran wacana saja, tetapi dapat diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat kita yang majemuk. Tokoh Sunnah-Syi'ah harus duduk bersama membicarakan beragam masalah umat, termasuk diantaranya isu-isu perbedaan Sunnah-Syi'ah dengan memakai kekuatan logika. Profokasi-profokasi yang memperkeruh suasana harus segera dihentikan. Seminar Istiqlal tahun 1997 jangan sampai terulang lagi. Para tokoh yang terlibat dalam seminar itu harus segera bertaubat menyadari kesalahannya karena telah menyebarkan fitnah keji tentang Syi'ah.
Kita harus memahami bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan dikarenakan kita adalah manusia, bukan karena yang satu Sunny dan yang lainnya Syi’iy. Apa yang dapat kita lakukan dalam menyingkapi perbedaan alamiah seperti ini adalah dengan memperbaiki kesalahan masa lalu serta melepaskan diri dari fanatisme buta, untuk kemudian menatap masa depan dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan antar sesama.





Jumat, 22 Februari 2008

Min huna nabda'; stretegi karbala di Indonesia

Perkembangan dakwah Ahlul Bait, atau yang dalam kalangan umum lebih dikenal dengan sebutan; Syiah, menunjukkan gejala positif yang patut disyukuri bersama. Peringatan Asyura dengan merek genuine Syiah, dilaksanakan secara terbuka dan mendapat liputan luas media massa, baik lokal maupun nasional. Saya sebut merek genuine Syiah untuk membedakan dengan tradisi Asyura yang telah mengakar dalam budaya, misalnya, bubur suro di Jawa, tabuik di Sumatra, serta tradisi-tradisi lain yang mengambil setting tragedi Asyura di seluruh belahan nusantara kita tercinta. Berbeda dengan pelbagai tradisi tersebut yang tidak menonjolkan label Syiah, peringatan Asyura genuine Syiah sekarang ini lebih berani mengusung beragam simbol, slogan, ritual yang menjadi ciri khas penganut Syiah di belahan bumi manapun mereka berada. Seperti, diantaranya, pembacaan maqtal, ma’tam, ziarah asyura sebagai trade mark Syiah. Hal ini menunjukkan bahwa Syiah sudah diterima sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Kalau dulu Syiah diterima masyarakat Indonesia secara, meminjam istilah Gus Dur, kultur. Sekarang sudah secara struktur. Artinya, sebagai warga negara Indonesia, penganut Syiah berhak menikmati kebebasan dalam mengekspresikan keyakinannya. Forum terbuka menghakimi Syiah seperti seminar istiqlal yang pernah di adakan oleh sebagian oknum Ulama, para perompak di jalan Tuhan, pada September 1997 yang disponsori oleh MUI sebagai corong resmi penguasa, tidak pernah terdengar lagi. Walaupun oknum-oknum Ulama yang sama saat ini masih bercokol di kepengurusan MUI pusat. Sebut saja , misalnya, Khalil Ridhwan, Musthafa Ya’kub.

Tidak seperti aliran-aliran lain yang disesatkan MUI seperti, misalnya, Ahmadiyah, JIL, Pluralisme. Agaknya MUI harus berhitung seribu kali dulu untuk menyesatkan Syiah. Bahwa Syiah adalah realitas yang harus diterima oleh masyarakat Indonesia. Karena itu tampaknya MUI maupun para perompak di jalan Tuhan yang bersembunyi dibalik Jubahnya tidak akan melakukan langkah yang sama pasca seminar istiqlal 1997, ngeluruk ke gedung bundar (KEJAGUNG) mendesak pemerintah melarang syiah di Indonesia. Mungkinkah mereka keder dengan slogan kullu yaumin ‘asyura wa kullu ardhin karbala-nya Syiah?.

Menjamurnya buku-buku Syiah di toko-toko buku, juga bisa dijadikan indikasi semakin diterimanya Syiah sebagai madzhab alternatif di Indonesia. Tak pelak, hal ini membuat para perompak di jalan Tuhan gelisah. Mereka mengkhawatirkan para ‘penumpangnya’ pindah gerbong. Meski tidak secara frontal seperti yang mereka lakukan pada seminar Istiqlal, cara mereka dalam membendung perkembangan Syiah – juga paham lain yang berbeda dengan paham mereka, semisal ahmadiyah, JIL dsb – di Indonesia semakin canggih dan membahayakan tidak saja bagi keberadaan Syiah di Indonesia, tapi juga bagi kesatuan dan persatuan bangsa kita. Fenomena melonjaknya suara salah satu partai yang mengklaim sebagai partai Islam, dalam pemilu 2004 yang lalu, tapi sangat memusuhi Syiah, harus disikapi dengan langkah antisipatif membendung pelbagai hasutan, profokasi, fitnah yang dilontarkan oleh para tokohnya, seperti, salah satunya, Hidayat Nur Wahid. Virus fitnah yang mereka sebar lebih berbahaya dari virus HIV sekalipun. Jangkauan penyebarannya pun sudah merambah seluruh pelosok Nusantara.

Bagi komunitas Syiah yang hidup di pusat-pusat atau kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, misalnya. Mungkin tidak merasakan gesekan yang begitu keras bila berhadapan dengan komunitas lain yang anti Syiah. Disamping karena kultur masyarakat urban yang berbeda dengan dengan daerah. Di pusat-pusat kota, biasanya, para pakar dan asatidz tinggal. Setiap saat siap tampil membela Syiah. Pertanyaan saya sekarang, bagaimana dengan daerah-daerah? Terlebih para “Muallaf” bila harus berhadapan dengan para oknum Kyai dan perompak di jalan Tuhan yang pinter baca kitab gundul?

Dalam penerawangan saya, virus-virus tersebut disebar ke seluruh Indonesia dengan menunggangi jaringan Gontor yang telah menyebar ke seluruh wilayah nusantara hatta yang paling pelosok sekalipun. Selain memakai gontor connection untuk kepentingan partainnya, mereka juga getol menyebarkan kebohongan dan fitnah terhadap Syiah, misi yang dibebankan oleh tuannya orang-orang Wahabi Saudi.

Dengan tanpa pengamatan yang serius pun semua orang mengetahui dengan baik, bahwa pihak-pihak yang agresif menyerang Syiah memiliki keterkaitan dengan pihak Wahabi, baik melalui jalur resmi pemerintahan Saudi, maupun LSM-LSM afiliasinya. Mereka hendak memonopoli kapling surga hanya untuk golongannya saja. Syiah, dalam pandangan mereka, tak berhak masuk surga karena made in Ibnu Saba’ sang Yahudi. Ini, diantara virus yang mereka tebar ke seluruh nusantara. Cara penyebarannya pun beragam, melalui seminar, khutbah, atau juga dengan kedok pelatihan dan pembekalan seperti yang selama ini dilakukan Hidayat Nur Wahid di pondok modern Gontor.

Siapa saja yang memiliki ghirah dalam memperjuangkan islam yang genuine di bumi nusantara ini, tidak bisa diam terus-menerus melihat serangan membabi-buta mereka. Kita tidak bisa lagi berkata “gitu saja kok repot”, “ngapain gue pikirin.” Komunitas syiah di daerah-daerah (pelosok-pelosok) yang kerepotan menghadapi serangan mereka, harus menjadi pertimbangan utama dalam menyusun strategi dakwah ahlul bait di Indonesia kita ini.

Nah, dengan melihat realitas di atas, tidak ada salahnya bila komunitas ahlul bait juga memanfaatkan jaringan gontor sebagai strategi dakwahnya di Indonesia. Adapun langkah kongkret yang, sementara ini, coba saya tawarkan sebagai berikut:

1. Menerbitkan skripsi mahasiswa ISID (Institut Studi Islam Darussalam) perguruan tinggi miliki gontor, yang isinya mendukung Syiah.

2. Menerbitkan thesis master tentang perkembangan Syiah itsna’asyariah di Indonesia yang ditulis oleh alumni gontor yang menyelesaikan studinya di al-Azhar dan sekarang sedang menyusun disertasinya tentang wilayatul faqih.

Mengapa harus GONTOR?

Mau atau tidak, kita harus mengakui bahwa gontor adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah mampu mencetak kader-kader pejuang masyarakat. Para alumninya telah tersebar di seluruh pelosok nusantara, bahkan di seluruh penjuru dunia. Sehingga ada sebuah adagium di kalangan gontorian yang berbunyi, “jarum jahit jatuh di gontor, suaranya terdengar di mesir.”

Alumni gontor juga tersebar di seluruh ormas, orsospol, maupun lembaga-lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia saat ini. Hal itu tidak lah aneh, motto gontor yang di atas dan untuk semua golongan mumbuat para alumniya mudah diterima oleh semua kelompok. Motto tersebut sejalan dengan slogan revolusi Islam yang lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah, tidak sunni tidak syi’iy. Ini seharusnya menjadi modal awal untuk bisa masuk ke gontor.

Memang, tidak usah bermimpi untuk meng-ahlul bait-kan gontor. Biarkan gontor ya’mal alâ syâkilatih, dengan tradisi dan ciri khasnya sendiri. Tapi, bila ahlul bait dapat masuk ke gontor, paling tidak, untuk sementara, dengan strategi yang saya tawarkan di atas. Taktik bertahan dan menyerang sekaligus dapat diterapkan secara berbarengan. Bertahan dari serangan Wahabi yang gencar melakukan penetrasi ke sana, sekaligus, bila diperlukan, menyerang para penyerangnya. Dengan strategi ini, kita dapat membidik beberapa sasaran dengan sebuah batu. Tujuannya untuk menciptakan al-mutasyayyi’în al-gontoriyyîn dalam menghadapi orang-orangnya Hidayat Nur W ahid yang sangat membenci Syiah.

Menilik sebuah hadits yang berbunyi kullu maulûdin yûladu ‘alal fithrah fa abawaihi yuhawwidânihi au yunashshirânih au yumajjisânihi. Maka alumni gontor dapat dianalogikan seperti madlûl hadits tersebut. Bahwa kullu ­hirrîjil gontor yûladu ‘alal fithrah fa ORGANISASILAH-LAH yang membuatnya Muhammadiyah, atau NU, atau PERSIS atau yang lainnya. Bahkan yang akan membuatnya Syiiy? Mengapa tidak menggarap gontor untuk mendakwahkan madzhab ahlul bait sebagai madzhab cinta dan persatuan?

Saat ini para kader muda gontor yang dikirim ke luar negeri telah banyak yang kembali ke almamaternya. Mereka sekarang sudah mulai memegang beberapa pos strategis dalam struktur organisasi pondok modern gontor. Dalam waktu beberapa tahun ke depan, mereka akan memegang posisi penting yang akan menentukan kebijakan-kebijakan strategis di gontor. Satu hal yang member harapan bagi kita, bahwa banyak dari para kader muda tersebut yang berpikiran terbuka, menerima semua paham, tidak terkecuali paham Syiah.

Sedikit celah yang terbuka ini harus dapat dimanfaatkan dengan baik. Jangan sampai orang-orang seperti Hidayat Nur Wahid leluasa meracuni otak anak-anak gontor dengan hasutan dan profokasinya yang membahayakan kelangsungan kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia.

Memang betul, bahwa Syiah tidak butuh pengikut. Ada ataupun tidak adanya pecinta ahlul bait, sama sekali tidak mempengaruhi keagungan dan keluhuran ajaran ahlul bait. Akan tetapi, sebagai orang yang telah mengetahui ajaran ahlul bait, kita terikat oleh titah baginda Rasul yang berbunyi fal yuballighis syâhidul ghâib. Adakah jaminan bahwa anak cucu kita dapat mengenal ahlul bait seperti kita sekarang ini?

Mengapa harus kedua buku tersebut?

Bukankah telah banyak buku-buku ahlul bait yang beredar di Indonesia? Bagi yang sudah lama mengenal ahlul bait, kedua buku tersebut, mungkin, hanya sekedar nostalgia dengan pengetahuan lama. Walaupun saya yakin banyak informasi baru ke duanya yang belum mampir ke syaraf otak hatta mereka yang sudah lama mengenal ahlul bait sekalipun, apalagi yang belum atau baru mengenalnya.

Bila kita ingin berdakwah ke komunitas tertentu, maka, cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan pribumi. Dan, kedua buku tersebut ditulis oleh orang pribumi. Maka, secara psikologis, keduanya sudah memiliki kekuatan tersendiri untuk dapat masuk ke jantung pertahanan lawan, ini bila kita asumsikan sasaran yang hendak kita tuju adalah lawan. Kemampuan untuk melakukan penetrasi ke pusat kekuatan lawan lebih dapat diandalkan. Karena sudah memahami peta kekuatannya. (che’illaaaah kayak pelatih bola saja).

Buku pertama merupakan skripsi berbahasa Arab dengan judul mashdarut tasyrî’ ‘inda madzhabil ja’fariyah. Isinya, menurut dosen yang mengujinya yang lulusan Madinah dan Pakistan, penuh dengan pembelaan terhadap syiah. Bahkan, sampai-sampai para penguji yang yang wahabi totok itu, menganggap penulisnya telah menjadi orang syiah. Sembari wanti-wanti agar tidak memilih syiah sebagai jalan hidup,” tidak mengapa kalau sekedar wacana ilmiah,” kata-kata yang sempat dilontarkan oleh penguji sebelum penulisnya meninggalkan ruang munaqasyah yang membuat hatinya ketawa geli. Padahal penulisnya sendiri bingung apakah dirinya Syiah atau bukan? Syiah dalam criteria yang disebutkan oleh Imam Ja’far, tentunya.

Sekali lagi, menurut terawangan saya, sampai saat ini, belum ada skripsi mahasiswa ISID ataupun thesis atau desertasi para kader gontor yang diterbitkan menjadi buku dan menjadi konsumsi public. Maka, bila rencana ini bisa terlaksana, akan menjadi catatan tersendiri bagi gontorian. Dan bisa menjadi kekuatan penyeimbangan bagi gerakannya Hidayat Nur Wahid di gontor.

Selain itu, skripsi tersebut sangat fenomenal di ISID. Ketika mahasiswa yang lain belum selesai menulis, bahkan masih ada yang bingung menyusun lay out. Penulisnya telah menyelesaikan skripsinya dan menantang dosen ISID untuk segera di adakan munaqasyah. Dosen ISID pun belum siap menerima tantangan penulis. “Kalau Cuma satu orang yang diuji tanggung,” kilahnya. Penulisanya pun yang ditunjuk untuk mewakili rekan-rekannya menyampaikan kata sambutan pada acara wisuda. Selain bahwa, penulisnya adalah, mungkin, satu-satunya mahasiswa yang memiliki record tersendiri dalam sejarah ISID bahkan Gontor sekalipun, setidaknya sampai saat ini.

Ataupun buku ke dua, ditulis oleh teman seangkatan penulis buku pertama di KMI (Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah) pendidikan tingkat menengah di gontor, yang menyelesaikan masternya di al-Azhar, Mesir. Beliau adalah kader yang kelak akan memegang jabatan strategis di gontor. Kita jadikan dia sebagai patner untuk mengimbangi pengaruh wahabi di sana.

Memang sudah banyak buku tentang ahlul bait yang lebih baik dari buku ini. Tapi, sebagai salah satu media dakwah, buku ini memiliki kekuatan tersendiri untuk masuk ke jantung pertahanan ‘musuh’ yang, barangkali, inilah yang membuat buku ini berbeda dari buku-buku ahlul bait yang sudah ada. Karena: -

1. Ditulis oleh alumni gontor yang bukan syiah. Sangat efektif digunakan sebagai senjata menghadapi orang-orang non syiah.

2. Selain untuk konsumsi komunitas syiah, buku ini bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas (non syiah). Dengan demikian, diharapkan dapat menembus benteng-benteng yang tidak dapat ditembus oleh lisan.

3. Menjawab beragam fitnah yang dialamatkan kepada syiah dengan logika yang berasal dari sumber rujukan penyebar fitnah. Bisa dijadikan sebagai senjata makan tuan.

4. Tepat sebagai pedoman aktifis dakwah ahlul bait, untuk dijadikan sebagai strategi bertahan dan menyerang sekaligus.

Ini sekedar catatan urun rembuk bagi kelangsungan dakwah ahlul bait di negri ini. Kalaupun toh, saat ini, belum bisa berbuat banyak untuk perkembangan ahlul bait. Paling tidak, bila Rasulullah saw menagih pemenuhan titahnya di Ghadir Khum kepada kita. Saya bisa menjawabnya dengan catatan ini.

Bila bukan kita yang memulai, lalu siapa? Kalau bukan sekarang, lalu kapan? Wa mâ ana illal balâghul mubîn.

Kampus III no 28 kircon, selasa malam 19/02/2008 jam 23:30

Senin, 18 Februari 2008

Hasan Nashrallah; Apakah dengan kematian kalian mengancam kami, wahai Israel!!






Perjuangan Hizbollah adalah contoh perjuangan sepanjang masa. Selama kedzaliman bercokol di muka bumi ini, akan lahir Mughniyah-mughniyah baru, tidak saja di Lebanon sana, tapi di seluruh tempat, dan, bisa jadi, di indonesia sini. satu Mughniyah boleh gugur karena kepengecutan Israel, tapi seribu mughniyah segera memberikan kejutan bagi Amerika dan antek-anteknya di timur tengah. kemenangan 2006 akan terulang kembali. nah, untuk mengenang kembali an-nashr al-ilahiy, demikian nashrallah menyebut kemenangan tahun 2006, saya suguhkan untuk anda pidota beliau, yang, seperti biasa, berapi-api. anda akan lebih dapat menikmati pidatonya dengan mendengarkan dan melihat langsung situs resmi hizbollah http://www.hizbollah.org/. selamat menikmati.

PIDATO KEMENANGAN 14 AGUSTUS 2006

Salam sejahtera bagi kalian, wahai manusia yang paling mulia, yang paling suci. Segala puji bagi Allah yang telah membuktikan kebenaran janji-Nya kepada kita. Yang telah menolong kita, menolong Lebanon dan rakyat Lebanon atas musuh Lebanon. Segala puji yang telah memuliakan kita, mengokohkan kita, dan membuat kita aman. Segala puji bagi Allah yang kepada-Nya kita bertawakal. Kepada-Nya kita kembali. Dan Dia selalu menjadi seperti janji-Nya, "Sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik tempat bergantung." Segala puji atas pertolongan dan bantuan-Nya.
Saudara-saudari yang terhormat,
Kalian pada hari ini, mengejutkan dunia lagi untuk ke sekian kalinya. Kalian benar-benar membuktikan bahwa kalian adalah bangsa yang besar; bangsa yang bermartabat; bangsa yang terhormat; bangsa yang gagah berani. Sejak beberapa hari terakhir, banyak orang yang memprofokasi pertemuan ini, sebagaimana sebelumnya mereka mencibir gerakan perlawanan kita. Mereka berkata bahwa medan pertemuan ini akan dibom, bahwa mimbar ini akan dihancurkan. Mereka hendak menakut-nakuti massa dan menjauhkannya dari pertemuan ini.
Kalian pada tanggal 22 September telah membuktikan dengan keberanian kalian untuk hadir pada apel kemenangan ini, bahwa kalian lebih pemberani dari 12 Juli dan lebih berani dari 14 Agustus. Memang, keberadaan saya berdiri di hadapan kalian dan di tengah-tengah kalian ini, sangat berbahaya bagi saya dan kalian. Ada beberapa pilihan lain. Akan tetapi sampai setengah jam sebelum acara ini dimulai kami masih berdiskusi hebat. Hasilnya, bahwa hati, akal, dan jiwa saya tidak mengizinkan saya untuk berbicara kepada kalian dari jauh, tidak pula melalui layar TV. Kemungkinan terjauh yang dapat diprediksi adalah bahwa musuh akan melakukan kesalahan atau kejahatan kemanusiaan. Akan tetapi, tidakkah musuh ini mengenal siapakah kita? Kita adalah putra-putra sang Imam yang berkata, "Apakah dengan kematian engkau mengancamku wahai putra Thaliq." Sesungguhnya kematian bagi kita adalah biasa dan kemuliaan kita dari Allah adalah syahadah.
Selamat datang kalian semua. Dari wilayah selatan pejuang gagah perkasa, dari lembah Beka yang kokoh dalam pertahanan sampai utara yang setia, dari Beirut sampai pinggir-pinggir kemuliaan dan kehormatan. Salam hangat dari kami untuk kalian semua dari kamp-kamp pengungsi Palestina di Lebanon.
Selamat datang kepada kalian yang datang dari Siria, Iran, Kuwait, Bahrain, dan dari negri mana saja yang mengunjungi kami untuk berkumpul di sini.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera bagi para syuhada kalian dan keluarga syuhada kalian. Salam sejahtera bagi yang cidera dari kalian dan luka-luka kalian yang terus mengalir. Salam sejahtera bagi tawanan kalian. Salam sejahtera bagi darah kalian. Salam sejahtera bagi air mata kalian. Salam sejahtera bagi yatim-yatim kalian. Salam sejahtera bagi janda-janda kalian. Salam sejahtera bagi rumah-rumah kalian yang hancur. Salam sejahtera bagi rizki-rizki kalian yang terbakar. Salam sejahtera bagi ruh-ruh kalian, tekad baja kalian yang lebih kokoh dari gunung-gunung Lebanon.
Kita sekarang berkumpul memperingati kemenangan ilahiyah yang sangat bersejarah dan strategis. Bagaimana mungkin akal manusia dapat membayangkan bahwa beberapa ribu saja anak-anak pejuang Hizbollah–kalau ingin saya sebut jumlahnya dengan pasti–bahwa beberapa ribu saja anak-anak pejuang Hizbollah selama 33 hari berada di wilayah terbuka berhadapan dengan persenjataan udara yang terkuat di wilayah Timur Tengah. Yang memiliki pesawat canggih untuk mengangkut bom-bom cerdik (Cluster) dari Amerika ke Inggris lalu ke Israel. Menghadapi 40 ribu prajurit dan tentara, melawan empat batalyon pasukan khusus dan tiga pleton pasukan cadangan. Berhadapan dengan tank paling canggih di dunia dan angkatan bersenjata paling kuat di wilayah Timur Tengah. Bagaimana mungkin bagi mereka yang jumlahnya hanya beberapa ribu saja berperang dalam medan dan kondisi yang sangat berat seperti ini berhasil mengusir kapal-kapal perang musuh dari zona perairan kita.
Di saat gerilyawan dan prajurit berhasil mengamankan perairan Lebonan dari najis Zionis, menghancurkan tank-tank Mercava kebanggaan industri persenjataan Israel, merontokkan pesawat-pesawat tempur Israel di siang dan malam hari, dan memporak-porandakan pasukan khusus. Saya tidak berlebih-lebihan, lihatlah media massa Israel menayangkan unit-unit pasukan khusus berubah menjadi segerombolan tikus-tikus yang lari ketakutan dari putra-putra kalian.
Kesampingkan rasa ke-Araban atau bukan Arab. Buang sejenak perbedaan-perbedaan kalian, singkirkan perpecahan politik yang ada di sekeliling kalian. Angkatlah solidaritas kemanusiaan tinggi-tinggi. Pikirkan bagaimana sekelompok kaum mujahidin ini berhasil mengalahkan musuh? Itu semua semata-mata karena pertolongan dan dukungan Allah swt. Pengalaman ini, pengalaman gerakan perlawanan Hizbollah harus ditrasfer ke seluruh dunia. Disamping berlandaskan iman, keyakinan, tawakal, dan kesiapan untuk mengorbankan seluruh miliknya. Tetapi juga berdasarkan akal, perencanaan, pengorganisasian, pelatihan dan persenjataan. Kami mengambil hukum sebab akibat. Kami bukanlah gerakan perlawanan ngawur. Bukan gerakan perlawanan-perlawanan. Bukan gerakan perlawanan yang hanya melihat dunia ini sebagai hamparan tanah belaka apalagi gerakan terrorist. Perlawanan kami adalah perlawanan yang berlandaskan takwa, tawakal kepada Allah, yang merindukan perjumpaan dengan-Nya, yang berselimut ma'rifatullah, gerakan yang terlatih dan terencana. Dan inilah rahasia kemenangan yang kita rayakan saat ini.
Wahai saudara saudari sekalian.
Kalian benar-benar telah membuktikan bahwa kemenangan ini butuh sikap keberanian seperti yang kalian tunjukkan saat ini. Hari ini kalian mengirimkan pesan politik yang sangat penting sekali bagi rakyat Lebanon, bagi bangsa Arab, dan bagi seluruh dunia, bagi kawan maupun lawan. Kalian telah membuat dunia tercengang dengan keteguhan kalian sebagai rakyat Lebanon dari 12 Juli hingga 14 Agustus. Mereka mempertaruhkan perbedaan dan perpecahan kita. Tapi kalian semua teguh menghadapinya. Ada yang diungsikan ada yang tetap tinggal di tempat. Dan datanglah 14 Agustus. Mereka menganggap bahwa keberadaan para pengungsi di tempat-tempat pengungsian pasti membebani kami untuk memaksakan syarat-syarat tambahan (demi keuntungan musuh). Tapi perlawanan tetap kokoh. Tidak tunduk pada syarat-syarat yang mereka buat.
Untuk kesekian kalinya, kalian benar-benar telah membuat dunia tertegun. Para pengungsi menaiki mobil-mobil, truk-truk dan sebagian lagi berjalan kaki. Dan pada jam delapan pagi wilayah Dhahiyah, Selatan, Lembah Beka penuh dengan para penghuninya yang kembali dengan kepala tegak, mulia dan terhormat.
Hari ini kalian telah membuktikan kepada dunia dan berpesan kepada orang Amerika yang belum lama ini berkata, "Telah sampai beberapa indikasi yang positif dari Lebanon, bahwa popularitas Hizbollah merosot tajam dan mulai pudar!
Inilah bangsa pejuang. Saya katakan pada orang Amerika tersebut, "Hendaknya Anda tujukan kecaman pada para penulis laporan yang tukang bohong, yang memberikan informasi-informasi salah, yang membuat prediksi-prediksi yang salah.”
Hari ini, Saya harus menyatakannya di sini. Bahwa perang ini adalah perangnya Amerika. Dengan keputusan, senjata, strategi dan komando Amerika. Dengan memberikan kesempatan demi kesempatan: satu minggu, dua, tiga, empat ….dan yang menghentikan perang adalah kelemahan Zionis. Bila kalian ingat hari-hari terakhir pertempuran. Mayoritas tank hancur pada hari Jum'at, Sabtu, Minggu. Mayoritas jumlah korban tewas dari pasukan pendudukan pada hari Jum'at, Sabtu, Minggu. Pesawat-pesawat tempur jatuh pada Jum'at, Sabtu, Minggu. Karena itu Zionis sadar, bila mereka teruskan perang akan menjadi bencana bagi mereka. Lalu masuklah Amerika menerima penghentian perang. Mereka menghentikan perang hanya untuk Israel. Dan datang untuk menjualnya kepada kita di Lebanon bahwa teman-teman kita Amerika yang menghentikan perang? Teman-teman Amerika kita dua hari pertama perang tidak menghendaki dihentikannya perang. Minggu pertama, kedua, ketiga, ke empat juga tidak mau! Bukankah telah mereka saksikan keindahan bumi Lebanon sebulan penuh. Melainkan mereka sedang berhitung. Ungkapan ini dipakai dalam sebagian jalur diplomasi. Keputusannya adalah menghancurkan Hizbollah. Setelah menghancurkan Hizbollah kemudian menyelesaikan perhitungan dengan para sekutunya dan anak-anak negri yang benar-benar merdeka di Lebanon yang telah menghentikan perang setelah anugrah Allah swt.
Putra-putra kalian adalah pejuang-pejuang sejati. Bangsa ini yang gagah berani yang menampung dan mendukung perlawanan dari seluruh perbatasan. Di masjid-masjidnya, gereja-gerejanya, perkumpulan-perkumpulannya, dan sekolah-sekolahannya; inilah yang telah menghentikan perang. Bila ada yang berhak untuk merayakan kemenangan ini mereka adalah kalian semua yang sekarang berada di sini.
Kita berdebat apakah yang terjadi di Lebanon adalah kemenangan atau kekalahan. Saya tidak ingin masuk ke dalam lingkaran ini. Tapi akan Saya katakan pada kalian, "Barang siapa yang merasa bahwa pilihannya, proyeknya, strateginya, dan pandangannya yang menang, ia merasa menang dan membicarakan kemenangannya. Dan siapa yang menganggap dirinya kalah dan gagal, akan berbicara tentang kegagalan. Kami merasa bahwa kami menang. Bahwa Lebanon menang. Bahwa Palestina menang. Bahwa seluruh bangsa Arab menang. Bahwa seluruh kaum mustadhafin dan madzlumin yang ditindas dan disakiti di dunia ini menang. Kemenangan kami bukan kemenangan Hizbollah semata. Saya ulangi apa yang telah Saya katakan di Bint Jubail 21 September 2000. Bukan kemenangan satu partai, satu kelompok, satu golongan. Ia adalah kemenangan sesungguhnya bagi rakyat Lebanon yang sejati dan bagi orang yang merdeka di dunia ini.
Kemenangan besar nan bersejarah ini jangan kalian persempit hanya pada lingkup satu partai, atau satu madzhab, atau satu golongan, atau satu negara saja. Kemenangan ini di luar batas nalar kita. Tak terbayangkan oleh akal pikiran kita. Beberapa minggu, bulan, dan tahun-tahun berikut yang akan membuktikan makna ini. Hasil langsungnya, cukup Saya katakan kepada kalian, "Bahwa perlawanan kalian dan keteguhan kalian telah menggagalkan semua agenda musuh. Dan kemenangan ini menunjukan bahwa, perlawanan dan keteguhan kalian memberikan pukulan telak bagi proyek Timur Tengah baru yang diusung oleh Condoliza rice bahwa tanggal mainnya pada bulan September tapi lahir premature karena mengandung anak yang tidak sah.
Perlawanan dan keteguhan kalian telah menyingkap kebijakan-kebijakan palsu Amerika yang berbicara tentang hak asasi manusia, kebebasan, demokrasi dan kehormatan. Perlawanan dan keteguhan kalian telah membangkitkan kesadaran melawan Amerika bukan hanya di dunia Arab saja, bukan hanya di dunia Islam saja. Tapi di seluruh dunia. Dengan perlawanan dan keteguhan kalian seseorang yang, saya anggap sebagai orang Arab yang besar dan sangat besar sekali seperti, Caves (Hugo Caves, Presiden Venezuela), kemarin berkata di sidang umum PBB, "Perlawanan Lebanon sekarang mengilhami seluruh gerakan perlawanan dunia, dan seluruh orang merdeka di dunia, dan seluruh orang mulia di dunia, mereka-mereka yang enggan tunduk dan patuh pada Amerika. Inilah kemenangan kami. Dan ini hasil perjuangan kami juga."
Perlawanan kalian sebagaimana telah mempersembahkan kemenangan tahun dua ribu sebagai contoh perjuangan kebebasan. Maka pada tahun 2006 menyuguhkan contoh keteguhan, keteguhan yang melegenda, keteguhan yang mengagumkan. Hal ini telah dan akan menjadi bukti bagi setiap orang Arab dan setiap orang Islam, bagi para penguasa dan tentara, bagi seluruh bangsa di dunia.
Kemarin, sekelompok elit dari persatuan Negara-negara Arab mendatangi dewan keamanan PBB meminta keseriusannya mewujudkan perdamaian dan penyelesaian. Kepada mereka Saya katakan, "Saya tidak berbicara tentang pelenyapan Israel kepada kalian. Saya berbicara tentang penyelesaian yang kalian inginkan. Bagaimana mungkin kalian dapat memperoleh penyelesaian yang terhormat. Sedangkan kalian, setiap pagi dan petang, selalu mengumumkan bahwa kalian tidak berperang bukan untuk kepentingan Lebanon, bukan untuk Gaza, bukan untuk Tepi Barat, bahkan bukan pula demi Yerussalem. Bagaimana mungkin kalian akan beroleh penyelesaian yang logis dan adil sedangkan setiap hari kalian menegaskan tidak akan pernah menggunakan senjata minyak. Bahkan bila ada seorang dari kalian yang berbicara tentang minyak, kalian mengejeknya. Sungguh menggelikan.
Kalian tidak ingin berjuang, kalian tidak mau memboikot, kalian tidak mau memakai senjata minyak, dan tidak mengizinkan rakyat kalian turun ke jalan. Tidak mengizinkan perlawanan Palestina mempersenjatai diri bahkan kalian mengucilkannya. Kalian tidak memberinya dana, membuat mereka lapar, menahan gaji-gaji mereka hanya demi Condoliza Rice.”
Mereka-mereka itu, bagaimana mungkin akan beroleh penyelesaian yang adil dan terhormat?
Apakah Israel benar-benar menghargai keberadaan kalian?
Saya tegaskan pada kalian bahwa orang-orang Israel sekarang memandang Hizbollah dan rakyat Lebanon dengan penuh hormat dan perhitungan. Sedangkan mereka-mereka itu (para pemimpin Arab) orang-orang hina yang tidak bernilai bahkan sekedar untuk (memperjuangkan) usulan Arab yang telah kalian sepakati di Beirut. Kalian tidak mau menggunakan senjata minyak bila mereka memaksa. Adapun anggapan bahwa kami (Hizbollah) lemah, maka rakyat Lebanon telah membuktikan pada seluruh bangsa di dunia. Perlawanan Lebanon telah mengokohkan alasan bagi setiap prajurit Arab dan Islam. Prajurit Arab dan rakyat Arab bukan saja hanya dapat membebaskan Gaza, Tepi Barat, Yerussalem Timur dengan gampang dan dengan keputusan sederhana. Dengan hanya sebagian tekad mereka dapat mengembalikan seluruh daratan dan lautan Palestina. Tapi masalahnya, ketika seseorang berada diantara dua pilihan; di antara rakyatnya dan kedudukannya, maka ia memilih kedudukannya. Antara Yerusalem dan singgasananya, ia memilih singgasananya. Antara kehormatan negrinya dan jabatannya, ia memilih jabatannya.
Keistimewaan perlawanan di Lebanon. Keistimewaan perjuangan di Palestina adalah, bahwasannya memilih martabat bangsanya, tempat-tempat sucinya, kemerdekaannya. Mempersembahkan para pemimpinnya, putra-putra terbaiknya sebagai persembahan menuju singgasana Allah swt. Hari ini, perlawanan kalian telah merobohkan gambaran tentang Israel; gambaran pasukan yang tak terkalahkan, telah kami enyahkan. Anggapan sebagai Negara yang tak dapat ditaklukkan, telah kami musnahkan.
Saya tidak berbasa-basi. Untuk membuktikan pernyataanku ini, cukup bagi kalian untuk membaca apa yang sedang berlangsung di wilayah pendudukan Palestina dan apa yang dikatakan oleh orang-orang zionis, serta apa yang menghinggapi para perwira Israel dan pemimpinnya. Inilah Olmert hari ini memprotes kita mengapa kita adakan apel kemenangan ini?
Harian terkemukan Israel, Yadiout Ahranut, mengadakan pooling pertanyaannya, "Siapa yang pantas menjadi perdana menteri Israel". Olmert memperoleh 7%. Menteri AB memperoleh 1%. Inilah Israel yang terguncang bangunan politiknya, struktur militernya dan intelejennya. Gambaran Israel hari ini telah berubah. Tidak seorangpun pemimpin Arab dan pemerintahan Arab dapat pergi memberikan konsensus-konsensus baru dan tunduk pada persyaratan yang merendahkannya, lalu berdalih di hadapan umat kita dan berkata "Kami tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Israel."
Pada suatu hari, seorang tua yang mengetahui tanda-tanda zamannya berkata, "Kalau setiap orang dari kita membawa satu ember air dan menyiramkannya ke wilayah pendudukan Palestina, Israel pasti hanyut.”
Bila satu, dua, tiga juta manusia bergerak melawan Israel. Israel pasti kalah. Beberapa ribu saja dari Lebanon dapat mengalahkan Israel.
Ya, alasan mereka (para pemimpin Arab) telah gugur. Kita sekarang harus memasuki era baru. Era dimana kita memaksakan syarat-syarat kita kepada musuh. Era kita mengembalikan kemuliaan kita, kemerdekaan kita, kemandirian kita, dan tempat-tempat suci kita.
kita pada hari ini, hari kemenangan ilahy, dan sebelum saya berbicara tentang urusan dalam negri seperti pada tanggal 12 Juli. Saya ingin menegaskan kembali dua pesan penting. Bahwa, pertama, hati kami, perasaan kami, dan kesedihan kami hari ini bersama Palestina. Bersemayam di Gaza, Ramallah, Nablus, Jericho, Jerussalem, di setiap desa dan perkemahan Rakyat Palestina yang setiap hari diserang, para pemudanya dibunuh, rumah-rumahnya dihancurkan dan dunia, diam seribu bahasa. Dunia Arab sebelum dunia lain. Sampai kapan sikap diam ini akan berlanjut, sampai kapan kalian akan memikul kehinaan ini? Tidak seorang pun meminta kalian (bangsa Arab) mengirimkan tentara-tentara kalian untuk membela bangsa Palestina? Cukup kita berikan dukungan untuk bangsa ini. Dukungan moril, politik, financial dan persenjataan. Di Palestina banyak para pemimpin (masyarakat), kaum ulama, pelbagai kelompok dan gerakan, pemuda-pemuda, sampai wanita-wanita dan anak-anak yang mampu memperbaharui mukjizat Tuhan di bumi Palestina.
Dan kedua, adalah Irak. Sebagai orang Lebanon kita harus menjadikan Irak sebagai contoh. Bila menang di Lebanon, orang-orang Amerika ingin memperluasnya ke bumi Lebanon. Dalam perang ini kita telah mempersembahkan rakyat Lebanon sebagai Syuhada, baik yang berasal dari anggota perlawanan (Hizbollah), tentara dan aparat keamanan, pertahanan sipil, palang merah, media-media, organisasi-organisasi, dan berbagai partai semuanya berasal dari rakyat kita yang tercinta. Kita telah mempersembahkan hampir seribu dua ratus syahid. Sedangkan di Irak, setiap bulan sepuluh ribu sampai lima belas ribu terbunuh dalam perang yang sia-sia yang diatur dan didanai oleh Amerika dan Mosad. Kami, gerakan perlawanan Lebanon (Hizbollah)lah yang menjaga Lebanon dari perang saudara. Sebagian orang mengatakan bahwa gerakan perlawanan Lebanon mendorong pada perang saudara. Sama sekali tidak. Justru kalau Israel menang, Lebanon pasti diseret pada kancah perang saudara. Dan kalian akan mendengar suara-suara (yang menginginkan) federasi, kantong-kantong, pembagian wilayah, dan bahasa Israel akan muncul kembali.
Irak harus selalu kita jadikan pelajaran yang berharga. Pesan kita harus sampai pada saudara-saudara kita di Irak. Sabar, tenang, bijaksana, saling berkomunikasi, dan tidak terjebak dalam isu fitnah dan menjadi gadaian musuh.
Adapun di Lebanon, misi kami adalah keselamatan kita semua. Harapan dan cita-cita kami adalah membangun Negara yang berdaulat, kuat, adil, mulia dan bersih. Inilah cita-cita kami. Dan ini, seharusnya, menjadi titik temu bagi seluruh rakyat Lebanon. Dari sini kami umumkan dan dengan darah-darah syuhada kami tegaskan: Bahwa di Lebanon ini perbincangan tentang pembagian wilayah adalah ucapannya Israel, bahwa pembicaraan tentang federasi di Lebanon adalah kata-katanya Israel. Kami, rakyat Lebanon, telah bertekad bulat dan kehendak Tuhan menginginkan kita hidup bersama dalam sebuah Negara yang berdaulat. Kita menolak negri kita dipecah dan dibagi-bagi. Landasan dasar yang memelihara persatuan Lebanon adalah membangun negri yang kuat, berdaulat, adil. Yang menjaga kedaulatan Lebanon dari ambisi-ambisi zionis. Negri yang kuat, berdaulat, adil yang menyelesaikan pelbagai krisis kehidupan dan sosial rakyat Lebanon dan mereka-mereka yang bermukim di Lebanon. Negara yang kuat, berdaulat, adil, bersih dan mulia inilah yang kami idam-idamkan dan kita semua mencita-citakannya. Kuat dan berdaulat berarti yang mampu, dan dengan terhormat, mengembalikan setiap jengkal tanahnya yang diduduki oleh musuh. Yang mampu menjaga setiap tetes air dari sungai Wizani, Litani, Hasiyani. Yang mampu menahan serangan musuh atas kedaulatannya. Yang rakyatnya dapat hidup tenang karena negaranya menjaganya dengan benar, menjaganya dengan senjata, kekuatan, akal sehat, persatuan, perlindungan, kehendak dan strategi nasional. Adapun air mata tidak bisa menjaga siapa-siapa. Kami menginginkan negara ini kuat, berdaulat, adil, bersih, dan independen yang menolak infiltrasi asing manapun. Negara yang terhormat dan mulia yang tidak tunduk pada syarat-syarat yang menghinakannya. Dan bersih, yang tidak ada tempat bagi para pencuri dan perampok. Inilah Negara yang kita butuhkan.
Inilah pintu masuk yang logis dan realistis untuk menyelesaikan masalah perlawanan rakyat. Dari sini kita berbicara tentang senjata. Untuk mereka yang selalu emosional ketika berbicara tentang senjata perlawanan (Hizbollah), saya katakan, “Jangan kalian mengobati akibat, mari kita obati sebab/sumber. Berbicaralah dengan logika sehat. Perlawanan ada karena sebab pendudukan, pembunuhan para tawanan, perampasan air, ancaman terhadap Lebanon dan serangan terhadap Lebanon. Inilah sebab-sebabnya. Selesaikan dulu sebab-sebabnya dan akibatnya dapat diselesaikan dengan mudah. Ketika kita berhasil membangun Negara yang kuat, berdaulat, dan adil yang dapat menjaga Lebanon dan rakyatnya, dengan mudah kita pasti dapat menemukan solusi yang adil untuk masalah Hizbollah dan senjatanya.
Saya ingin semua rakyat Lebanon mendengar dengan jelas, “Kami tidak mengatakan bahwa senjata ini akan terus ada selamanya, dan tidak logis bila terus ada. Senjata ini harus berakhir. Pintu masuk yang logis adalah mari kita obati sebab-sebab dan akibat akan hilang dengan sendirinya. Mari kita bangun negara yang kuat dan adil yang menjaga Negri dan rakyatnya, rezeki-rezekinya, air-airnya, dan kemuliannya. Pada saat itu kalian akan menemukan solusi masalah Hizbollah bahkan tidak butuh pada meja perundingan.
Dalam kondisi seperti yang kita saksikan saat ini, alih-alih mundur dari wilayah pertanian Seba Israel malah maju ke garis depan. Alih-alih mencari solusi garis perbatasan mereka malah maju ke depan menduduki wilayah Khiyam, Marohen, Dhahirah. Boro-boro kita dapat menggunakan hak konstitusional kita dari air sungai Wizani mereka malah memasang selang-selang dan mencuri air sungai Wizani. Apakah kondisi seperti ini dapat menjaga Negara dan sumber dayanya?
Maka dari itu saya tegaskan bahwa pembicaraan apa saja tentang pelucutan senjata Hizbollah atau penyerahan senjata Hizbollah dalam kondisi Negara seperti ini, pemerintahan korup seperti ini, dan dalam konstalasi seperti ini berarti membiarkan Lebanon menjadi sasaran empuk Israel. Dengan leluasa Israel dapat membunuh siapa saja, menahan siapa saja, dan membombardir wilayah kita, merampas tanah dan air kita. Sungguh sangat jelas, hal ini tidak mungkin untuk kita terima.
Kami tidak berperang sejak tahun 1982 dimana generasi muda kami menghabiskan masa mudanya dalam perjuangan, mereka tidak hidup dalam suasana yang nyaman, tenang dan apalagi bersenang-senang. 24-25 tahun dalam perlawanan bukan untuk menghentikannya dan Israel dengan leluasa mencaplok tanah kita, merobek-robek kehormatan kita, merampas keamanan kita, merampok air dan kekayaan kita. Tidak. Demi Allah, sekali-kali tidak. Ini adalah pilihan yang benar, realistis, dan logis bagi yang memiliki tanggung jawab nasional.
Tentang pilihan lain. Di sini, dalam apel besar ini dan dengan dihadiri oleh tokoh-tokoh yang mulia dan terhormat, di hadapan massa yang berasal dari setiap wilayah Lebanon dan tergabung dalam pelbagai aliran dan partai politik. Saya ingin mengatakan pada mereka, “Usaha untuk mengakhiri perlawanan rakyat dengan represi, boikot dan adu domba adalah usaha yang sia-sia. Usaha mengakhiri perlawanan rakyat dengan menyeret-nyeret Hizbollah untuk bentrok melawan tentara Lebanon seperti yang dipikirkan oleh sebagian kalangan, adalah usaha yang sia-sia. Ankatan bersenjata Lebanon dan Hizbollah adalah dua saudara yang saling mencintai. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Mereka-mereka yang bertaruh, baik di dalam maupun luar Lebanon dan siapa saja yang bertaruh untuk melucuti senjatan Hizbollah dengan perang baru baik versus Israel ataupun selain Israel, saya ingin mereka mendengarkan statemen mentri luar negri musuh, Livni, dan panglima perang mereka, Moshe Aretz, dan juga mentri pertahanan kabinet yang lama. Saya akan mengulangi pernyataan mereka, “Kami ingin menghancurkan Hizbollah –kata mereka– tapi kami sadar bahwa tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini mampu menghancurkan organisasi seperti itu.” Dan pada mereka Saya katakan, “Bahwa tentara mana saja di dunia ini tidak dapat melucuti senjata kami selama bangsa yang pemberani ini percaya kepada kami. Saya tidak mengancam dengan senjata. Saya telah berjanji pada bangsa ini yang telah melahirkan Hizbollah. Saya terikat oleh kata-kata seorang tua yang berdiri di antara puing-puing reruntuhan rumahnya, “Rumahku di Beirut hancur. Rumahku di Selatan juga hancur. Dan kami tetap mendukung Hizbollah bersama senjata Hizbollah.” Dan satu, dua, tiga dan masih banyak lagi yang berkata, “Bila sayid Hasan Nasrullah menyerahkan senjata berarti pengecut.” Kepada mereka Saya katakan, “Saya berjanji pada kalian semua wahai bangsaku yang pemberani dan besar, bahwa Saya tidak akan menutup hidupku dengan pengkhianatan, tetapi dengan kesyahidan.”
Semua pertaruhan tersebut hanya sia-sia. Karena di sana ada rakyat Lebanon dan ada Hizbollah yang menolak penjajahan, penghinaan, kesewenang-wenangan, dan penindasan. Dan siap sedia untuk mempersembahkan dirinya, putra-putranya, dan pemimpin-pemimpinnya demi negara. Tidak berlebihan bila Saya katakan, “Lebanon sekarang meski negara kecil di wilayah Timur Tengah, tapi menjadi kekuatan besar berkat kalian semua (rakyat Lebanon). Sangat-sangat diperhitungkan baik oleh Barat maupun Israel. Dunia madzlûmin dan mustadh’afîn melihatnya dengan penuh bangga dan hormat.
Supaya tidak ada seorang pun yang gelisah, Saya ingin mengulanginya, “Kami tidak menginginkan senjata ini terus ada sampai kiamat. Saya tegaskan sebagaimana telah kalian saksikan sendiri selama 25 tahun, senjata ini bukan untuk dalam negri dan tidak akan pernah digunakan untuk memerangi rakyat Lebanon. Ini bukan senjatanya Syi’ah saja ini adalah senjatanya Lebanon. Ini senjatanya orang-orang Islam dan Nasrani. Ini senjatanya orang-orang Suni, Druze, dan Syi’ah. Ini senjatanya semua rakyat Lebanon yang ingin melindungi Lebanon, kedaulatan Lebanon dan kemerdekaan Lebanon. Saya bersumpah pada kalian bahwa identitas dan fungsi senjata ini akan tetap seperti itu. Dan ini janji kami kepada Allah, kepada umat dan kepada para syuhada.
Jadi entry pointnya adalah membangun negri yang adil, kuat, berdaulat, mulia, terhormat, dan bersih. Meski tujuan ini sangat berat sekali dan supaya tidak berhenti hanya pada retorika belaka, saat ini kami tidak ingin mengatakan telah gagal mereka yang gagal dalam ujian dan telah berhasil mereka yang lulus dalam ujian. Saya ingin mengatakan kepada semuanya, “Meski kita berbeda, meski kita bersaing, meski secara politis dan psikologis urusan kita sangat berat sekali, kita sekarang berada dalam situasi kritis dan tidak seorang pun dapat berkata, “Kami mayoritas dan tidak ada apa-apa, semua urusan negara berjalan normal.” Perkataan seperti itu tidak lah benar.
Ada problem serius di Lebanon saat ini, khususnya pasca perang. Ada perpecahan nasional yang sangat tajam, dan tidak ada perpecahan madzhab. Perpecahan yang terjadi sekarang bukan karena pertentangan antara Sunni dan Syi’ah, atau perbedaan antara kaum Muslimin dengan kaum Nasrani, atau perselisihan antara kaum Druze, Sunni, Syi’ah dan Nasrani. Bukan. sekali-kali bukan.
Ada perpecahan politik nasional. Ada pilihan-pilihan strategis dan konsesus politik yang disepakati oleh kekuatan-kekuatan politik Syi’ah, Sunni, Druze dan Kristen. Dan ada pilihan politik lain yang disepakati pula oleh kelompok yang sama. Dan ketika sebagian dari kelompok Syi’ah ada yang keluar untuk berbeda dengan pilihan Hizbollah dan Amal, mereka mengira bahwa kami akan sedih. Tidak. Kami bahkan sangat bahagia sekali. Karena keluarnya suara lain yang mendukung posisi kelompok lain semakin mempertegas bahwa tidak ada konflik madzhab, yang ada hanyalah konflik politik.
Lihatlah kalkulasi mereka yang salah, bahkan ketika mereka ingin melukai kita merekapun memanfaatkan kita. Jadi, kita sekarang berada dalam perpecahan nasional. Seruan saya hari ini dalam apel kemenangan yang telah ditoreh oleh rakyat Lebanon dari pelbagai golongan dan wilayah, Saya ingin mengingatkan “Jangan kalian biarkan siapapun membelokkan perpecahan politik ini menjadi perpecahan madzhab dan golongan. Haram menggerakan sentimen madzhab dan golongan untuk membela kepentingan politik. Ini sama saja dengan bermain api, dapat memporak-porandakan negara. Memang dalam pilihan politik kita berbeda, bersaing, berdebat, dan saling menyerang dalam media massa, saling turun ke jalan, pergi ke kotak-kotak suara. Semua itu adalah proses yang wajar dan legal dalam demokrasi. Ini yang harus saya tekankan. Selama masih ada perpecahan politik ada bahaya yang selalu mengancam. Dan dalam menghadapinya, kelompok yang berkuasa sekarang tidak dapat bekerja dan meneruskan pemerintahannya. Pintu masuk yang logis adalah pembentukan pemerintahan persatuan nasional. Dan saya di sini, ketika berbicara tentang pemerintahan persatuan nasional, saya tidak berbicara tentang menjatuhkan seseorang, atau melenyapkan seseorang dari pentas nasional. Tetapi, sebagaimana telah saya katakan pada 25 Agustus kemarin, “Mari kita rapatkan barisan untuk melindungi Lebanon, membela Lebanon, membangun Lebanon, dan menyatukan Lebanon. Terus terang Saya katakan, “Pemerintahan sekarang tidak mampu menjaga Lebanon, tidak mampu membangun Lebanon dan apalagi menyatukan Lebanon.
Akan tetapi, ketika kami sebut ‘Pemerintahan sekarang’, bukan berarti kami ingin menghapus dan atau menggagalkan peran seseorang. Tapi kami ingin berkata, “Mari kita semua menjaga, membangun dan mempertahankan negara.” Jadi, membangun negara yang kuat, adil, berdaulat. Pertama, harus dimulai dari pemerintahan persatuan nasional. Saya di sini tidak mengangkat slogan untuk konsumsi publik. Hendaknya mereka mendengarkanku baik-baik, “Saya di sini tidak mengangkat slogan untuk konsumsi media massa, bukan untuk memotong waktu, bukan untuk mengambil hati teman-teman dan koalisi. Ini adalah proyek serius kami yang kami semua memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh di masa depan.
Kedua, dalam membangun negara yang adil, kuat dan berdaulat dimulai dengan reformasi undang-undang pemilu yang adil, yang semua golongan dan aliran politik merasa berada di hadapan kesempatan yang sama untuk memainkan peran perwakilan yang sesungguhnya, dan tidak merasa hanya mengikuti kelompok lain. Yang demikian itulah kita ingin membangun negara yang kuat, adil, berdaulat. Dan inilah entri point untuk menyelesaikan segala problem nasional. Dari sini, kita baru bisa mulai berbicara tentang pelbagai tantangan dan masalah lainnya dengan mudah. Mengenai soal senjata Hizbollah, ada persaoalan terkait dengan kondisi saat ini.
Mereka datang untuk memblokade perairan Lebanon untuk siapa? Apakah untuk menjaga kedaulatan Lebanon? Tidak. Sekali-kali tidak. Konselir Jerman, Angel Merkel, berkata, “Kapal perang Jerman menjalan peran bersejarah untuk melindungi hak keberadan Israel.” Dari laut mereka kemudian ingin memblokade udara kita dan garis perbatasan kita.
Saya katakan pada mereka, “Kepunglah kami, tutuplah perbatasan, laut dan udara kami. Itu semua, sedikitpun tidak akan melemahkan kami. Tidak tekad Hizbollah, tidak pula senjata Hizbollah. Kami telah berperang selama 33 hari dan kami siap untuk sebuah perang panjang. Apa yang telah kami persembahkan hanya bagian sedikit dari kemampuan kami. Ketika di Bint Jubail saya katakan, “Kami memiliki 12 ribu rudal. Sekarang kami ralat, 12 ribu bukan berarti kami memiliki 13 ribu rudal. Mungkin jumlahnya lebih banyak dari itu.
Hari ini saya ingin berkata kepada mereka yang hendak menutup laut, udara, darat, dan perbatasan juga kepada musuh, “Hizbollah memiliki lebih dari 20 ribu rudal. Dan beberapa hari ke depan, setelah kemenangan perang kemarin, Hizbollah mampu membangun kembali struktur militernya, organisasinya, dan persenjataannya. Hizbollah sekarang lebih kuat dari sebelum 12 Juli. Karena dalam perang kemarin berhasil menggandakan pengalaman dan memperbaharui tekadnya. Siapa saja yang bertaruh atas kelemahan Hizbollah, padanya saya tegaskan sekali lagi, “Anda salah perhitungan. Hizbollah sekarang lebih kuat dari 22 juli 2006, lebih kuat dari waktu sebelum-sebelumnya sejak tahun 1982.”
Kedua, masalah tawanan. Putra-putra kalian yang ditawan musuh, insya Allah, akan kembali semua. Saya, atas nama Hizbollah telah berjanji pada kalian pada 12 Juli, dan Saya katakana lagi pada kalian sekarang demi para prajurit Allah bukan demi Saya dan ayahku. Dengan nama para pejuang Saya katakan pada kalian, “Meski perang meletus mereka tidak dapat menukar dua tawanan ini selain dengan perundingan tidak langsung dan tukar menukar tawanan. Dan setelah 12 Juli perang berkecamuk sengit, kalian tetap kokoh. Dan tawanan tetap pada kami. Mereka tidak akan dilepaskan kecuali dengan kembalinya para tawanan yang kami minta mereka dibebaskan dan dikembalikan. Kami dan semua orang sepakat dengan masalah ini.
Tiga, tanah pertanian Seba dan Talal Kufr Souba, setelah dikeluarkannya resolusi yang tidak adil para utusan dari wilayah yang indah dan sabar ini datang mencemaskan keberadaan mereka di wilayah perbatasan. Kepada mereka saya tegaskan, “Tidak akan pernah terjadi pengosongan aktifitas Hizbollah dari tanah pertanian Seba dan Talal Kufr Souba, dan tidak seorangpun akan membiarkan sejengkal tanah Lebanon diduduki.”
Dalam perang kemarin dan melalui beberapa kali perundingan, sebenarnya ada kesempatan emas untuk membebaskan tanah pertanian Seba, hampir-hampir Amerika setuju bahkan telah setuju. Kemudian, seperti kebiasaannya, mereka datang lagi mengingkari kesepakatan awal. Menurut mereka, “Saat ini tidak bisa menyerahkan wilayah pertanian Seba ke Lebanon. Mengapa? Karena kami tidak ingin memberikan kemenangan kepada Hizbollah.
Saya katakan kepada mereka, “Kembalikan ia kepada siapa yang kalian inginkan, berikan kemenangan kepada yang kalian suka, akan tetapi kembalikan Seba kepada yang berhak.” Sebenarnya, selama perang kemarin bila ada keinginan politik yang sungguh-sungguh, persatuan politik yang sungguh-sungguh, dan perlawanan politik yang saling melengkapi, kita pasti berhasil mengembalikan tanah pertanian Seba dan Talal Kufr Souba. Akan tetapi Saya tegaskan pada kalian bahwa tanah pertanian Seba dalam usaha pembebasan. Banyak pelanggaran dilakukan Israel. Memang, ada pemerintahan, tentara Lebanon dan pasukan UNIFIL yang jumlahnya mencapai lima ribu di sana. Dulu, ketika Hizbollah berada di garis perbatasan setiap pelanggaran perbatasan walau hanya beberapa meter saja pasti segera dipukul mundur dan musuh lari terbirit-birit. Tapi sekarang, wilayah perbatasan menjadi terbuka, mereka (musuh) bebas keluar masuk ke mana saja mereka suka. Yang selama ini berjalan tidak ada hubungannya dengan tentara Lebanon. Tentara Lebanon memiliki keberanian, tekad, dan semangat nasionalsme. Para perwira dan tentaranya bersaudara dengan Hizbollah. Tidak ada beda antara mereka. Masalahnya terkait dengan keputusan politik. Apakah rezim berkuasa akan merubah tentara Lebanon menjadi satuan penghitung pelbagai keluhan dan penulis pelbagai pelanggaran perbatasan. Ini sangat memalukan bagi tentara kita. Tentara pasti tidak rela sebagaimana rakyat juga tidak rela tentara kita diperlakukan seperti itu. Tentara kita ditempatkan di sana bukan untuk duduk di perbatasan dan menghitung pelanggaran-pelanggaran Israel seperti pasukan PBB yang ditempatkan di sana sejak 1972. Tugas tentara kita yang pergi ke selatan dan dengan keputusan pemerintahan Lebanon; mempertahankan kedaulatan negara, melindungi keamanan rakyatnya dan sumber alamnya. Dan sekarang, negri kita kedaulatannya dilanggar, tanahnya dirampas, rakyatnya diculik setiap waktu, mereka diserang juga tanah-tanah pertanian mereka. Apa keputusan politik pemerintah?
Sampai sekarang kami masih bersabar, karena kami tidak ingin mencatatkan pelanggaran terhadap keputusan PBB no 1701 yang tidak adil itu. Karena kami sadar bahwa pelanggaran apa saja yang kita lakukan, meski sangat kecil sekali dan sebagai bentuk pembelaan legal, dunia pasti tidak berhenti berteriak. Padahal Israel, sejak gencatan senjata, telah melakukan ribuan kali pelanggaran dan dunia, diam seribu bahasa. Tapi percayalah, kami tidak akan bersabar untuk waktu yang lama. Bila Negara dan pemerintahannya tidak mampu melindungi tanah dan rakyatnya. Maka rakyat Lebanon akan melaksanakan tugas ini sebagaimana telah dilakukannya sejak tahun 1982.
Untuk Zionis Israel Saya katakan, “Bila ada seseorang yang memberikan jaminan keamanan pada kalian, Saya tidak kenal. Dan bila ada seseorang yang memberikan jaminan tersebut baik di bawah atau di atas meja perundingan, jaminan ini adalah urusanya. Tidak ada hubungannya dengan perlawanan di Lebanon (Hizbollah) juga rakyat Lebanon.
Jadi, yang diminta adalah mari kita satukan tekad dan semangat nasionalisme untuk berdiri di belakang tentara Nasional kita. Mendukung mereka dan mempersiapkan dengan sebaik-baiknya agar menjadi penjaga kedaulatan negara, pelindung desa-desanya, para petani dan tanah-tanah pertaniannya, gereja-gerejanya, masjid-masjidnya, dan bukan menjaga orang lain.
Untuk pasukan UNIFIL, “Kami menyambut kalian dengan senang hati. Saya ulangi lagi ucapan selamat datang kepada kalian dalam rangka tugas yang jelas. Tugas kalian adalah membantu tentara Nasional Lebanon dan bukan memata-matai Hizbollah atau melucuti senjata Hizbollah. Inilah yang dikatakan oleh tuan Sek Jend, Kofi Annan, juga beberapa pejabat teras PBB yang lainnya. Sampai saat ini Saya tidak mendengar dari satu negara pun yang berpartisipasi dalam UNIFIL bahwa mereka mengirim anak-anak dan pasukan mereka untuk mempertahankan Lebanon dan rakyat Lebanon. Mereka malu kepada kita untuk mengatakan mereka datang untuk membela kita, tapi pembicaraan mereka tentang membela Israel. pasukan UNIFIL kami sambut dengan tangan terbuka selama komitmen dengan tugasnya. Saya mengajak para pemimpin pasukan multinasional di Lebanon untuk berhati-hati. Karena Saya mendengar beberapa informasi dan indikasi ada sebagian orang yang ingin menarik pasukan ini pada konflik melawan Hizbollah. Saya juga mendengar bahwa dalam beberapa pertemuan ada yang berkata bahwa keberadaan pasukan multinasional akan mengembalikan perimbangan kekuatan dalam negeri Lebanon. Kata-kata seperti ini sangat berbahaya. Pasukan multinasional datang untuk tugas yang terbatas. Tidak boleh turut campur dalam urusan dalam negeri Lebanon.
Berkenaan dengan pelbagai statemen politik, kami tidak ingin masuk dalam perang komentar dengan siapa saja dalam periode perang. Kami banyak mendengar komentar-komentar yang menyakitkan. Kami diam. Kami sabar. Dan setelah selesai perang, komentar-komentar tersebut masih terus muncul. Pelbagai serangan dan tuduhan terus ditujukan kepada Hizbollah. Ada beberapa statemen yang tidak bisa ditolerir. Selama perang, kami masih bisa bersabar atas pelbagai statemen politik yang menyakitkan itu. Akan tetapi, setelah perang usai, komentar-komentar tersebut tidak dapat ditanggung oleh selain para Nabi. Dan kami bukan Nabi.
Bila ada satu dua orang berkomentar negatif, kami dapat memahaminya. Tapi bila satu kekuatan politik dengan segala instrumennya; para wakilnya di parlemen, para ketuanya, corong politiknya, para anggotanya berkoar-koar kepada rakyat Lebanon bahwa perang yang terjadi di Lebanon adalah perangnya Iran untuk kasus nuklir Iran dan untuk menghentikan pengadilan internasional. Sungguh! kami tidak bisa memberikan toleransi terhadap komentar murahan seperti itu. Dengan segala kebanggaan kami atas hubungan dan persahabatan kami dengan Republik Islam Iran dibawah kepemimpinan Rahbar Sayid Ali Khamanei. Dan dengan kebanggaan hubungan kami dengan pemimpin dan rakyat Siria. Kami adalah gerakan independen, tidak ada hubungannya dengan ini itu dalam perang ini. Dan masa lalu kami lebih banyak menjadi bukti atas masa lalu mereka (yang menuduh).
Sejatinya mereka harus berkata bahwa perang ini yang memulai adalah Amerika dan Israel. Menurut Condoliza Rice ini adalah pilihan yang sangat sulit untuk menciptakan Timur Tengah yang baru. Menurut Olmert dan Perez hasil akhirnya adalah rumah-rumah kita hancur, anak-anak kita terbunuh, dan kami akan dibunuh dalam perang tersebut. Menurut Arab ini adalah perang ke enam. Menurut Zionis ini baru permulaan. Dan hasilnya, Kami berperang –menurut mereka– karena masalah nuklir Iran dan untuk menghentikan proses pengadilan internasional. Sungguh ucapan seperti itu sangat memalukan dan penuh dengan teka-teki.
Kami sangat menghormati siapa saja yang menasehatiku dan jubah ini, “Duhai Sayyid, Jangan ikut-ikutan berkomentar, biarlah para Pemuda dan pejabat teras lain saja yang berkomentar.”
Akan tetapi ada batas untuk bersabar bahkan diriku sekalipun. ‘amâmah(sorban yang menutup kepala)ku dan Janggutku tidaklah lebih mulia dari perlawanan ini dan mereka-mereka (rakyat Lebanon). Bila ‘amamahku dan janggut memiliki kehormatan, itu berasal dari kalian, dari perlawanan ini, dan dari darah para syuhadanya.
Saya mengajak kita semua untuk berhenti berkomentar dan menghindari kata-kata murahan yang menyakitkan. Mari kita berpacu dalam persaingan politik yang sehat dan logis. Karena, pada akhirnya, tujuan kita adalah, satu; sama-sama membangun Lebanon. Akan tetapi Saya, Hasan Nashrullah, sekali-kali tidak akan diam melihat penghinaan terhadap rakyat, para para pejuang sejati.
Beberapa hari yang lalu, salah seorang tokoh pemimpin kekuatan 14 Februari berdiri dan berkata, “Jangan biarkan seseorang yang berkata ‘massa Hizbollah tidak berpikir,’ melenggang dengan tenang.”
“Apakah kalian tidak berpikir?”
“Siapa yang menerima penghinaan ini?”
Saya menghormati massa Hizbollah, pemuda-pemudanya dan wanita-wanitanya. Saya juga menghormati pilihan-pilihan mereka bila untuk kepentingan nasional. Kami tidak mungkin menerima seseorang menghina massa Hizbollah. Ia harus meminta ma’af .
Kami tidak menginginkan politikus ambisius yang menghendaki kami keluar dari proses politik nasional. Kami terikat dengan komitmen. Kami bagian dari negara ini. Berperan dalam membangun dan mendirikan negara ini. Tetapi kami memiliki kehormatan. Kehormatan kami di atas segala-galanya. Tidak mungkin kami biarkan seseorang merusak kehormatan kami untuk membangun rumah kami yang telah hancur demi kehormatan kami. Jangan ada yang beranggapan dapat mengenyangkan perut kami dengan mengorbankan kehormatan kami. Telah kami persembahkan darah kami demi kemuliaan kami, inilah kami.
Dalam kesempatan ini saya mengajak semua pihak untuk kembali tenang dan berpikir. Kita akan menghadapi bulan Ramadhan yang mulia. Semoga Allah mengembalikan kebaikan kepada seluruh rakyat Lebanon. Dan kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kita untuk menjalankan puasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan baik. Semoga, bulan ini menjadi kesempatan untuk berpikir dan merenung, kembali kepada Dzat-Nya, serta melihat kebenaran yang sesungguhnya. Keluarlah dan lihatlah kebenaran, agar semuanya menjadi jelas. Dan janganlah kalian membangun urusan kalian di atas perhitungan yang salah.
wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh